Bagaimana sebuah ikhlas dipertanyakan?
Ilmu keikhlasan sering saya jumpai. Boleh dibilang ini ilmuyang paling susah setelah ilmu bahasa. Mendefinisikan sebuah ikhlas tentu tidak jauh dari peran serta jiwa besar di dalamnya. Mengikhlaskan sesuatu, dalam ajaran Islam, sangat-sangat berat dan memerlukan suatu daya “nrimo” yang lapang, luas, dan tanpa pamrih. Mengajak hal-hal yang bertentangan dengan pikiran, hati, dan emosi untuk memberi kesempatan terhadap jiwa untuk memberikan suaranya.
Ikhlas berarti mempercayai bahwa Tuhan akan memberi kita sesuatu yang lebih baik, lebih banyak, dan lebih berharga dari yang sebelumnya. Padahal ada jiwa yang kadang begitu sulit untuk ikhlas/mengikhlaskan sesuatu, sehingga ada suatu dilema yang ujung paling mengerikan adalah tidak percaya lagi pada Tuhan.
Tentu hal barusan bukan ikhlas namanya.
Ikhlas itu tulus, tak terperi, mampu mengatakan “Yo wes, meh piye neh???” (“Ya sudah, mau apa lagi?”
Seakan-akan hal itu adalah pilihan hidup dan mati yang hanya terjadi 1x di dunia!
Seakan-akan pemberi kuasa tidak mengijinkan kita untuk menghirup udara kedua dan ketiga setelah hal tersebut terjadi! Sesungguhnya, siapakah itu yang ironis dan licik?
Ikhlas bukan membutuhkan mata, apalagi hati.
Ikhlas adalah mempercayai bahwa dengan merelakan sesuatu, kita akan lebih bahagia, lebih indah. Secara teoritik yang munafik.
Apa mampu kita bahagia dengan luka menganga, hati hancur berkeping-keping, dan jalan terseok-seok?
Tentu sulit.
Tapi dengan sebuah ikhlas, itulah hal yang membuat penderitaan tersebut justru menjadi lebih indah. Sangat indah. Dan di sini peran Tuhan akan menjadi anugerah, bukan sekedar pencabut kebahagiaan.
Just ordinary blog.. about my life, my thoughts, my philosophy, my words at poems.
Selasa, September 15, 2009
REVISI PAHLAWAN
Aku masih duduk terpaku di trotoar Pahlawan.
Mencoba menyadari semua yang lewat.
Tanpa kutahu, alam tak ramah lagi.
Merunduk dan menangis,
selalu sakit perasaan ini.
Aku bertahan,
mengumpulkan serpih kesedihan dan semangat
yang aku sendiri tak tahu tercecer di jalan apa.
Aku lupa nama jalan itu.
Aku bahkan lupa bagaimana sebuah kesedihan bisa menyerpih, hilang.
Barangkali ada toko yang menjual semangat?
Kadang ada saat sebuah semangat mendapat sebungkus kesedihan.
Aku tidak memilih yang itu.
Aku akan membeli sebuah semangat yang terkemas dan terpajang apik di etalase.
Dan aku berusaha tak melirik sebungkus kesedihan yang didiskon besar-besaran di pojok etalase itu.
Hm…
Hanya nanti, lewat tengah maghrib, akan kubeli dan kupakai menuju kedewasaan otakku!
Ssstt…
Yang tadi rahasiaku denganmu!
Jangan katakan pada siapapun!
Mungkin akan kuberikan bonus kesedihan itu kepada yang belum merasakannya.
Kubenahi dudukku
Sampai, akhirnya, kupindahkan bokongku ke sudut sore yang sepi.
Tanpa ramai, tanpa kata.
Peluh, seperti biasanya, masih menyelimuti tubuhku.
Tubuhku, seperti biasanya, tak tertutup selembar selimutpun.
Aku, seperti biasanya, masih merancukan kata.
Aku, seperti biasanya, masih tak memahami kata-kata.
Aku,
serpihan sedih,
dan semangat.
Masih saling berkejaran di Simpang Lima .
Tanpa peduli kata-kata yang merecoki hidupku!
Mencoba menyadari semua yang lewat.
Tanpa kutahu, alam tak ramah lagi.
Merunduk dan menangis,
selalu sakit perasaan ini.
Aku bertahan,
mengumpulkan serpih kesedihan dan semangat
yang aku sendiri tak tahu tercecer di jalan apa.
Aku lupa nama jalan itu.
Aku bahkan lupa bagaimana sebuah kesedihan bisa menyerpih, hilang.
Barangkali ada toko yang menjual semangat?
Kadang ada saat sebuah semangat mendapat sebungkus kesedihan.
Aku tidak memilih yang itu.
Aku akan membeli sebuah semangat yang terkemas dan terpajang apik di etalase.
Dan aku berusaha tak melirik sebungkus kesedihan yang didiskon besar-besaran di pojok etalase itu.
Hm…
Hanya nanti, lewat tengah maghrib, akan kubeli dan kupakai menuju kedewasaan otakku!
Ssstt…
Yang tadi rahasiaku denganmu!
Jangan katakan pada siapapun!
Mungkin akan kuberikan bonus kesedihan itu kepada yang belum merasakannya.
Kubenahi dudukku
Sampai, akhirnya, kupindahkan bokongku ke sudut sore yang sepi.
Tanpa ramai, tanpa kata.
Peluh, seperti biasanya, masih menyelimuti tubuhku.
Tubuhku, seperti biasanya, tak tertutup selembar selimutpun.
Aku, seperti biasanya, masih merancukan kata.
Aku, seperti biasanya, masih tak memahami kata-kata.
Aku,
serpihan sedih,
dan semangat.
Masih saling berkejaran di Simpang Lima .
Tanpa peduli kata-kata yang merecoki hidupku!
Jumat, September 04, 2009
Menyoal Keseriusan Pekerja Outsourcing
Menyoal Keseriusan Hak Pekerja Outsourcing
Pengaruh globalisasi yang mengidolakan instanisasi menyebabkan adanya perubahan pola hubungan kerja. Baik dari sisi pekerja atau pengusaha sendiri. Desakan persaingan global membuat perusahaan menambah metabolismenya, sehingga hak pekerja dipertanyakan keseriusannya. Pekerja dituntut mengerahkan tenaganya tanpa mengingat hak yang sepatutnya diterima. Cerita lama, pekerja selalu kalah dalam hal berselisih dengan pengusaha.
Pekerja outsourcing dalam memperoleh haknya, sangat tidak sebanding berimbang dengan pekerja tetap pada sebuah perusahaan. Kebijakan memahami hak pekerja outsourcing masih nyata terlihat belum terpenuhi. Sebelum membicarakan tentang hak pun, keberadaan mereka di perusahaan masih rancu dalam hal pekerjaan mana, maksudnya kerancuan pembagian kerja hingga pemberian perintah masih menyudutkan pekerja outsourcing yang di mana mereka tidak seharusnya mengerjakan pekerjaan yang bukan kewajibannya. Pekerja outsourcing, lama kelamaan disamakan kewajibannya dengan pekerja tetap, namun tidak pada hak-haknya.
Upah dan fasilitas kerja seperti tunjangan dan subsidi tidak didapat oleh pekerja outsourcing. Bahkan jaminan kecelakaan kerja diberikan oleh Jamsostek, bukan perusahaan di mana ia bekerja. Keseriusan hak pekerja outsourcing memang patut dipersoalkan, mengingat hal di atas. Belum lagi ujung akhirnya jika hal ini dibiarkan terus mengalir, kesenjangan antara pekerja tetap dan pekerja outsourcing, masihkah dapat menimbulkan ketentraman mereka? Perbedaan tingkat kesejahteraan antara mereka jelas terlihat.
Perluasan dan perkembangan produk outsourcing mengakibatkan makin kecilnya jumlah anggota lembaga penaungan pekerja/buruh (Serikat Buruh). Kelemahan di sektor ini yang semakin membuat posisi pekerja outsourcing menipis karena mereka dituntut menaati hukum pabrik yang kaku, universal, individualistis tanpa pengayoman perusahaan dan Serikat Buruh.
Tulisan ini diharapkan bahwa memang hak-hak pekerja outsourcing belum terpenuhi secara maksimal. Oleh karena itu betapa perlindungan dan pengayoman terhadap pekerja outsourcing harus diperjuangkan. Pekerja tidak boleh hanya terpaku dan bergantung pada tuntutan namun juga pada keberadaan hak yang mesti diperolehnya.
Pengaruh globalisasi yang mengidolakan instanisasi menyebabkan adanya perubahan pola hubungan kerja. Baik dari sisi pekerja atau pengusaha sendiri. Desakan persaingan global membuat perusahaan menambah metabolismenya, sehingga hak pekerja dipertanyakan keseriusannya. Pekerja dituntut mengerahkan tenaganya tanpa mengingat hak yang sepatutnya diterima. Cerita lama, pekerja selalu kalah dalam hal berselisih dengan pengusaha.
Pekerja outsourcing dalam memperoleh haknya, sangat tidak sebanding berimbang dengan pekerja tetap pada sebuah perusahaan. Kebijakan memahami hak pekerja outsourcing masih nyata terlihat belum terpenuhi. Sebelum membicarakan tentang hak pun, keberadaan mereka di perusahaan masih rancu dalam hal pekerjaan mana, maksudnya kerancuan pembagian kerja hingga pemberian perintah masih menyudutkan pekerja outsourcing yang di mana mereka tidak seharusnya mengerjakan pekerjaan yang bukan kewajibannya. Pekerja outsourcing, lama kelamaan disamakan kewajibannya dengan pekerja tetap, namun tidak pada hak-haknya.
Upah dan fasilitas kerja seperti tunjangan dan subsidi tidak didapat oleh pekerja outsourcing. Bahkan jaminan kecelakaan kerja diberikan oleh Jamsostek, bukan perusahaan di mana ia bekerja. Keseriusan hak pekerja outsourcing memang patut dipersoalkan, mengingat hal di atas. Belum lagi ujung akhirnya jika hal ini dibiarkan terus mengalir, kesenjangan antara pekerja tetap dan pekerja outsourcing, masihkah dapat menimbulkan ketentraman mereka? Perbedaan tingkat kesejahteraan antara mereka jelas terlihat.
Perluasan dan perkembangan produk outsourcing mengakibatkan makin kecilnya jumlah anggota lembaga penaungan pekerja/buruh (Serikat Buruh). Kelemahan di sektor ini yang semakin membuat posisi pekerja outsourcing menipis karena mereka dituntut menaati hukum pabrik yang kaku, universal, individualistis tanpa pengayoman perusahaan dan Serikat Buruh.
Tulisan ini diharapkan bahwa memang hak-hak pekerja outsourcing belum terpenuhi secara maksimal. Oleh karena itu betapa perlindungan dan pengayoman terhadap pekerja outsourcing harus diperjuangkan. Pekerja tidak boleh hanya terpaku dan bergantung pada tuntutan namun juga pada keberadaan hak yang mesti diperolehnya.
Antara Berbicara, Berbuat, dan Nalar
Antara berbicara dan berbuat, tentu orang lebih suka berbuat. Karena dengan berbuat, seseorang dapat menunjukkan langsung kemampuannya tanpa panjang lebar. Ketua BEM saya pernah berkata bahwa sedikitlah berbicara, banyaklah berbuat.
Orang sering dianggap tidak mampu berbuat apa-apa jika hanya banyak bicara.
Tapi menurut saya ada satu hal yang kita lewatkan dari 2 hal tersebut. Menurut saya, hal menalar ialah yang paling penting sebab kita ketahui sebelum orang berbicara tentu dia lebih dahulu berpikir.
Berpikir adalah yang utama, tanpa berpikir, orang tidak akan dapat berbicara dan berbuat dengan baik. Dengan berpikir menggunakan nalar tentunya, orang dapat menggunakan hatinya dengan baik. Hati. Bukan perasaan. Hati dan perasaan itu berbeda.
Ketika menggunakan nalarnya, seseorang menggunakan otak logika, di mana semua kembali pada apa, mengapa, siapa, bagaimana. Keempat hal itu saling berkaitan erat. Tidak pernah lepas dari sangkarnya. Menggunakan otak, menggunakan hati, menggunakan pikiran, menggunakan ilmu, sehingga orang tersebut mampu berbicara dan berbuat.
Tapi jangan sekali-kali menggunakan teori seseorang untuk dinalar. Pakai saja kemampuan otak kita sendiri untuk membuat sebuah teori. Karena dari teori yang berasal dari diri kita inilah yang menuntun orang mampu mengenal prinsip hidup dan pribadi kita.
Dari teori orang dapat mengerti kita tanpa kita berbicara bahkan berbuat terlalu banyak...
Pertanyaan terakhir, mampukah seseorang mampu bepikir menggunakan nalarnya tanpa menggunakan kata? –donydanardono-
Kepada Saya
Anda boleh menulis puisi
Untuk atau kepada siapa saja
Asal jangan sampai lupa
Menulis untuk atau kepada saya
Siapakah saya? Saya adalah kata
Joko pinurbo2006
Orang sering dianggap tidak mampu berbuat apa-apa jika hanya banyak bicara.
Tapi menurut saya ada satu hal yang kita lewatkan dari 2 hal tersebut. Menurut saya, hal menalar ialah yang paling penting sebab kita ketahui sebelum orang berbicara tentu dia lebih dahulu berpikir.
Berpikir adalah yang utama, tanpa berpikir, orang tidak akan dapat berbicara dan berbuat dengan baik. Dengan berpikir menggunakan nalar tentunya, orang dapat menggunakan hatinya dengan baik. Hati. Bukan perasaan. Hati dan perasaan itu berbeda.
Ketika menggunakan nalarnya, seseorang menggunakan otak logika, di mana semua kembali pada apa, mengapa, siapa, bagaimana. Keempat hal itu saling berkaitan erat. Tidak pernah lepas dari sangkarnya. Menggunakan otak, menggunakan hati, menggunakan pikiran, menggunakan ilmu, sehingga orang tersebut mampu berbicara dan berbuat.
Tapi jangan sekali-kali menggunakan teori seseorang untuk dinalar. Pakai saja kemampuan otak kita sendiri untuk membuat sebuah teori. Karena dari teori yang berasal dari diri kita inilah yang menuntun orang mampu mengenal prinsip hidup dan pribadi kita.
Dari teori orang dapat mengerti kita tanpa kita berbicara bahkan berbuat terlalu banyak...
Pertanyaan terakhir, mampukah seseorang mampu bepikir menggunakan nalarnya tanpa menggunakan kata? –donydanardono-
Kepada Saya
Anda boleh menulis puisi
Untuk atau kepada siapa saja
Asal jangan sampai lupa
Menulis untuk atau kepada saya
Siapakah saya? Saya adalah kata
Joko pinurbo2006
Teror Berakibat Makin Banyak Homo Homini Lupus
Teror berakibat makin banyak Homo Homini Lupus.
Aksi teror bom yang ditebar kawanan “X” yang kita belum tahu siapa itu pada beberapa hari lalu di Jakarta (J.W. Marriot dan Ritz Carlton) membuat banyak akibat di semua kalangan. Kejahatan terhadap nyawa, psikis seseorang, hingga perekonomian dunia internasional menjadi semrawut. Nyawa, sudah pasti melayang akibat bom tersebut. Dalam 1 menit nyawa 9 orang melayang dengan sangat cepat, dahsyat, luar biasa!
Yang tidak meninggal tentu harus bersyukur meskipun bentuk raga juga tak karuan rasanya. Luka-luka, luka batin, luka psikis, luka jiwa, atau apalah namanya, menimbulkan perasaan was-was, takut, serta tidak nyaman seseorang. Di semua kalangan! Tidak hanya Presiden yang geram dan mengutuk keras aksi teror bom tersebut, jejeran artis hingga masyarakat biasa (seperti saya tentu saja) juga merasakan hal itu. Benar ‘kan? Jangan munafik. Akuilah hal itu memang sedang Anda rasakan. Siaran media massa non-stop memberitakan cerita ini. Mengerikan! Yang pertama ada dalam pikiran kita : siapakah yang tega melakukan hal ini? Yang kedua adalah bagaimana ‘sih pemikiran pengebom itu? Rasanya mustahil di telinga kita yang setiap saat dihadapkan pada fakta-fakta baru tentang pasca pengeboman. Hidup selalu untuk memilih, dilema yang sarkastis! Menghadapi polemik-polemik membosankan sekaligus menantang!
Sedangkan kehidupan itu kejam. Tertawalah sebab seluruh dunia akan tertawa denganmu tapi jangan kamu menangis, sebab kamu akan menangis sendirian.
Ketika saya mendapat pelajaran Sosiologi, saya belajar utnuk memahami tiap kata Satjipto Rahardjo, guru besar Sosiologi di Universitas Diponegoro. Ya, tiap kata yang terdapat di tiap kalimat yang dilontarkan beliau ini! Untuk memahami kalimat yang diucapkannya memang tidak mudah, maka saya mempelajarinya tiap kata. Jika penafsiran saya benar mengenai kalimatnya, saya juga hendak memahami kalimatnya yang sering tertuang dalam definisi-definisinya mengenai kosa kata beliau. Tentu hal ini sangat tidak mudah. Pemikiran tajam beliau ini kadang sangat susah dipahami. Sosiologi kerap saya temui di manapun saya berada. Mempelajari tentang tingkah laku manusia, masyarakat, individu, ataupun kelompok.
Ketika dunia berpikir kencang mengenai sebab akibat yang kocar-kacir saya hanya kembali kepada sosok Thomas Hobbes mengenai teorinya Homo Homini Lupus, manusia sebagai serigala bagi orang lain.
Dunia diatur oleh sebuah hukum. Namanya hukum alam. Hukum rimba. Yang luar biasa kejam dan licik.
Jika saya sebut Anda serigala, marahkah Anda? Bagaimana reaksi Anda?
Jika Anda memang bukan “serigala”, sepertinya tukang parkir dan tulisan HARAP KUNCI SEPEDA MOTOR tidak dibutuhkan lagi!
Buat apa Anda mengunci sepeda motor Anda di tempat parkir? Jika Anda tidak menganggap orang lain akan mencuri motor Anda, buat apa Anda mengunci sepeda motor Anda? Saya setuju dengan teori ini dan saya percaya 100 persen jika Anda menganggap seseorang sebagai bahaya bagi Anda.
Jika kembali dalam kasus kriminal hingga genosida kebanyakan, yang sering menjadi gangguan pemikiran saya bukan pada akibat, melainkan pada sebab. Bukan maksud saya untuk mengantitesiskan ada sebab maka ada akibat atau ada akibat karena ada sebab. Jika saya balik, ada akibat maka ada sebab dan ada sebab karena akibat.
Menurut saya, homo homini lupus yang ditebar oleh teror bom ini termasuk yang terakhir. Dalam masyarakat kita terdiri dari banyak golongan, kelompok, yang tentunya di dalamnya tidak ada individu yang sama persis. Individu-individu inilah yang membentuk sebuah kelompok, golongan, strata, populasi, atau komunitas.Dalam perbedaan-perbedaan itu ditemukan adanya beberapa kesamaan yang ada.
Pasti. Saya jamin. Keadaan yang sama ini kadang membuat orang malah berpikir curiga dan punya kehendak untuk menjadikan kawannya itu lawan. Ada lagi rasa ingin untuk menjatuhkan lawannya itu jika ada kesempatan. Munafik jika Anda tidak mengakui hal ini.
Sama pula dengan pemikiran para gembong teroris yang melakukan jihad. Para pengantin-sebutan yang digunakan oleh para pelaku bom bunuh diri- dibuat sepercaya mungkin bahwa melaksanakan pengeboman terhadap tempat atau kawasan yang berbau “Amerika” adalah sesuatu yang luar biasa, mendapatkan pahala dan diterima dalam pangkuan Allah SWT. Kurang lebih begitu big line nya. Di atas tadi saya bilang bahwa ada sebab karena akibat. Saya percaya penuh mereka melakukan hal itu pasti ada akibat yang dterima berkat sebab yang mereka dapat. Lha, pusing ‘kan?
Mereka itu pintar ‘kok. Saya jamin, mereka bukan orang sembarangan atau orang bodoh yang hanya mencari sensasi masuk tipi. Ahli merakit dan memasang bom paling tidak butuh ahli yang tingkatannya paling tidak Strata 1. Bukan orang sembarangan yang tau istilah-istilah bahan yang dipakai untuk menghancurkan gedung. Terus, jadinya ‘kok pintar yang tidak bijaksana gitu? Pintar yang tidak tersalurkan dan menguntungkan. Atau cuma pemikiran mereka yang mungkin kita orang umum dan awam kurang mudheng!
Perbuatan semacam ini disebut sebagai teror, di mana masyarakat kita menjadi resah dan gelisah. Merasa tidak aman dan nyaman terhadap keadaan yang ada. Berakibat pula pada masyrakat yang tidak tahu apa-apa, semakin menjadi-jadi rasa was-was itu. Mau ke mall, takut. Tidur hotel bergengsi, apalagi. Punya tetangga buaaaaiiikkkkk’e nda karuan juga ternyata membuat kita justru merasa aneh. Saya yakin penduduk sekitar Temanggung yang berdekatan dengan rumah NMT tidak tahu bahwa rumah tetangganya itu sarang teroris. Wow!
Virus-virus ini telah menimbulkan dampak yang paling besar menurut saya. Yaitu homo homini lupus makin merebak. Rasa curiga terhadap orang lain meningkat. Antar manusia menganggap bahwa keamananya sebagai masyarakat sudah pupus, tidak ada lagi. Jangankan percaya terhadap hal-hal baru, untuk percaya pada hal-hal lama pun kadang masih agak sulit. Jika sudah begini, sebenarnya di mana pokok permasalahannya?
Dalam kenyataanya sebelum terjadi kehidupan memang teori homo homini lupus sudah ada, hal ini memang dibutuhkan, saya tidak menampik teori ini karena dengan adanya homo homini lupus, masyarakat kita dapat bertahan hidup. Tentu saja jika homo homini lupus dilakukan secara stabil dan sehat karena nantinya dalam proses ini akan ada persaingan dalam kehidupan mereka. Bila mau bicara tentang persaingan, tentu masalah persaingan dengan konteks bertahan hidup memang berat. Tapi bisakah hal curiga itu mulai dikurangi dan menggantinya dengan banyak positiv thinking? Saya yakin ‘kok homo homini lupus berkurang. Semoga.
Aksi teror bom yang ditebar kawanan “X” yang kita belum tahu siapa itu pada beberapa hari lalu di Jakarta (J.W. Marriot dan Ritz Carlton) membuat banyak akibat di semua kalangan. Kejahatan terhadap nyawa, psikis seseorang, hingga perekonomian dunia internasional menjadi semrawut. Nyawa, sudah pasti melayang akibat bom tersebut. Dalam 1 menit nyawa 9 orang melayang dengan sangat cepat, dahsyat, luar biasa!
Yang tidak meninggal tentu harus bersyukur meskipun bentuk raga juga tak karuan rasanya. Luka-luka, luka batin, luka psikis, luka jiwa, atau apalah namanya, menimbulkan perasaan was-was, takut, serta tidak nyaman seseorang. Di semua kalangan! Tidak hanya Presiden yang geram dan mengutuk keras aksi teror bom tersebut, jejeran artis hingga masyarakat biasa (seperti saya tentu saja) juga merasakan hal itu. Benar ‘kan? Jangan munafik. Akuilah hal itu memang sedang Anda rasakan. Siaran media massa non-stop memberitakan cerita ini. Mengerikan! Yang pertama ada dalam pikiran kita : siapakah yang tega melakukan hal ini? Yang kedua adalah bagaimana ‘sih pemikiran pengebom itu? Rasanya mustahil di telinga kita yang setiap saat dihadapkan pada fakta-fakta baru tentang pasca pengeboman. Hidup selalu untuk memilih, dilema yang sarkastis! Menghadapi polemik-polemik membosankan sekaligus menantang!
Sedangkan kehidupan itu kejam. Tertawalah sebab seluruh dunia akan tertawa denganmu tapi jangan kamu menangis, sebab kamu akan menangis sendirian.
Ketika saya mendapat pelajaran Sosiologi, saya belajar utnuk memahami tiap kata Satjipto Rahardjo, guru besar Sosiologi di Universitas Diponegoro. Ya, tiap kata yang terdapat di tiap kalimat yang dilontarkan beliau ini! Untuk memahami kalimat yang diucapkannya memang tidak mudah, maka saya mempelajarinya tiap kata. Jika penafsiran saya benar mengenai kalimatnya, saya juga hendak memahami kalimatnya yang sering tertuang dalam definisi-definisinya mengenai kosa kata beliau. Tentu hal ini sangat tidak mudah. Pemikiran tajam beliau ini kadang sangat susah dipahami. Sosiologi kerap saya temui di manapun saya berada. Mempelajari tentang tingkah laku manusia, masyarakat, individu, ataupun kelompok.
Ketika dunia berpikir kencang mengenai sebab akibat yang kocar-kacir saya hanya kembali kepada sosok Thomas Hobbes mengenai teorinya Homo Homini Lupus, manusia sebagai serigala bagi orang lain.
Dunia diatur oleh sebuah hukum. Namanya hukum alam. Hukum rimba. Yang luar biasa kejam dan licik.
Jika saya sebut Anda serigala, marahkah Anda? Bagaimana reaksi Anda?
Jika Anda memang bukan “serigala”, sepertinya tukang parkir dan tulisan HARAP KUNCI SEPEDA MOTOR tidak dibutuhkan lagi!
Buat apa Anda mengunci sepeda motor Anda di tempat parkir? Jika Anda tidak menganggap orang lain akan mencuri motor Anda, buat apa Anda mengunci sepeda motor Anda? Saya setuju dengan teori ini dan saya percaya 100 persen jika Anda menganggap seseorang sebagai bahaya bagi Anda.
Jika kembali dalam kasus kriminal hingga genosida kebanyakan, yang sering menjadi gangguan pemikiran saya bukan pada akibat, melainkan pada sebab. Bukan maksud saya untuk mengantitesiskan ada sebab maka ada akibat atau ada akibat karena ada sebab. Jika saya balik, ada akibat maka ada sebab dan ada sebab karena akibat.
Menurut saya, homo homini lupus yang ditebar oleh teror bom ini termasuk yang terakhir. Dalam masyarakat kita terdiri dari banyak golongan, kelompok, yang tentunya di dalamnya tidak ada individu yang sama persis. Individu-individu inilah yang membentuk sebuah kelompok, golongan, strata, populasi, atau komunitas.Dalam perbedaan-perbedaan itu ditemukan adanya beberapa kesamaan yang ada.
Pasti. Saya jamin. Keadaan yang sama ini kadang membuat orang malah berpikir curiga dan punya kehendak untuk menjadikan kawannya itu lawan. Ada lagi rasa ingin untuk menjatuhkan lawannya itu jika ada kesempatan. Munafik jika Anda tidak mengakui hal ini.
Sama pula dengan pemikiran para gembong teroris yang melakukan jihad. Para pengantin-sebutan yang digunakan oleh para pelaku bom bunuh diri- dibuat sepercaya mungkin bahwa melaksanakan pengeboman terhadap tempat atau kawasan yang berbau “Amerika” adalah sesuatu yang luar biasa, mendapatkan pahala dan diterima dalam pangkuan Allah SWT. Kurang lebih begitu big line nya. Di atas tadi saya bilang bahwa ada sebab karena akibat. Saya percaya penuh mereka melakukan hal itu pasti ada akibat yang dterima berkat sebab yang mereka dapat. Lha, pusing ‘kan?
Mereka itu pintar ‘kok. Saya jamin, mereka bukan orang sembarangan atau orang bodoh yang hanya mencari sensasi masuk tipi. Ahli merakit dan memasang bom paling tidak butuh ahli yang tingkatannya paling tidak Strata 1. Bukan orang sembarangan yang tau istilah-istilah bahan yang dipakai untuk menghancurkan gedung. Terus, jadinya ‘kok pintar yang tidak bijaksana gitu? Pintar yang tidak tersalurkan dan menguntungkan. Atau cuma pemikiran mereka yang mungkin kita orang umum dan awam kurang mudheng!
Perbuatan semacam ini disebut sebagai teror, di mana masyarakat kita menjadi resah dan gelisah. Merasa tidak aman dan nyaman terhadap keadaan yang ada. Berakibat pula pada masyrakat yang tidak tahu apa-apa, semakin menjadi-jadi rasa was-was itu. Mau ke mall, takut. Tidur hotel bergengsi, apalagi. Punya tetangga buaaaaiiikkkkk’e nda karuan juga ternyata membuat kita justru merasa aneh. Saya yakin penduduk sekitar Temanggung yang berdekatan dengan rumah NMT tidak tahu bahwa rumah tetangganya itu sarang teroris. Wow!
Virus-virus ini telah menimbulkan dampak yang paling besar menurut saya. Yaitu homo homini lupus makin merebak. Rasa curiga terhadap orang lain meningkat. Antar manusia menganggap bahwa keamananya sebagai masyarakat sudah pupus, tidak ada lagi. Jangankan percaya terhadap hal-hal baru, untuk percaya pada hal-hal lama pun kadang masih agak sulit. Jika sudah begini, sebenarnya di mana pokok permasalahannya?
Dalam kenyataanya sebelum terjadi kehidupan memang teori homo homini lupus sudah ada, hal ini memang dibutuhkan, saya tidak menampik teori ini karena dengan adanya homo homini lupus, masyarakat kita dapat bertahan hidup. Tentu saja jika homo homini lupus dilakukan secara stabil dan sehat karena nantinya dalam proses ini akan ada persaingan dalam kehidupan mereka. Bila mau bicara tentang persaingan, tentu masalah persaingan dengan konteks bertahan hidup memang berat. Tapi bisakah hal curiga itu mulai dikurangi dan menggantinya dengan banyak positiv thinking? Saya yakin ‘kok homo homini lupus berkurang. Semoga.
Pernah Bayangin Nikah Muda?
Pernah bayangin nikah muda?
Dalam benak kita di jaman serba modern ini nikah muda dianggap sesuatu yang “Aduh, gimana gitu..” Apalagi kalau disertai embel-embel udah MBA (Married By Accident) alias keelakaan atau hamil di luar nikah. Duh, bayangin aja udah ngeri, apalagi kalo ngadepin masalah gitu, kayaknya aduh mak.. Belum siap dehh..
Dituntut tanggung jawab dan kewajiban yang sangat besar. Pertanyaannya, mampu nggak kita ngadepin kaya gitu?
Kalo enggak sih ya mending ga usah, ga usah coba-coba!
Kalo pun udah berani nyoba itu juga harus siap nerima segala resikonya, apapun itu!
Aku punya temen, sebut aja namanya Mawar (duh, kaya di surat kabar aja!), dia seumuran sama aku, malah lebih muda beberapa bulan daripada aku.
Kehidupan dia dari remaja udah gak normal aku pikir. Ya, orangtuanya cerai terus ibunya menikah lagi, Mawar dan adik perempuaanya ikut bersama ayahnya. Mawar mempunyai seorang kekasih, cukup lama menjalin hubungan dengan pria ini yang juga kakak kelas kami. Sebut saja namanya Robert.
Namun setelah lulus SMU, Robert melanjutkan studinya di Negeri Bambu.
Berat hati Mawar melepas kepergian sang kekasih yang telah menemani hidupnya selama 3 tahun belakangan ini. Kasih memang tak mengenal jarak, hubungan mereka tetap berjalan sehalus dan serapi mungkin. Alat komunikasi canggih seperti Handphone hingga internet tidak pernah absen menemani hari-hari mereka. Foto terbaru mereka selalu dikirim kepada pasangannya. Mereka selalu berkomunikasi dengan sangat baik, menurutku.
Dan mereka selalu menjaga komitmen mereka masing-masing. Aku sangat salut dengan mereka. Saling percaya dan saling mencintai.
Tapi, nah ini yang tidak enak.. Karena pada setiap apa selalu ada kata tapi. Tapi rasa mencintai yang berlebihan juga tidak baik. Rasa yang berlebihan itu semakin merobek relung mereka. Singkat cerita mereka berpisah karena memang sulit untuk menjalin hubungan jarak jauh. Jikalau adapun pasti sangat sulit. Kepercayaan yang terlalu dipupuk lama-lama juga overdosis sehingga mereka memilih kata paling akhir, yaitu mencintai tidak memiliki. Pahit memang untuk mengatakan berpisah. Bagi mereka, mencintai ialah saaat mereka bisa melihat pasangan mereka tersenyum meskipun pasangannya itu bersama orang lain. Teorinya memang benar, kelihatan tegar saat mengatakan itu, tapi nyatanya? Faktanya apa? Sulit, sangat sulit.
Mawar orang yang sangat dewasa, disiplin, dan ia kuat. Tegar. Dalam keadaanya yang serba berat itu ia masih menyempatkan diri untuk mengurus rumah, semua pekerjaan rumah ia kerjakan tanpa meminta imbalan. Ia anak yang prihatin terhadap ayahnya. Saat ayahnya dalam keadaan sulit, ia selalu membuat ayahnya merasa nyaman dengan keadaannya. Ia melakukan semua pekerjaan rumah seperti memasak, mencuci, hingga mencabut rumput di halaman depan rumahnya. Ia senang sekali memasak, bahkan masakannya ia jual di sekolah untuk menambah kebutuhan keluarganya. Setelah lulus SMA, di saat setiap teman kami berangan hendak melanjutkan studi ke perguruan tinggi terkenal A, B, C atau D ia dengan santai berkata, “ Belum tahu aku mau lanjut atau mau kerja saja.”
Kerja? Kerja apa kau dengan ijazah SMA?
Ya itulah Mawar. Gigih, pantang menyeah sebelum mencoba. Cita-citanya menjadi ibu rumah tangga yang baik dan mengurus/mengasuh anaknya beserta suaminya kelak. Aku sendiri juga tidak ngeh mendengar cita-cita ini. Tapi aku bilang, apa yang kita ucapkan ialah doa untuk kita sendiri dan semoga itulah yang akan terjadi. Alam akan membawa kita pada hal-hal yang kita pikirkan. Itu yang disebut dengan law of attraction. Hukum tarik menarik.
Oke, kembali ke cerita Mawar itu tadi.
Setelah 4, 5 bulan berjalan dan kami tidak memutuskan tali komunikasi kami, kami tetap saling contact, melalui email, friendster atau SMS. Kami saling bertukar cerita. Mengenai aku, dia, dan semua yang dapat kami ungkapkan. Dia selalu memberi dukungan dan saran hingga kritik terhadap aku, apapun bentuknya, seperti doa dan semangat. Aku melihat semangat yang begitu kuat dari dirinya. Ah, betapa beruntungnya aku mengenal orang seperti Mawar. Setelah perpisahan di SMA itu, kami berpelukan untuk yang terakhir kali dan mengatakan bahwa kami akan bertemu kelak jika kami sudah sama-sama menjadi “orang” yang sukses, mempunyai keluarga bahkan anak, canda dan tawa kami waktu itu masih tersimpan jelas di pikiranku.
Selang waktu itu dia pun selalu bercerita mengenai kehidupannya sekarang. Mawar pindah ke Surabaya sejak lulus. Begitu pula dengan adiknya. Waktu itu ia berkata bahwa mimpinya mempunyai restoran, tapi menurutnya tidak mungkin jika mempunyai resto yang sukses tapi tidak mempunyai pengalaman dan modal yang kuat. Oleh karena itu ia memutuskan untuk menjadi karayawati di beberapa resto, dsb. Okelah kawan, jika itu mimpimu dan hal itu bias membuat mimpimu terwujud ya kenapa tidak? Toh pekerjaan itu tetap halal, begitu kataku.
Semua keluh kesahnya hidup di kota besar dan metropolis seperti Surabaya sudah aku dengar, seperti saat di saat ayahnya sedang meniti karir dari nol membuka toko listrik di rumahnya, belum genap dua minggu, tokonya sudah disatroni tamu tak diundang. Betapa naasnya hidup Mawar. Mereka hidup tidak mewah namun juga tidak kekurangan. Gara-gara kejadian itu ia mengurungkan niatnya yang waktu itu sedang ingin mengikuti banyak kursus, karena sudah jelas keluarga mereka sedang kekurangan uang. Jangankan kuliah, untuk mengikuti kursus pun Mawar tidak berani. Ia lebih mengutamakan sekolah adiknya daripada untuk biaya dirinya.
Aku trenyuh.
Sebulan aku sibuk hingga aku kami pun tidak saling komunikasi, kabar yang kudengar terakhir ia mendaftar pada suatu perguruan tinggi swasta di sana setelah dipaksa oleh ayahnya. Okelah, semoga sukses kawan!
Itu pun dia sudah telat dalam pendaftaran kali itu.
Aku hanya mesem.
Dua bulan kemudian aku mendengar bahwa dirinya memang sudah tidak bisa bersatu dengan kekasihnya, Robert, karena dipaksakan bagaimanapun memang ternyata hanya menimbulkan sakit luar biasa pada benak mereka. Kabar itu aku dengar tidak pada saat itu juga, jadi sudah agak lama baru aku dikabarinya. Kabar itu sudah cukup membuatku kaget setengah mati belum lagi kabar yang kedua bahwa Mawar sedang dijodohkan dengan anak kenalan neneknya yang lebih tua 11 tahun dengan dirinya! Oh my God! Kabar apalagi ini?
Pada awalnya memang aku yang jadi konsultan cintanya dengan Hendra, kekasih barunya itu. Setiap masalah yang terjadi pada Mawar selalu ditumpahkan kepadaku dan akulah yang akhirnya menjadi penasihatnya…
Oke..Oke untuk hal seperti ini aku dan Mawar memang lumayan jago, tapi Mawar untuk dirinya sendiri ia masih membutuhkan orang lain, dan orang lain itu adalah aku!
Permasalahan tanggapan karena berbeda umur memang sering menjadi pokok utama. Ia menganggap Hendra terlalu tua sehingga tidak mengerti perasaan si Mawar yang lebih muda. Ya aku bilang saja, karena dia tua makanya dia tidak mengurusi hal-hal seperti yang kamu inginkan. Hiburku waktu itu. Seperti masalah cemburu, selingkuh dengan si A atau si B sudah bukan menjadi urusan Hendra sekarang.
Curhat semacam itu sudah biasa di mataku jadi aku tidak kaget lagi setiap ada SMS masuk dengan nama pengirim : Mawar.
Suatu hari di siang bolong aa SMS dari dirinya yang mengabarkan bahwa dirinya akan menikah akhir bulan ini dengan Hendra karena dirinya tengah mengandung anak Hendra dan sudah jalan dua bulan masa kehamilannya! Benar-benar berita fantastis!
Demi Tuhan yang kukhawatirkan sekarang ialah janin yang tengah dikandung! BUKAN YANG LAIN!! Aku saat itu tidak peduli dengan dirinya dan hubungannnya dengan keluarganya, ataupun mengenai pernikahannya atau apanya! Aku tidak urusan dengan hal semacam itu! Bayi yang anugerah dari Tuhan itu bahkan tidak mengerti apa-apa! Sedangkan ibunya juga tidak tahu apa-apa mengenai dirinya dan anaknya! Gila. Benar-benar gila!
Tak bisa kubayangkan wajah Mawar saat ini. Tapi ketika kutanyakan mengenai bagaimana rasanya? Mengapa bisa begitu? Lalu apa yang hendak kau lakukan? Dan sebagainya..
Ia menjawab dengan santai..
Ya sudah terlanjur… Mau apa lagi…
Rasanya yaaaa tidak enak…Mual, ingin muntah…
Setelah ini bla…bla..bla…
Kau menyesal?
TIDAK.
AKU TIDAK MENYESAL.
Kaget lagi aku.
“AKU TIDAK MENYESAL TELAH MELAKUKANNYA KARENA PADA SAAT ITU KAMI MELAKUKAN DENGAN KESADARAN PENUH, SAMA-SAMA MAU DAN AKU TIDAK MERASA TERBEBANI DENGAN ANAK YANG TENGAH BERJUANG HIDUP INI KARENA AKU MENGINGINKANNYA MESKIPUN PADA AWALNYA MEMANG TIDAK.”
Ah, Mawar pada awalnya tidak menginginkannya.. Tapi ia sadar bahwa ia telah melakukan suatu kesalahan besar dalam hidupnya dan sekarang ia tidak mau mengulang kesalahannya lagi. Tidak mau.
Keputusannya ia akan nikah muda, ia mengetahui segala resikonuya dan ia siap untuk itu. Betapa tegar nyalinya mengarungi kehidupan yang kejam ini. Jika aku yang menjadi dia, belum tentu aku mampu menghadapinya. Karena cobaan berat itu meskipun kita sudah tahu, akan masih ada yang lebih menyulitkan kita. Jika kau punya mimpi dan aku harap mimpi itu indah sehingga apa yang kau inginkan memang benar-benar terjadi. Sesaat aku tercenung memikirkan kehidupan Mawar kelak. Namun hari yang dilalui Mawar sudah dimulai dengan banyak problema dari intern maupun ekstren. Kadang berita yang dibawa padaku sampai saat ini bertema kebahagiaan, tapi tidak jarang berita yang disodorkan padaku merupakan berita yang juga membuat kepala sedikit berat untuk memikirkannya. Sempat ingin menangis juga mendengar kabar seperti itu, di mana Mawar mulai melewati masa-masa sulitnya dalam kehidupan dua keluarga yang mempunyai karep (keinginan) sendiri-sendiri. Lalu penengah macam apa yang diharapkan Mawar saat ini? Aku sebagai kawan cuma bisa mendoakannya supaya kehidupannya membaik dan terus membaik dan semoga saja mimpi Mawar semakin indah…
Masalahnya ialah nikah muda, kata lainnya nikah dini, dan sebagainya, aku tidak tahu istilah apa yang dipakai orang jaman sekarang. Ketika orang, hm.. Aku sebut saja pasangan. Oke? Ketika sepasang insan memutuskan untuk mengikat dirinya sebagai suami istri, itu artinya mereka telah berani memutuskan bahwa komitmen yang akan dijalani berlaku seumur hidup, karena apa yang akan dilakukan suami istri tentunya akan terpatri seumur hidup pada history (sejarah) seseorang kelak hingga ajal menjemput. Ketika komitmen itu mengeras dan dipenuhi tekad yang sangat bulat, mereka harus sudah dituntut untuk mempertanggungjawabkan segala kewajibannya sebagai suami atau istri, sebagai orangtua, sebagai panutan, teladan, sebagai masyarakat, sebagai salah satu bagian kecil dalam sebuah keluarga besar, hingga sebagai mahkluk ciptaan Tuhan dalam usia dini…
Pernikahan tidak ada salahnya. Kalau embel-embelnya dini?
Apakah masih salah? Menurutku tidak juga selama mereka MAMPU itu tadi. Sudah rela dan menyanggupi semua syarat yang diajukan. Ketika seorang yang muda dan itu adalah usia di mana ia menikmati masa muda dengan mimpi-mimpi seperti oranglain, studi misalnya, dan sebagainya, ada juga orang ini yang mau menghadapi bahtera keluarga. Aku belum mengalaminya jadi aku tidak bisa berkata banyak. Mungkin khususnya bagi wanita, menjadi ibu rumah tangga ialah sesuatu yang kalem dan wajar. Menikah adalah impian setiap wanita. Punya anak, apalagi. Rasanya memang belum menjadi seorang wanita jika belum melahirkan. Tapi permasalahannya ialah letak waktunya. Mungkin nggak di jaman sekarang yang serba susah gini orang masih bercita-cita seperti itu? Mampu secara fisik, okelah. Mampu secara batin? Hm….. Aku cuma mikir apa jadinya orang melihat aku? Mampu secara materiil? Lha ini…………. Sektor paling berat ada di sini deh…. Bisa dilanjutkan sendiri jawabannya.
Dalam benak kita di jaman serba modern ini nikah muda dianggap sesuatu yang “Aduh, gimana gitu..” Apalagi kalau disertai embel-embel udah MBA (Married By Accident) alias keelakaan atau hamil di luar nikah. Duh, bayangin aja udah ngeri, apalagi kalo ngadepin masalah gitu, kayaknya aduh mak.. Belum siap dehh..
Dituntut tanggung jawab dan kewajiban yang sangat besar. Pertanyaannya, mampu nggak kita ngadepin kaya gitu?
Kalo enggak sih ya mending ga usah, ga usah coba-coba!
Kalo pun udah berani nyoba itu juga harus siap nerima segala resikonya, apapun itu!
Aku punya temen, sebut aja namanya Mawar (duh, kaya di surat kabar aja!), dia seumuran sama aku, malah lebih muda beberapa bulan daripada aku.
Kehidupan dia dari remaja udah gak normal aku pikir. Ya, orangtuanya cerai terus ibunya menikah lagi, Mawar dan adik perempuaanya ikut bersama ayahnya. Mawar mempunyai seorang kekasih, cukup lama menjalin hubungan dengan pria ini yang juga kakak kelas kami. Sebut saja namanya Robert.
Namun setelah lulus SMU, Robert melanjutkan studinya di Negeri Bambu.
Berat hati Mawar melepas kepergian sang kekasih yang telah menemani hidupnya selama 3 tahun belakangan ini. Kasih memang tak mengenal jarak, hubungan mereka tetap berjalan sehalus dan serapi mungkin. Alat komunikasi canggih seperti Handphone hingga internet tidak pernah absen menemani hari-hari mereka. Foto terbaru mereka selalu dikirim kepada pasangannya. Mereka selalu berkomunikasi dengan sangat baik, menurutku.
Dan mereka selalu menjaga komitmen mereka masing-masing. Aku sangat salut dengan mereka. Saling percaya dan saling mencintai.
Tapi, nah ini yang tidak enak.. Karena pada setiap apa selalu ada kata tapi. Tapi rasa mencintai yang berlebihan juga tidak baik. Rasa yang berlebihan itu semakin merobek relung mereka. Singkat cerita mereka berpisah karena memang sulit untuk menjalin hubungan jarak jauh. Jikalau adapun pasti sangat sulit. Kepercayaan yang terlalu dipupuk lama-lama juga overdosis sehingga mereka memilih kata paling akhir, yaitu mencintai tidak memiliki. Pahit memang untuk mengatakan berpisah. Bagi mereka, mencintai ialah saaat mereka bisa melihat pasangan mereka tersenyum meskipun pasangannya itu bersama orang lain. Teorinya memang benar, kelihatan tegar saat mengatakan itu, tapi nyatanya? Faktanya apa? Sulit, sangat sulit.
Mawar orang yang sangat dewasa, disiplin, dan ia kuat. Tegar. Dalam keadaanya yang serba berat itu ia masih menyempatkan diri untuk mengurus rumah, semua pekerjaan rumah ia kerjakan tanpa meminta imbalan. Ia anak yang prihatin terhadap ayahnya. Saat ayahnya dalam keadaan sulit, ia selalu membuat ayahnya merasa nyaman dengan keadaannya. Ia melakukan semua pekerjaan rumah seperti memasak, mencuci, hingga mencabut rumput di halaman depan rumahnya. Ia senang sekali memasak, bahkan masakannya ia jual di sekolah untuk menambah kebutuhan keluarganya. Setelah lulus SMA, di saat setiap teman kami berangan hendak melanjutkan studi ke perguruan tinggi terkenal A, B, C atau D ia dengan santai berkata, “ Belum tahu aku mau lanjut atau mau kerja saja.”
Kerja? Kerja apa kau dengan ijazah SMA?
Ya itulah Mawar. Gigih, pantang menyeah sebelum mencoba. Cita-citanya menjadi ibu rumah tangga yang baik dan mengurus/mengasuh anaknya beserta suaminya kelak. Aku sendiri juga tidak ngeh mendengar cita-cita ini. Tapi aku bilang, apa yang kita ucapkan ialah doa untuk kita sendiri dan semoga itulah yang akan terjadi. Alam akan membawa kita pada hal-hal yang kita pikirkan. Itu yang disebut dengan law of attraction. Hukum tarik menarik.
Oke, kembali ke cerita Mawar itu tadi.
Setelah 4, 5 bulan berjalan dan kami tidak memutuskan tali komunikasi kami, kami tetap saling contact, melalui email, friendster atau SMS. Kami saling bertukar cerita. Mengenai aku, dia, dan semua yang dapat kami ungkapkan. Dia selalu memberi dukungan dan saran hingga kritik terhadap aku, apapun bentuknya, seperti doa dan semangat. Aku melihat semangat yang begitu kuat dari dirinya. Ah, betapa beruntungnya aku mengenal orang seperti Mawar. Setelah perpisahan di SMA itu, kami berpelukan untuk yang terakhir kali dan mengatakan bahwa kami akan bertemu kelak jika kami sudah sama-sama menjadi “orang” yang sukses, mempunyai keluarga bahkan anak, canda dan tawa kami waktu itu masih tersimpan jelas di pikiranku.
Selang waktu itu dia pun selalu bercerita mengenai kehidupannya sekarang. Mawar pindah ke Surabaya sejak lulus. Begitu pula dengan adiknya. Waktu itu ia berkata bahwa mimpinya mempunyai restoran, tapi menurutnya tidak mungkin jika mempunyai resto yang sukses tapi tidak mempunyai pengalaman dan modal yang kuat. Oleh karena itu ia memutuskan untuk menjadi karayawati di beberapa resto, dsb. Okelah kawan, jika itu mimpimu dan hal itu bias membuat mimpimu terwujud ya kenapa tidak? Toh pekerjaan itu tetap halal, begitu kataku.
Semua keluh kesahnya hidup di kota besar dan metropolis seperti Surabaya sudah aku dengar, seperti saat di saat ayahnya sedang meniti karir dari nol membuka toko listrik di rumahnya, belum genap dua minggu, tokonya sudah disatroni tamu tak diundang. Betapa naasnya hidup Mawar. Mereka hidup tidak mewah namun juga tidak kekurangan. Gara-gara kejadian itu ia mengurungkan niatnya yang waktu itu sedang ingin mengikuti banyak kursus, karena sudah jelas keluarga mereka sedang kekurangan uang. Jangankan kuliah, untuk mengikuti kursus pun Mawar tidak berani. Ia lebih mengutamakan sekolah adiknya daripada untuk biaya dirinya.
Aku trenyuh.
Sebulan aku sibuk hingga aku kami pun tidak saling komunikasi, kabar yang kudengar terakhir ia mendaftar pada suatu perguruan tinggi swasta di sana setelah dipaksa oleh ayahnya. Okelah, semoga sukses kawan!
Itu pun dia sudah telat dalam pendaftaran kali itu.
Aku hanya mesem.
Dua bulan kemudian aku mendengar bahwa dirinya memang sudah tidak bisa bersatu dengan kekasihnya, Robert, karena dipaksakan bagaimanapun memang ternyata hanya menimbulkan sakit luar biasa pada benak mereka. Kabar itu aku dengar tidak pada saat itu juga, jadi sudah agak lama baru aku dikabarinya. Kabar itu sudah cukup membuatku kaget setengah mati belum lagi kabar yang kedua bahwa Mawar sedang dijodohkan dengan anak kenalan neneknya yang lebih tua 11 tahun dengan dirinya! Oh my God! Kabar apalagi ini?
Pada awalnya memang aku yang jadi konsultan cintanya dengan Hendra, kekasih barunya itu. Setiap masalah yang terjadi pada Mawar selalu ditumpahkan kepadaku dan akulah yang akhirnya menjadi penasihatnya…
Oke..Oke untuk hal seperti ini aku dan Mawar memang lumayan jago, tapi Mawar untuk dirinya sendiri ia masih membutuhkan orang lain, dan orang lain itu adalah aku!
Permasalahan tanggapan karena berbeda umur memang sering menjadi pokok utama. Ia menganggap Hendra terlalu tua sehingga tidak mengerti perasaan si Mawar yang lebih muda. Ya aku bilang saja, karena dia tua makanya dia tidak mengurusi hal-hal seperti yang kamu inginkan. Hiburku waktu itu. Seperti masalah cemburu, selingkuh dengan si A atau si B sudah bukan menjadi urusan Hendra sekarang.
Curhat semacam itu sudah biasa di mataku jadi aku tidak kaget lagi setiap ada SMS masuk dengan nama pengirim : Mawar.
Suatu hari di siang bolong aa SMS dari dirinya yang mengabarkan bahwa dirinya akan menikah akhir bulan ini dengan Hendra karena dirinya tengah mengandung anak Hendra dan sudah jalan dua bulan masa kehamilannya! Benar-benar berita fantastis!
Demi Tuhan yang kukhawatirkan sekarang ialah janin yang tengah dikandung! BUKAN YANG LAIN!! Aku saat itu tidak peduli dengan dirinya dan hubungannnya dengan keluarganya, ataupun mengenai pernikahannya atau apanya! Aku tidak urusan dengan hal semacam itu! Bayi yang anugerah dari Tuhan itu bahkan tidak mengerti apa-apa! Sedangkan ibunya juga tidak tahu apa-apa mengenai dirinya dan anaknya! Gila. Benar-benar gila!
Tak bisa kubayangkan wajah Mawar saat ini. Tapi ketika kutanyakan mengenai bagaimana rasanya? Mengapa bisa begitu? Lalu apa yang hendak kau lakukan? Dan sebagainya..
Ia menjawab dengan santai..
Ya sudah terlanjur… Mau apa lagi…
Rasanya yaaaa tidak enak…Mual, ingin muntah…
Setelah ini bla…bla..bla…
Kau menyesal?
TIDAK.
AKU TIDAK MENYESAL.
Kaget lagi aku.
“AKU TIDAK MENYESAL TELAH MELAKUKANNYA KARENA PADA SAAT ITU KAMI MELAKUKAN DENGAN KESADARAN PENUH, SAMA-SAMA MAU DAN AKU TIDAK MERASA TERBEBANI DENGAN ANAK YANG TENGAH BERJUANG HIDUP INI KARENA AKU MENGINGINKANNYA MESKIPUN PADA AWALNYA MEMANG TIDAK.”
Ah, Mawar pada awalnya tidak menginginkannya.. Tapi ia sadar bahwa ia telah melakukan suatu kesalahan besar dalam hidupnya dan sekarang ia tidak mau mengulang kesalahannya lagi. Tidak mau.
Keputusannya ia akan nikah muda, ia mengetahui segala resikonuya dan ia siap untuk itu. Betapa tegar nyalinya mengarungi kehidupan yang kejam ini. Jika aku yang menjadi dia, belum tentu aku mampu menghadapinya. Karena cobaan berat itu meskipun kita sudah tahu, akan masih ada yang lebih menyulitkan kita. Jika kau punya mimpi dan aku harap mimpi itu indah sehingga apa yang kau inginkan memang benar-benar terjadi. Sesaat aku tercenung memikirkan kehidupan Mawar kelak. Namun hari yang dilalui Mawar sudah dimulai dengan banyak problema dari intern maupun ekstren. Kadang berita yang dibawa padaku sampai saat ini bertema kebahagiaan, tapi tidak jarang berita yang disodorkan padaku merupakan berita yang juga membuat kepala sedikit berat untuk memikirkannya. Sempat ingin menangis juga mendengar kabar seperti itu, di mana Mawar mulai melewati masa-masa sulitnya dalam kehidupan dua keluarga yang mempunyai karep (keinginan) sendiri-sendiri. Lalu penengah macam apa yang diharapkan Mawar saat ini? Aku sebagai kawan cuma bisa mendoakannya supaya kehidupannya membaik dan terus membaik dan semoga saja mimpi Mawar semakin indah…
Masalahnya ialah nikah muda, kata lainnya nikah dini, dan sebagainya, aku tidak tahu istilah apa yang dipakai orang jaman sekarang. Ketika orang, hm.. Aku sebut saja pasangan. Oke? Ketika sepasang insan memutuskan untuk mengikat dirinya sebagai suami istri, itu artinya mereka telah berani memutuskan bahwa komitmen yang akan dijalani berlaku seumur hidup, karena apa yang akan dilakukan suami istri tentunya akan terpatri seumur hidup pada history (sejarah) seseorang kelak hingga ajal menjemput. Ketika komitmen itu mengeras dan dipenuhi tekad yang sangat bulat, mereka harus sudah dituntut untuk mempertanggungjawabkan segala kewajibannya sebagai suami atau istri, sebagai orangtua, sebagai panutan, teladan, sebagai masyarakat, sebagai salah satu bagian kecil dalam sebuah keluarga besar, hingga sebagai mahkluk ciptaan Tuhan dalam usia dini…
Pernikahan tidak ada salahnya. Kalau embel-embelnya dini?
Apakah masih salah? Menurutku tidak juga selama mereka MAMPU itu tadi. Sudah rela dan menyanggupi semua syarat yang diajukan. Ketika seorang yang muda dan itu adalah usia di mana ia menikmati masa muda dengan mimpi-mimpi seperti oranglain, studi misalnya, dan sebagainya, ada juga orang ini yang mau menghadapi bahtera keluarga. Aku belum mengalaminya jadi aku tidak bisa berkata banyak. Mungkin khususnya bagi wanita, menjadi ibu rumah tangga ialah sesuatu yang kalem dan wajar. Menikah adalah impian setiap wanita. Punya anak, apalagi. Rasanya memang belum menjadi seorang wanita jika belum melahirkan. Tapi permasalahannya ialah letak waktunya. Mungkin nggak di jaman sekarang yang serba susah gini orang masih bercita-cita seperti itu? Mampu secara fisik, okelah. Mampu secara batin? Hm….. Aku cuma mikir apa jadinya orang melihat aku? Mampu secara materiil? Lha ini…………. Sektor paling berat ada di sini deh…. Bisa dilanjutkan sendiri jawabannya.
Jumat, Maret 06, 2009
Sept-08
Kasih, apa itu kau?
Yang menemani aku saat aku sedu
Yang memahami aku saat aku mencintai cinta
Yang menopang aku saat badai coba jatuhi aku
Yang mengalahiku dan menggagahiku?
Yang menemani aku saat aku sedu
Yang memahami aku saat aku mencintai cinta
Yang menopang aku saat badai coba jatuhi aku
Yang mengalahiku dan menggagahiku?
Boleh?
Kalau aku boleh menyayangimu dengan sederhana
Bolehkah aku?
Kita mencintai dulu baru mengenal
Itu berarti cinta kita tidak mengenal
untung rugi
apa siapa
dan bagaimana
Bolehkah aku?
Kita mencintai dulu baru mengenal
Itu berarti cinta kita tidak mengenal
untung rugi
apa siapa
dan bagaimana
DeWaSa
Dewasa? Apa batas ketentuan seseorang dapat dikatakan dewasa atau tidak? Menurutku, kedewasaan seseorang tidak hanya dilihat dari segi fisik saja. Aku sendiri mengakui kalau diriku belum dewasa.Mungkin secara raga iya, tapi secara mental, belum. Dewasa itu apa definisinya? Menurutku dewasa ialah kadar kestabilan diri.
Udah, di mana kita sebagai orang, sebagai manusia bisa stabil dalam setiap sesi hidup. Setiap masalah yang dihadapi, setiap peluang yang ada. Tidak kemrungsung. Di dunia ini yang paling sulit ditaklukan ialah diri sendiri. Ya. Karena secara psikologis jika seseorang tidak sehat, otomatis seluruh kehidupannya juga tidak menarik untuk dikunjungi.
Kadang aku bingung, kenapa selalu berpikir negatif?
Kenapa aku tidak memandang permasalahan dari banyak sisi?
Aku benci jika otakku tidak bekerja. Mati gerk. Karena aku tahu hal seperti itu tidak membantu tumbuh kembangku menjadi seorang manusia. Aku benci mengangur. Karena pengangguran adalah sesuatu yang memuakkan, tidak berguna untuk siapa-siapa. Bahkan bisa dikatakan sebagai parasit kehidupan!
Hoi, dunia tu luas! Gak cuma selebar daun kelor!
Yo ngerti, tapi dunia tu belum tak taklukin! Aku masih pengeenn ngerti semua yang aku gak ngerti! Aku dibunuh perlahan-lahan sama rasa penasaran kaya gini. Semakin nganggur, semakin bosan, ujung-ujungnya mikir jelek. Negatif thiking!
AAARRRGHHHH!!
Aku ndak mau aku digerogoti penyakit kaya gini, aku harus ngubah pikiran-pikiran jelekku. Tapi harus mulai dari mana?
Ya dari mulai berpikir positif tho yo…. (yang ini kata temen SMP ku)
Dewasa tu sebenernya bagaimana cara pandang orang aja menilai itu, coz ga sepenuhnya orang yang dewasa itu bisa bener-bener menjadi 100% dewasa… (yang ini kata temen kuliahku)
Tesis : Negatif thinking datang waktu kita lagi sendiri. Tapi belum tentu waktu ada masalah. Bisa iya, bisa tidak.
Anti tesis : Negatif thinking datang pas kita tidak sendiri. Biasanya kalo ada masalah kita langsung kemrungsung, bingung dulu.
Aku takut menjadi seorang yang filosofis, filsafatis, terlalu mengajukan apa, kenapa, mengapa begitu, mengapa begini?
Aku suka mengejar apa yang seharusnya menjadi hak-ku! Jawabanku! Aku bukan orang yang begitu gampang menyerahkan hidupku pada takdir. Memang takdir tidak bisa diubah, tapi nasib bisa diubah!
Hidup selalu untuk memilih, dilema yang sarkastis! Menghadapi polemik-polemik membosankan sekaligus menantang!
Sedangkan kehidupan itu kejam. Tertawalah sebab seluruh dunia akan tertawa denganmu tapi jangan kamu menangis, sebab kamu akan menangis sendirian.
Dunia diatur oleh sebuah hukum. Namanya hukum alam. Hukum rimba. Yang luar biasa kejam dan licik. Homo homini lupus. Seseorang dianggap serigala oleh manusia lainnya. Bener? Betul? Ya! Kalau semua orang tidak berpikir seperti itu, sepertinya tukang parkir dan tulisan HARAP KUNCI SEPEDA MOTOR tidak dibutuhkan lagi! Hehehe…
Dari situ bisa dilihat, sebenarnya manusia itu selalu berpikir negative dulu. Aku bilang, “BISA DILIHAT”. Aku tidak buru-buru menyimpulkan.
Pertanyaanya: Bisakah hal ini saya sebut sebagai sikap dewasa?
Apa iya kita belum menaklukan apa yang kita pengeni? Kata temenku lagi, kita belum tau karena kita belum mencapai itu. Karena kita jadi seperti ini juga karena dibentuk oleh lingkungan kita.
Kenapa kita tidak berani bermimpi dan… yah, katakanlah itu sebagai suatu mimpi, keinginan, niat, cita-cita, bualan kalau perlu!
Udah, di mana kita sebagai orang, sebagai manusia bisa stabil dalam setiap sesi hidup. Setiap masalah yang dihadapi, setiap peluang yang ada. Tidak kemrungsung. Di dunia ini yang paling sulit ditaklukan ialah diri sendiri. Ya. Karena secara psikologis jika seseorang tidak sehat, otomatis seluruh kehidupannya juga tidak menarik untuk dikunjungi.
Kadang aku bingung, kenapa selalu berpikir negatif?
Kenapa aku tidak memandang permasalahan dari banyak sisi?
Aku benci jika otakku tidak bekerja. Mati gerk. Karena aku tahu hal seperti itu tidak membantu tumbuh kembangku menjadi seorang manusia. Aku benci mengangur. Karena pengangguran adalah sesuatu yang memuakkan, tidak berguna untuk siapa-siapa. Bahkan bisa dikatakan sebagai parasit kehidupan!
Hoi, dunia tu luas! Gak cuma selebar daun kelor!
Yo ngerti, tapi dunia tu belum tak taklukin! Aku masih pengeenn ngerti semua yang aku gak ngerti! Aku dibunuh perlahan-lahan sama rasa penasaran kaya gini. Semakin nganggur, semakin bosan, ujung-ujungnya mikir jelek. Negatif thiking!
AAARRRGHHHH!!
Aku ndak mau aku digerogoti penyakit kaya gini, aku harus ngubah pikiran-pikiran jelekku. Tapi harus mulai dari mana?
Ya dari mulai berpikir positif tho yo…. (yang ini kata temen SMP ku)
Dewasa tu sebenernya bagaimana cara pandang orang aja menilai itu, coz ga sepenuhnya orang yang dewasa itu bisa bener-bener menjadi 100% dewasa… (yang ini kata temen kuliahku)
Tesis : Negatif thinking datang waktu kita lagi sendiri. Tapi belum tentu waktu ada masalah. Bisa iya, bisa tidak.
Anti tesis : Negatif thinking datang pas kita tidak sendiri. Biasanya kalo ada masalah kita langsung kemrungsung, bingung dulu.
Aku takut menjadi seorang yang filosofis, filsafatis, terlalu mengajukan apa, kenapa, mengapa begitu, mengapa begini?
Aku suka mengejar apa yang seharusnya menjadi hak-ku! Jawabanku! Aku bukan orang yang begitu gampang menyerahkan hidupku pada takdir. Memang takdir tidak bisa diubah, tapi nasib bisa diubah!
Hidup selalu untuk memilih, dilema yang sarkastis! Menghadapi polemik-polemik membosankan sekaligus menantang!
Sedangkan kehidupan itu kejam. Tertawalah sebab seluruh dunia akan tertawa denganmu tapi jangan kamu menangis, sebab kamu akan menangis sendirian.
Dunia diatur oleh sebuah hukum. Namanya hukum alam. Hukum rimba. Yang luar biasa kejam dan licik. Homo homini lupus. Seseorang dianggap serigala oleh manusia lainnya. Bener? Betul? Ya! Kalau semua orang tidak berpikir seperti itu, sepertinya tukang parkir dan tulisan HARAP KUNCI SEPEDA MOTOR tidak dibutuhkan lagi! Hehehe…
Dari situ bisa dilihat, sebenarnya manusia itu selalu berpikir negative dulu. Aku bilang, “BISA DILIHAT”. Aku tidak buru-buru menyimpulkan.
Pertanyaanya: Bisakah hal ini saya sebut sebagai sikap dewasa?
Apa iya kita belum menaklukan apa yang kita pengeni? Kata temenku lagi, kita belum tau karena kita belum mencapai itu. Karena kita jadi seperti ini juga karena dibentuk oleh lingkungan kita.
Kenapa kita tidak berani bermimpi dan… yah, katakanlah itu sebagai suatu mimpi, keinginan, niat, cita-cita, bualan kalau perlu!
Awal Kuliah Saya
Critanya sih mau makan, habis belajar kelompok bareng gitu ama Cweetie and Luvelly.. Itu tuh si Yoshela and Widy, konco aku di Faculty of Law, hehehe..
Mau cari makan di Citra, terus langsung parkir motor, ntar tunggu yang mau keluar, nah gue sempetin deh liat sandalnya Yosh2, gue pikir, Ih ntu sandal keren banget, mirip kaya sandal gue yang udah lama banget, pikirnya ntar ah abis ini liat-liat sandal model gitu, kalo ada yang cocok beli ah, warnanya cokelat manis gitu deh, modelnya sederhana tapi sopan gitu.
Nah, tu dah dapet parkir, persis dapet buat 2 motor! Motor gue ama motor Yosh2, e mau parkir kaki si Yosh2 nubruk plang oranye yang buat tanda stop parkir itu, alhasil tali cepit sandal nya putus deh,, hehehe sumpah ngakak deh gue ngakakin dia, Widy juga, apalagi! Hahahaha,, kaciannn banget wajah Yosh2 udah gitu dikatawain pula ama tukang parkir nya itu! Resseeee…
Wajah nya Yosh2 udah kaya kepiting rebus deh, dia tengsin abis diketawain and diliat sana-sini, hahaha…
Langsung deh si Yosh2 minta pulang, cari makan aja di warung katanya… Huahahaha…
Dah deh, lu orang tunggu di sini dulu! Gue ama Widy cariin lu sandal dolo.. Dasar tragedi sandal pedot sialannn!! Hehehe…
Masuk deh kita ke Gelael, tanya ama mas-mas botak yang di depan stand obat, “ Mas, sandal jepit di mana ya?” tanya gue. “Oh, itu Dek, belakang ndiri deket plastik-plastik sebelah kanan.” “OK, thank you Mas!”
Lari-lari deh gue ama Widy ke belakang, Hoh, mana sendalnya? Tanya deh ama si mbak yang jaga counter makanan, jawabnya “ O maap Mba’, sandal jepit kita abis!”
Huuuuuh reseeekkkk bilang dong dari tadi!! Hih..
Lari lagi kita ke Bata, liat sandal cepit jelek, udah gak mutu modelnya terus yang paling parah, warnanya pink! Ceh, si Yosh2 terima nyokor deh daripada pake barang bernuansa pik-pink gitu! Hehe.. Anti deh, weisss sama kaya gue!
Pusing si Widy ngikutin gue, gue bilang ,” Eh cariin aja yang di depan Citra, yang sandal-sendal cowok itu luh, sapa tau ada!” Widy langsung ngacir aja tuh, tanda setuju biasanya. Hehe, gobloknya kita bukan ke depan Citra malah ke belakang. Hahaha ya gimana lagi namanya orang panic tanda kebingungan dan setia kawan! Hehe..
Mau keluar eh salah jalan lagi! Kami udah persis kaya pelaku uang kaget yang di SCTV tu lho,, persis banget, lari-lari di mall, jadi pusat perhatian orang segedung! Hoho..
Keren kan, itung-itung cari sensasi! Hahaha.. Kidding2..
Terus untungnya ada yang jual sandal gitu di tengah-tengah mall gitu, kaya pameran gitu, langsung nyerbu mas yang jual,tanpa basa-basi, tanpa tedeng aling-aling : “ Mas, sandal yang paling murah brapa ya? Mana ya?” Gitu.. Si Mas yang lagi nata sandal cuma melongo “ Hah???”
“Iya Mas, yang paling murah mana? Cepet donk Mas! Teman gue lagi di luar nih ga brani masuk mall, sendalnya jebol!” Hahaha
Si Mas langsung ngakak and pertanda pengertian, “ O……. Ini Dek, yang bagian ini ke bawah harganya 25 ribu” kata Si Mas sambil nunjukin rak sepatu sebelah kanannya.
Widi langsung oye2 aja angguk angguk gitu, “Ya udah kita beli yang ini, ukuran 38 ya Mas!” dan Widy pun langsung membayar…
Gue sambung “ Mas ntar kalo kekecilan ato kegedean boleh ditukar ya!”
Si Mas cuma nyengir…
And the story goes…
Dapet dehhhhhhh. Singkat cerita. Dan si Yosh2 tersenyum bahagia memakai sandal tersebut walaupun agak kesempitan… Hahahahaha… Tanggal 2 Oktober yang penuh warna….. Abis itu kita makan-makan terus jenk-jenk gitu, terus beli baju kembar 3 gituh, muga-muga besuk Rabu kalo dipake gak disangka anak panti deh….
Amiiiinnn.. Oya lupa Puny juga mau ngucapin Met Idul Fitri deh buat teman-teman yang merayakan, muun maap laer batin, kalo Puny punya salah yang selalu disengaja hehe, dimaapin yaa…. GBU all.. =)
Mau cari makan di Citra, terus langsung parkir motor, ntar tunggu yang mau keluar, nah gue sempetin deh liat sandalnya Yosh2, gue pikir, Ih ntu sandal keren banget, mirip kaya sandal gue yang udah lama banget, pikirnya ntar ah abis ini liat-liat sandal model gitu, kalo ada yang cocok beli ah, warnanya cokelat manis gitu deh, modelnya sederhana tapi sopan gitu.
Nah, tu dah dapet parkir, persis dapet buat 2 motor! Motor gue ama motor Yosh2, e mau parkir kaki si Yosh2 nubruk plang oranye yang buat tanda stop parkir itu, alhasil tali cepit sandal nya putus deh,, hehehe sumpah ngakak deh gue ngakakin dia, Widy juga, apalagi! Hahahaha,, kaciannn banget wajah Yosh2 udah gitu dikatawain pula ama tukang parkir nya itu! Resseeee…
Wajah nya Yosh2 udah kaya kepiting rebus deh, dia tengsin abis diketawain and diliat sana-sini, hahaha…
Langsung deh si Yosh2 minta pulang, cari makan aja di warung katanya… Huahahaha…
Dah deh, lu orang tunggu di sini dulu! Gue ama Widy cariin lu sandal dolo.. Dasar tragedi sandal pedot sialannn!! Hehehe…
Masuk deh kita ke Gelael, tanya ama mas-mas botak yang di depan stand obat, “ Mas, sandal jepit di mana ya?” tanya gue. “Oh, itu Dek, belakang ndiri deket plastik-plastik sebelah kanan.” “OK, thank you Mas!”
Lari-lari deh gue ama Widy ke belakang, Hoh, mana sendalnya? Tanya deh ama si mbak yang jaga counter makanan, jawabnya “ O maap Mba’, sandal jepit kita abis!”
Huuuuuh reseeekkkk bilang dong dari tadi!! Hih..
Lari lagi kita ke Bata, liat sandal cepit jelek, udah gak mutu modelnya terus yang paling parah, warnanya pink! Ceh, si Yosh2 terima nyokor deh daripada pake barang bernuansa pik-pink gitu! Hehe.. Anti deh, weisss sama kaya gue!
Pusing si Widy ngikutin gue, gue bilang ,” Eh cariin aja yang di depan Citra, yang sandal-sendal cowok itu luh, sapa tau ada!” Widy langsung ngacir aja tuh, tanda setuju biasanya. Hehe, gobloknya kita bukan ke depan Citra malah ke belakang. Hahaha ya gimana lagi namanya orang panic tanda kebingungan dan setia kawan! Hehe..
Mau keluar eh salah jalan lagi! Kami udah persis kaya pelaku uang kaget yang di SCTV tu lho,, persis banget, lari-lari di mall, jadi pusat perhatian orang segedung! Hoho..
Keren kan, itung-itung cari sensasi! Hahaha.. Kidding2..
Terus untungnya ada yang jual sandal gitu di tengah-tengah mall gitu, kaya pameran gitu, langsung nyerbu mas yang jual,tanpa basa-basi, tanpa tedeng aling-aling : “ Mas, sandal yang paling murah brapa ya? Mana ya?” Gitu.. Si Mas yang lagi nata sandal cuma melongo “ Hah???”
“Iya Mas, yang paling murah mana? Cepet donk Mas! Teman gue lagi di luar nih ga brani masuk mall, sendalnya jebol!” Hahaha
Si Mas langsung ngakak and pertanda pengertian, “ O……. Ini Dek, yang bagian ini ke bawah harganya 25 ribu” kata Si Mas sambil nunjukin rak sepatu sebelah kanannya.
Widi langsung oye2 aja angguk angguk gitu, “Ya udah kita beli yang ini, ukuran 38 ya Mas!” dan Widy pun langsung membayar…
Gue sambung “ Mas ntar kalo kekecilan ato kegedean boleh ditukar ya!”
Si Mas cuma nyengir…
And the story goes…
Dapet dehhhhhhh. Singkat cerita. Dan si Yosh2 tersenyum bahagia memakai sandal tersebut walaupun agak kesempitan… Hahahahaha… Tanggal 2 Oktober yang penuh warna….. Abis itu kita makan-makan terus jenk-jenk gitu, terus beli baju kembar 3 gituh, muga-muga besuk Rabu kalo dipake gak disangka anak panti deh….
Amiiiinnn.. Oya lupa Puny juga mau ngucapin Met Idul Fitri deh buat teman-teman yang merayakan, muun maap laer batin, kalo Puny punya salah yang selalu disengaja hehe, dimaapin yaa…. GBU all.. =)
Surat Buat Tuhan
Surat Buat Tuhan
Title : Patah Jiwa
Date, Time : 18.2.09, 2 p.m
Tuhan tau, kalo judul novel Mira W “Tersuruk Dalam Lumpur Cinta”, kalo aku lebih tragis, mungkin aku habis ini mau buat novel judul’e “Terseok Dalam Kubangan Lumpur”!
Hahaha…
Lha wis pie tho, saat aku emang udah bener-bener menthok sama orang tapi yang diarepke ndak isa ngimbangi aku? Apa ya cinta kudu dipaksain? Aku emang cinta dia, aku sayang dia, tapi kalo dia ndak sama ngrasain apa yang aku rasa? Tuhan.. apa ini cobaan awal buat aku sama dia? Aku sedih Tuhan. Jujur aku sangat terpukul sekali. Aku tidak tahu, apa aku masih sanggup jalani hari esok buat menyelesaikan masalah demi masalah. Tapi yang perlu Tuhan tahu, aku ingin menjalani ini dengan dia Tuhan. Cuma dengan dia seorang.. Sudah habis apa yang mau aku lakukan, sebisa mungkin aku memohon kalo Tuhan punya kehendak biar aku mati daripada menanggung sakit daripada dia juga. Jangan Tuhan temukan aku dengan orang yang aku cinta tapi pada akhirnya kami dipisahkan. Permohonanku sederhana dan jelas Tuhan. Aku ingin dia jadi milikku. Jadi suamiku. Jadi menantu untuk orangtuaku. Jadi ayah untuk anakku. Aku sadar Tuhan kami memiliki ribuan mungkin jutaan perbedaan tapi aku minta Tuhan mukjizat Tuhan biar perbedaan itu menjadi sesuatu yang unik dan bekal untuk saling melengkapi kekurangan kami…Jangan pisahkan kami Tuhan, kalau Tuhan memang mau memisahkan kami biarlah malaikat maut-Mu yang melakukan itu…
Aku ndak tahu Tuhan setelah ini pikiran dan hati dia jadi apa sama aku. Aku udah pasrahin semua sama Tuhan… Aku pasrahin hidup sama Tuhan, aku toh ndak punya andil apa-apa di hidup ini. Yang tahu Tuhan semua. Aku ndak benci sama Tuhan karna Tuhan dah manggil dia. Aku dah anggep dia sekolah da Amerika pa mana yang aku ndak bakal ketemu dia lagi. Aku ya dah coba buat ikhlas og Tuhan. Aku sekarang mbo’k temuin sama yang ini. Terus aku mau mbo’k tuntun ke mana lagi Tuhan? Jalan’e becek gini, ndak ada ojek, Lumpur kabeh.
Bales ya Tuhan? Ni surat cuma buat Tuhan, dibaca ya Tuhan? Aku dah ngetik malem-malem gini, jangan nak dibales ya Tuhan? Tak tunggu pokok’e jawaban’e Tuhan buat aku..
Title : Patah Jiwa
Date, Time : 18.2.09, 2 p.m
Tuhan tau, kalo judul novel Mira W “Tersuruk Dalam Lumpur Cinta”, kalo aku lebih tragis, mungkin aku habis ini mau buat novel judul’e “Terseok Dalam Kubangan Lumpur”!
Hahaha…
Lha wis pie tho, saat aku emang udah bener-bener menthok sama orang tapi yang diarepke ndak isa ngimbangi aku? Apa ya cinta kudu dipaksain? Aku emang cinta dia, aku sayang dia, tapi kalo dia ndak sama ngrasain apa yang aku rasa? Tuhan.. apa ini cobaan awal buat aku sama dia? Aku sedih Tuhan. Jujur aku sangat terpukul sekali. Aku tidak tahu, apa aku masih sanggup jalani hari esok buat menyelesaikan masalah demi masalah. Tapi yang perlu Tuhan tahu, aku ingin menjalani ini dengan dia Tuhan. Cuma dengan dia seorang.. Sudah habis apa yang mau aku lakukan, sebisa mungkin aku memohon kalo Tuhan punya kehendak biar aku mati daripada menanggung sakit daripada dia juga. Jangan Tuhan temukan aku dengan orang yang aku cinta tapi pada akhirnya kami dipisahkan. Permohonanku sederhana dan jelas Tuhan. Aku ingin dia jadi milikku. Jadi suamiku. Jadi menantu untuk orangtuaku. Jadi ayah untuk anakku. Aku sadar Tuhan kami memiliki ribuan mungkin jutaan perbedaan tapi aku minta Tuhan mukjizat Tuhan biar perbedaan itu menjadi sesuatu yang unik dan bekal untuk saling melengkapi kekurangan kami…Jangan pisahkan kami Tuhan, kalau Tuhan memang mau memisahkan kami biarlah malaikat maut-Mu yang melakukan itu…
Aku ndak tahu Tuhan setelah ini pikiran dan hati dia jadi apa sama aku. Aku udah pasrahin semua sama Tuhan… Aku pasrahin hidup sama Tuhan, aku toh ndak punya andil apa-apa di hidup ini. Yang tahu Tuhan semua. Aku ndak benci sama Tuhan karna Tuhan dah manggil dia. Aku dah anggep dia sekolah da Amerika pa mana yang aku ndak bakal ketemu dia lagi. Aku ya dah coba buat ikhlas og Tuhan. Aku sekarang mbo’k temuin sama yang ini. Terus aku mau mbo’k tuntun ke mana lagi Tuhan? Jalan’e becek gini, ndak ada ojek, Lumpur kabeh.
Bales ya Tuhan? Ni surat cuma buat Tuhan, dibaca ya Tuhan? Aku dah ngetik malem-malem gini, jangan nak dibales ya Tuhan? Tak tunggu pokok’e jawaban’e Tuhan buat aku..
Pernah bayangin nikah muda?
Pernah bayangin nikah muda?
Dalam benak kita di jaman serba modern ini nikah muda dianggap sesuatu yang “Aduh, gimana gitu..” Apalagi kalau disertai embel-embel udah MBA (Married By Accident) alias keelakaan atau hamil di luar nikah. Duh, bayangin aja udah ngeri, apalagi kalo ngadepin masalah gitu, kayaknya aduh mak.. Belum siap dehh..
Dituntut tanggung jawab dan kewajiban yang sangat besar. Pertanyaannya, mampu nggak kita ngadepin kaya gitu?
Kalo enggak sih ya mending ga usah, ga usah coba-coba!
Kalo pun udah berani nyoba itu juga harus siap nerima segala resikonya, apapun itu!
Aku punya temen, sebut aja namanya Mawar (duh, kaya di surat kabar aja!), dia seumuran sama aku, malah lebih muda beberapa bulan daripada aku.
Kehidupan dia dari remaja udah gak normal aku pikir. Ya, orangtuanya cerai terus ibunya menikah lagi, Mawar dan adik perempuaanya ikut bersama ayahnya. Mawar mempunyai seorang kekasih, cukup lama menjalin hubungan dengan pria ini yang juga kakak kelas kami. Sebut saja namanya Robert.
Namun setelah lulus SMU, Robert melanjutkan studinya di Negeri Bambu.
Berat hati Mawar melepas kepergian sang kekasih yang telah menemani hidupnya selama 3 tahun belakangan ini. Kasih memang tak mengenal jarak, hubungan mereka tetap berjalan sehalus dan serapi mungkin. Alat komunikasi canggih seperti Handphone hingga internet tidak pernah absen menemani hari-hari mereka. Foto terbaru mereka selalu dikirim kepada pasangannya. Mereka selalu berkomunikasi dengan sangat baik, menurutku.
Dan mereka selalu menjaga komitmen mereka masing-masing. Aku sangat salut dengan mereka. Saling percaya dan saling mencintai.
Tapi, nah ini yang tidak enak.. Karena pada setiap apa selalu ada kata tapi. Tapi rasa mencintai yang berlebihan juga tidak baik. Rasa yang berlebihan itu semakin merobek relung mereka. Singkat cerita mereka berpisah karena memang sulit untuk menjalin hubungan jarak jauh. Jikalau adapun pasti sangat sulit. Kepercayaan yang terlalu dipupuk lama-lama juga overdosis sehingga mereka memilih kata paling akhir, yaitu mencintai tidak memiliki. Pahit memang untuk mengatakan berpisah. Bagi mereka, mencintai ialah saaat mereka bisa melihat pasangan mereka tersenyum meskipun pasangannya itu bersama orang lain. Teorinya memang benar, kelihatan tegar saat mengatakan itu, tapi nyatanya? Faktanya apa? Sulit, sangat sulit.
Mawar orang yang sangat dewasa, disiplin, dan ia kuat. Tegar. Dalam keadaanya yang serba berat itu ia masih menyempatkan diri untuk mengurus rumah, semua pekerjaan rumah ia kerjakan tanpa meminta imbalan. Ia anak yang prihatin terhadap ayahnya. Saat ayahnya dalam keadaan sulit, ia selalu membuat ayahnya merasa nyaman dengan keadaannya. Ia melakukan semua pekerjaan rumah seperti memasak, mencuci, hingga mencabut rumput di halaman depan rumahnya. Ia senang sekali memasak, bahkan masakannya ia jual di sekolah untuk menambah kebutuhan keluarganya. Setelah lulus SMA, di saat setiap teman kami berangan hendak melanjutkan studi ke perguruan tinggi terkenal A, B, C atau D ia dengan santai berkata, “ Belum tahu aku mau lanjut atau mau kerja saja.”
Kerja? Kerja apa kau dengan ijazah SMA?
Ya itulah Mawar. Gigih, pantang menyeah sebelum mencoba. Cita-citanya menjadi ibu rumah tangga yang baik dan mengurus/mengasuh anaknya beserta suaminya kelak. Aku sendiri juga tidak ngeh mendengar cita-cita ini. Tapi aku bilang, apa yang kita ucapkan ialah doa untuk kita sendiri dan semoga itulah yang akan terjadi. Alam akan membawa kita pada hal-hal yang kita pikirkan. Itu yang disebut dengan law of attraction. Hukum tarik menarik.
Oke, kembali ke cerita Mawar itu tadi.
Setelah 4, 5 bulan berjalan dan kami tidak memutuskan tali komunikasi kami, kami tetap saling contact, melalui email, friendster atau SMS. Kami saling bertukar cerita. Mengenai aku, dia, dan semua yang dapat kami ungkapkan. Dia selalu memberi dukungan dan saran hingga kritik terhadap aku, apapun bentuknya, seperti doa dan semangat. Aku melihat semangat yang begitu kuat dari dirinya. Ah, betapa beruntungnya aku mengenal orang seperti Mawar. Setelah perpisahan di SMA itu, kami berpelukan untuk yang terakhir kali dan mengatakan bahwa kami akan bertemu kelak jika kami sudah sama-sama menjadi “orang” yang sukses, mempunyai keluarga bahkan anak, canda dan tawa kami waktu itu masih tersimpan jelas di pikiranku.
Selang waktu itu dia pun selalu bercerita mengenai kehidupannya sekarang. Mawar pindah ke Surabaya sejak lulus. Begitu pula dengan adiknya. Waktu itu ia berkata bahwa mimpinya mempunyai restoran, tapi menurutnya tidak mungkin jika mempunyai resto yang sukses tapi tidak mempunyai pengalaman dan modal yang kuat. Oleh karena itu ia memutuskan untuk menjadi karayawati di beberapa resto, dsb. Okelah kawan, jika itu mimpimu dan hal itu bias membuat mimpimu terwujud ya kenapa tidak? Toh pekerjaan itu tetap halal, begitu kataku.
Semua keluh kesahnya hidup di kota besar dan metropolis seperti Surabaya sudah aku dengar, seperti saat di saat ayahnya sedang meniti karir dari nol membuka toko listrik di rumahnya, belum genap dua minggu, tokonya sudah disatroni tamu tak diundang. Betapa naasnya hidup Mawar. Mereka hidup tidak mewah namun juga tidak kekurangan. Gara-gara kejadian itu ia mengurungkan niatnya yang waktu itu sedang ingin mengikuti banyak kursus, karena sudah jelas keluarga mereka sedang kekurangan uang. Jangankan kuliah, untuk mengikuti kursus pun Mawar tidak berani. Ia lebih mengutamakan sekolah adiknya daripada untuk biaya dirinya.
Aku trenyuh.
Sebulan aku sibuk hingga aku kami pun tidak saling komunikasi, kabar yang kudengar terakhir ia mendaftar pada suatu perguruan tinggi swasta di sana setelah dipaksa oleh ayahnya. Okelah, semoga sukses kawan!
Itu pun dia sudah telat dalam pendaftaran kali itu.
Aku hanya mesem.
Dua bulan kemudian aku mendengar bahwa dirinya memang sudah tidak bisa bersatu dengan kekasihnya, Robert, karena dipaksakan bagaimanapun memang ternyata hanya menimbulkan sakit luar biasa pada benak mereka. Kabar itu aku dengar tidak pada saat itu juga, jadi sudah agak lama baru aku dikabarinya. Kabar itu sudah cukup membuatku kaget setengah mati belum lagi kabar yang kedua bahwa Mawar sedang dijodohkan dengan anak kenalan neneknya yang lebih tua 11 tahun dengan dirinya! Oh my God! Kabar apalagi ini?
Pada awalnya memang aku yang jadi konsultan cintanya dengan Hendra, kekasih barunya itu. Setiap masalah yang terjadi pada Mawar selalu ditumpahkan kepadaku dan akulah yang akhirnya menjadi penasihatnya…
Oke..Oke untuk hal seperti ini aku dan Mawar memang lumayan jago, tapi Mawar untuk dirinya sendiri ia masih membutuhkan orang lain, dan orang lain itu adalah aku!
Permasalahan tanggapan karena berbeda umur memang sering menjadi pokok utama. Ia menganggap Hendra terlalu tua sehingga tidak mengerti perasaan si Mawar yang lebih muda. Ya aku bilang saja, karena dia tua makanya dia tidak mengurusi hal-hal seperti yang kamu inginkan. Hiburku waktu itu. Seperti masalah cemburu, selingkuh dengan si A atau si B sudah bukan menjadi urusan Hendra sekarang.
Curhat semacam itu sudah biasa di mataku jadi aku tidak kaget lagi setiap ada SMS masuk dengan nama pengirim : Mawar.
Suatu hari di siang bolong aa SMS dari dirinya yang mengabarkan bahwa dirinya akan menikah akhir bulan ini dengan Hendra karena dirinya tengah mengandung anak Hendra dan sudah jalan dua bulan masa kehamilannya! Benar-benar berita fantastis!
Demi Tuhan yang kukhawatirkan sekarang ialah janin yang tengah dikandung! BUKAN YANG LAIN!! Aku saat itu tidak peduli dengan dirinya dan hubungannnya dengan keluarganya, ataupun mengenai pernikahannya atau apanya! Aku tidak urusan dengan hal semacam itu! Bayi yang anugerah dari Tuhan itu bahkan tidak mengerti apa-apa! Sedangkan ibunya juga tidak tahu apa-apa mengenai dirinya dan anaknya! Gila. Benar-benar gila!
Tak bisa kubayangkan wajah Mawar saat ini. Tapi ketika kutanyakan mengenai bagaimana rasanya? Mengapa bisa begitu? Lalu apa yang hendak kau lakukan? Dan sebagainya..
Ia menjawab dengan santai..
Ya sudah terlanjur… Mau apa lagi…
Rasanya yaaaa tidak enak…Mual, ingin muntah…
Setelah ini bla…bla..bla…
Kau menyesal?
TIDAK.
AKU TIDAK MENYESAL.
Kaget lagi aku.
“AKU TIDAK MENYESAL TELAH MELAKUKANNYA KARENA PADA SAAT ITU KAMI MELAKUKAN DENGAN KESADARAN PENUH, SAMA-SAMA MAU DAN AKU TIDAK MERASA TERBEBANI DENGAN ANAK YANG TENGAH BERJUANG HIDUP INI KARENA AKU MENGINGINKANNYA MESKIPUN PADA AWALNYA MEMANG TIDAK.”
Ah, Mawar pada awalnya tidak menginginkannya.. Tapi ia sadar bahwa ia telah melakukan suatu kesalahan besar dalam hidupnya dan sekarang ia tidak mau mengulang kesalahannya lagi. Tidak mau.
Keputusannya ia akan nikah muda, ia mengetahui segala resikonuya dan ia siap untuk itu. Betapa tegar nyalinya mengarungi kehidupan yang kejam ini. Jika aku yang menjadi dia, belum tentu aku mampu menghadapinya. Karena cobaan berat itu meskipun kita sudah tahu, akan masih ada yang lebih menyulitkan kita. Jika kau punya mimpi dan aku harap mimpi itu indah sehingga apa yang kau inginkan memang benar-benar terjadi. Sesaat aku tercenung memikirkan kehidupan Mawar kelak. Namun hari yang dilalui Mawar sudah dimulai dengan banyak problema dari intern maupun ekstren. Kadang berita yang dibawa padaku sampai saat ini bertema kebahagiaan, tapi tidak jarang berita yang disodorkan padaku merupakan berita yang juga membuat kepala sedikit berat untuk memikirkannya. Sempat ingin menangis juga mendengar kabar seperti itu, di mana Mawar mulai melewati masa-masa sulitnya dalam kehidupan dua keluarga yang mempunyai karep (keinginan) sendiri-sendiri. Lalu penengah macam apa yang diharapkan Mawar saat ini? Aku sebagai kawan cuma bisa mendoakannya supaya kehidupannya membaik dan terus membaik dan semoga saja mimpi Mawar semakin indah…
Masalahnya ialah nikah muda, kata lainnya nikah dini, dan sebagainya, aku tidak tahu istilah apa yang dipakai orang jaman sekarang. Ketika orang, hm.. Aku sebut saja pasangan. Oke? Ketika sepasang insan memutuskan untuk mengikat dirinya sebagai suami istri, itu artinya mereka telah berani memutuskan bahwa komitmen yang akan dijalani berlaku seumur hidup, karena apa yang akan dilakukan suami istri tentunya akan terpatri seumur hidup pada history (sejarah) seseorang kelak hingga ajal menjemput. Ketika komitmen itu mengeras dan dipenuhi tekad yang sangat bulat, mereka harus sudah dituntut untuk mempertanggungjawabkan segala kewajibannya sebagai suami atau istri, sebagai orangtua, sebagai panutan, teladan, sebagai masyarakat, sebagai salah satu bagian kecil dalam sebuah keluarga besar, hingga sebagai mahkluk ciptaan Tuhan dalam usia dini…
Pernikahan tidak ada salahnya. Kalau embel-embelnya dini?
Apakah masih salah? Menurutku tidak juga selama mereka MAMPU itu tadi. Sudah rela dan menyanggupi semua syarat yang diajukan. Ketika seorang yang muda dan itu adalah usia di mana ia menikmati masa muda dengan mimpi-mimpi seperti oranglain, studi misalnya, dan sebagainya, ada juga orang ini yang mau menghadapi bahtera keluarga. Aku belum mengalaminya jadi aku tidak bisa berkata banyak. Mungkin khususnya bagi wanita, menjadi ibu rumah tangga ialah sesuatu yang kalem dan wajar. Menikah adalah impian setiap wanita. Punya anak, apalagi. Rasanya memang belum menjadi seorang wanita jika belum melahirkan. Tapi permasalahannya ialah letak waktunya. Mungkin nggak di jaman sekarang yang serba susah gini orang masih bercita-cita seperti itu? Mampu secara fisik, okelah. Mampu secara batin? Hm….. Aku cuma mikir apa jadinya orang melihat aku? Mampu secara materiil? Lha ini…………. Sektor paling berat ada di sini deh…. Bisa dilanjutkan sendiri jawabannya.
Dalam benak kita di jaman serba modern ini nikah muda dianggap sesuatu yang “Aduh, gimana gitu..” Apalagi kalau disertai embel-embel udah MBA (Married By Accident) alias keelakaan atau hamil di luar nikah. Duh, bayangin aja udah ngeri, apalagi kalo ngadepin masalah gitu, kayaknya aduh mak.. Belum siap dehh..
Dituntut tanggung jawab dan kewajiban yang sangat besar. Pertanyaannya, mampu nggak kita ngadepin kaya gitu?
Kalo enggak sih ya mending ga usah, ga usah coba-coba!
Kalo pun udah berani nyoba itu juga harus siap nerima segala resikonya, apapun itu!
Aku punya temen, sebut aja namanya Mawar (duh, kaya di surat kabar aja!), dia seumuran sama aku, malah lebih muda beberapa bulan daripada aku.
Kehidupan dia dari remaja udah gak normal aku pikir. Ya, orangtuanya cerai terus ibunya menikah lagi, Mawar dan adik perempuaanya ikut bersama ayahnya. Mawar mempunyai seorang kekasih, cukup lama menjalin hubungan dengan pria ini yang juga kakak kelas kami. Sebut saja namanya Robert.
Namun setelah lulus SMU, Robert melanjutkan studinya di Negeri Bambu.
Berat hati Mawar melepas kepergian sang kekasih yang telah menemani hidupnya selama 3 tahun belakangan ini. Kasih memang tak mengenal jarak, hubungan mereka tetap berjalan sehalus dan serapi mungkin. Alat komunikasi canggih seperti Handphone hingga internet tidak pernah absen menemani hari-hari mereka. Foto terbaru mereka selalu dikirim kepada pasangannya. Mereka selalu berkomunikasi dengan sangat baik, menurutku.
Dan mereka selalu menjaga komitmen mereka masing-masing. Aku sangat salut dengan mereka. Saling percaya dan saling mencintai.
Tapi, nah ini yang tidak enak.. Karena pada setiap apa selalu ada kata tapi. Tapi rasa mencintai yang berlebihan juga tidak baik. Rasa yang berlebihan itu semakin merobek relung mereka. Singkat cerita mereka berpisah karena memang sulit untuk menjalin hubungan jarak jauh. Jikalau adapun pasti sangat sulit. Kepercayaan yang terlalu dipupuk lama-lama juga overdosis sehingga mereka memilih kata paling akhir, yaitu mencintai tidak memiliki. Pahit memang untuk mengatakan berpisah. Bagi mereka, mencintai ialah saaat mereka bisa melihat pasangan mereka tersenyum meskipun pasangannya itu bersama orang lain. Teorinya memang benar, kelihatan tegar saat mengatakan itu, tapi nyatanya? Faktanya apa? Sulit, sangat sulit.
Mawar orang yang sangat dewasa, disiplin, dan ia kuat. Tegar. Dalam keadaanya yang serba berat itu ia masih menyempatkan diri untuk mengurus rumah, semua pekerjaan rumah ia kerjakan tanpa meminta imbalan. Ia anak yang prihatin terhadap ayahnya. Saat ayahnya dalam keadaan sulit, ia selalu membuat ayahnya merasa nyaman dengan keadaannya. Ia melakukan semua pekerjaan rumah seperti memasak, mencuci, hingga mencabut rumput di halaman depan rumahnya. Ia senang sekali memasak, bahkan masakannya ia jual di sekolah untuk menambah kebutuhan keluarganya. Setelah lulus SMA, di saat setiap teman kami berangan hendak melanjutkan studi ke perguruan tinggi terkenal A, B, C atau D ia dengan santai berkata, “ Belum tahu aku mau lanjut atau mau kerja saja.”
Kerja? Kerja apa kau dengan ijazah SMA?
Ya itulah Mawar. Gigih, pantang menyeah sebelum mencoba. Cita-citanya menjadi ibu rumah tangga yang baik dan mengurus/mengasuh anaknya beserta suaminya kelak. Aku sendiri juga tidak ngeh mendengar cita-cita ini. Tapi aku bilang, apa yang kita ucapkan ialah doa untuk kita sendiri dan semoga itulah yang akan terjadi. Alam akan membawa kita pada hal-hal yang kita pikirkan. Itu yang disebut dengan law of attraction. Hukum tarik menarik.
Oke, kembali ke cerita Mawar itu tadi.
Setelah 4, 5 bulan berjalan dan kami tidak memutuskan tali komunikasi kami, kami tetap saling contact, melalui email, friendster atau SMS. Kami saling bertukar cerita. Mengenai aku, dia, dan semua yang dapat kami ungkapkan. Dia selalu memberi dukungan dan saran hingga kritik terhadap aku, apapun bentuknya, seperti doa dan semangat. Aku melihat semangat yang begitu kuat dari dirinya. Ah, betapa beruntungnya aku mengenal orang seperti Mawar. Setelah perpisahan di SMA itu, kami berpelukan untuk yang terakhir kali dan mengatakan bahwa kami akan bertemu kelak jika kami sudah sama-sama menjadi “orang” yang sukses, mempunyai keluarga bahkan anak, canda dan tawa kami waktu itu masih tersimpan jelas di pikiranku.
Selang waktu itu dia pun selalu bercerita mengenai kehidupannya sekarang. Mawar pindah ke Surabaya sejak lulus. Begitu pula dengan adiknya. Waktu itu ia berkata bahwa mimpinya mempunyai restoran, tapi menurutnya tidak mungkin jika mempunyai resto yang sukses tapi tidak mempunyai pengalaman dan modal yang kuat. Oleh karena itu ia memutuskan untuk menjadi karayawati di beberapa resto, dsb. Okelah kawan, jika itu mimpimu dan hal itu bias membuat mimpimu terwujud ya kenapa tidak? Toh pekerjaan itu tetap halal, begitu kataku.
Semua keluh kesahnya hidup di kota besar dan metropolis seperti Surabaya sudah aku dengar, seperti saat di saat ayahnya sedang meniti karir dari nol membuka toko listrik di rumahnya, belum genap dua minggu, tokonya sudah disatroni tamu tak diundang. Betapa naasnya hidup Mawar. Mereka hidup tidak mewah namun juga tidak kekurangan. Gara-gara kejadian itu ia mengurungkan niatnya yang waktu itu sedang ingin mengikuti banyak kursus, karena sudah jelas keluarga mereka sedang kekurangan uang. Jangankan kuliah, untuk mengikuti kursus pun Mawar tidak berani. Ia lebih mengutamakan sekolah adiknya daripada untuk biaya dirinya.
Aku trenyuh.
Sebulan aku sibuk hingga aku kami pun tidak saling komunikasi, kabar yang kudengar terakhir ia mendaftar pada suatu perguruan tinggi swasta di sana setelah dipaksa oleh ayahnya. Okelah, semoga sukses kawan!
Itu pun dia sudah telat dalam pendaftaran kali itu.
Aku hanya mesem.
Dua bulan kemudian aku mendengar bahwa dirinya memang sudah tidak bisa bersatu dengan kekasihnya, Robert, karena dipaksakan bagaimanapun memang ternyata hanya menimbulkan sakit luar biasa pada benak mereka. Kabar itu aku dengar tidak pada saat itu juga, jadi sudah agak lama baru aku dikabarinya. Kabar itu sudah cukup membuatku kaget setengah mati belum lagi kabar yang kedua bahwa Mawar sedang dijodohkan dengan anak kenalan neneknya yang lebih tua 11 tahun dengan dirinya! Oh my God! Kabar apalagi ini?
Pada awalnya memang aku yang jadi konsultan cintanya dengan Hendra, kekasih barunya itu. Setiap masalah yang terjadi pada Mawar selalu ditumpahkan kepadaku dan akulah yang akhirnya menjadi penasihatnya…
Oke..Oke untuk hal seperti ini aku dan Mawar memang lumayan jago, tapi Mawar untuk dirinya sendiri ia masih membutuhkan orang lain, dan orang lain itu adalah aku!
Permasalahan tanggapan karena berbeda umur memang sering menjadi pokok utama. Ia menganggap Hendra terlalu tua sehingga tidak mengerti perasaan si Mawar yang lebih muda. Ya aku bilang saja, karena dia tua makanya dia tidak mengurusi hal-hal seperti yang kamu inginkan. Hiburku waktu itu. Seperti masalah cemburu, selingkuh dengan si A atau si B sudah bukan menjadi urusan Hendra sekarang.
Curhat semacam itu sudah biasa di mataku jadi aku tidak kaget lagi setiap ada SMS masuk dengan nama pengirim : Mawar.
Suatu hari di siang bolong aa SMS dari dirinya yang mengabarkan bahwa dirinya akan menikah akhir bulan ini dengan Hendra karena dirinya tengah mengandung anak Hendra dan sudah jalan dua bulan masa kehamilannya! Benar-benar berita fantastis!
Demi Tuhan yang kukhawatirkan sekarang ialah janin yang tengah dikandung! BUKAN YANG LAIN!! Aku saat itu tidak peduli dengan dirinya dan hubungannnya dengan keluarganya, ataupun mengenai pernikahannya atau apanya! Aku tidak urusan dengan hal semacam itu! Bayi yang anugerah dari Tuhan itu bahkan tidak mengerti apa-apa! Sedangkan ibunya juga tidak tahu apa-apa mengenai dirinya dan anaknya! Gila. Benar-benar gila!
Tak bisa kubayangkan wajah Mawar saat ini. Tapi ketika kutanyakan mengenai bagaimana rasanya? Mengapa bisa begitu? Lalu apa yang hendak kau lakukan? Dan sebagainya..
Ia menjawab dengan santai..
Ya sudah terlanjur… Mau apa lagi…
Rasanya yaaaa tidak enak…Mual, ingin muntah…
Setelah ini bla…bla..bla…
Kau menyesal?
TIDAK.
AKU TIDAK MENYESAL.
Kaget lagi aku.
“AKU TIDAK MENYESAL TELAH MELAKUKANNYA KARENA PADA SAAT ITU KAMI MELAKUKAN DENGAN KESADARAN PENUH, SAMA-SAMA MAU DAN AKU TIDAK MERASA TERBEBANI DENGAN ANAK YANG TENGAH BERJUANG HIDUP INI KARENA AKU MENGINGINKANNYA MESKIPUN PADA AWALNYA MEMANG TIDAK.”
Ah, Mawar pada awalnya tidak menginginkannya.. Tapi ia sadar bahwa ia telah melakukan suatu kesalahan besar dalam hidupnya dan sekarang ia tidak mau mengulang kesalahannya lagi. Tidak mau.
Keputusannya ia akan nikah muda, ia mengetahui segala resikonuya dan ia siap untuk itu. Betapa tegar nyalinya mengarungi kehidupan yang kejam ini. Jika aku yang menjadi dia, belum tentu aku mampu menghadapinya. Karena cobaan berat itu meskipun kita sudah tahu, akan masih ada yang lebih menyulitkan kita. Jika kau punya mimpi dan aku harap mimpi itu indah sehingga apa yang kau inginkan memang benar-benar terjadi. Sesaat aku tercenung memikirkan kehidupan Mawar kelak. Namun hari yang dilalui Mawar sudah dimulai dengan banyak problema dari intern maupun ekstren. Kadang berita yang dibawa padaku sampai saat ini bertema kebahagiaan, tapi tidak jarang berita yang disodorkan padaku merupakan berita yang juga membuat kepala sedikit berat untuk memikirkannya. Sempat ingin menangis juga mendengar kabar seperti itu, di mana Mawar mulai melewati masa-masa sulitnya dalam kehidupan dua keluarga yang mempunyai karep (keinginan) sendiri-sendiri. Lalu penengah macam apa yang diharapkan Mawar saat ini? Aku sebagai kawan cuma bisa mendoakannya supaya kehidupannya membaik dan terus membaik dan semoga saja mimpi Mawar semakin indah…
Masalahnya ialah nikah muda, kata lainnya nikah dini, dan sebagainya, aku tidak tahu istilah apa yang dipakai orang jaman sekarang. Ketika orang, hm.. Aku sebut saja pasangan. Oke? Ketika sepasang insan memutuskan untuk mengikat dirinya sebagai suami istri, itu artinya mereka telah berani memutuskan bahwa komitmen yang akan dijalani berlaku seumur hidup, karena apa yang akan dilakukan suami istri tentunya akan terpatri seumur hidup pada history (sejarah) seseorang kelak hingga ajal menjemput. Ketika komitmen itu mengeras dan dipenuhi tekad yang sangat bulat, mereka harus sudah dituntut untuk mempertanggungjawabkan segala kewajibannya sebagai suami atau istri, sebagai orangtua, sebagai panutan, teladan, sebagai masyarakat, sebagai salah satu bagian kecil dalam sebuah keluarga besar, hingga sebagai mahkluk ciptaan Tuhan dalam usia dini…
Pernikahan tidak ada salahnya. Kalau embel-embelnya dini?
Apakah masih salah? Menurutku tidak juga selama mereka MAMPU itu tadi. Sudah rela dan menyanggupi semua syarat yang diajukan. Ketika seorang yang muda dan itu adalah usia di mana ia menikmati masa muda dengan mimpi-mimpi seperti oranglain, studi misalnya, dan sebagainya, ada juga orang ini yang mau menghadapi bahtera keluarga. Aku belum mengalaminya jadi aku tidak bisa berkata banyak. Mungkin khususnya bagi wanita, menjadi ibu rumah tangga ialah sesuatu yang kalem dan wajar. Menikah adalah impian setiap wanita. Punya anak, apalagi. Rasanya memang belum menjadi seorang wanita jika belum melahirkan. Tapi permasalahannya ialah letak waktunya. Mungkin nggak di jaman sekarang yang serba susah gini orang masih bercita-cita seperti itu? Mampu secara fisik, okelah. Mampu secara batin? Hm….. Aku cuma mikir apa jadinya orang melihat aku? Mampu secara materiil? Lha ini…………. Sektor paling berat ada di sini deh…. Bisa dilanjutkan sendiri jawabannya.
Kamis, Juli 31, 2008
sederhana teman sejati
Cuma teman sejati yang gak penah mati.
Teman yang tidak pilih kasih itu teman sejati.
Teman yang rela berkorban itu teman sejati.
Teman yang memikirkan temannya itu teman sejati.
Teman yang selalu ada walaupun jarak memisahkan itu teman sejati.
Teman yang sedikit tetapi benar memahami kita lebih baik daripada
teman yang banyak tetapi tidak memahami.
Teman tidak pergi saat kita membutuhkan.
Teman tidak mengatur hidup kita.
Teman bukan sahabat yang harus sehidup semati.
Teman tidak mengritik kita tetapi memberi solusi.
Teman memberi kebebasan, bukan mengurung kita dalam suatu kemunafikan.
Teman bukan mengekang melainkan memberi kenyamanan.
Teman yang tidak pilih kasih itu teman sejati.
Teman yang rela berkorban itu teman sejati.
Teman yang memikirkan temannya itu teman sejati.
Teman yang selalu ada walaupun jarak memisahkan itu teman sejati.
Teman yang sedikit tetapi benar memahami kita lebih baik daripada
teman yang banyak tetapi tidak memahami.
Teman tidak pergi saat kita membutuhkan.
Teman tidak mengatur hidup kita.
Teman bukan sahabat yang harus sehidup semati.
Teman tidak mengritik kita tetapi memberi solusi.
Teman memberi kebebasan, bukan mengurung kita dalam suatu kemunafikan.
Teman bukan mengekang melainkan memberi kenyamanan.
Minggu, Juli 20, 2008
Trandsetter!! Sabun Lux juga Bisa Jadi Shampoo!!
Critanya sih agak – agak senewen gitu mikirin temen SMP gue..
Gara – gara nya mau kuliah aja sampe senewen.. Lah, apa hubungannya coba? Ada dunk.. Tiap masalah pasti ada sebab akibatnya.. Pengennya si satu Universitas gitu sama temen – temen semasa SMP.. Sukur – sukur juga bisa satu Fakultas.. Tapi kok hawanya Tuhan gak ngijinin ya.. Lha udah gimana.. Taun ini kayaknya dikit banget yang masuk FH Unika… Ada si Bebek tuh yang juga masuk FH.. Tp sedihnya ya itu.. Gak satu Univ.. Setelah dilakukan berbagai cara and menyogok sana – sini dengan segenep hati ( alah,,,) akhirnya mau juga tuh Bebek masuk Unika… Fiuh.. Thank’s bgt ya Bek, gue gak bisa ungkapin say thank’s gue ke lu kalo lu bener – bener mau ngorbanin UNDIP, ITS, and UBAYA lu ntuk menuhi janji lu buat nemenin gue di Unika.. Fuh.. thanks juga buat si Nona Balerina yang udah mau bantu gue ngebujukin Bebek buat masuk Unika.. Tapi dasar nasib tuh gak kemana, Pun..
Gini – gini, musti masih pada gak mudeng yah sama sapa gitu Nona Balerina tuh.. ya itu tadi, Nona Balerina teh temen dari SD gitu.. Trus critanya dia masuk Akuntansi.. Lah, sah2 aja kan kalo dia juga bantu Puni ngejakin Bebek masuk Unika.. Duh, demi Tuhan,,ngajak Bebek tu lebih sulit daripada ngerjain soal UN kemarin!! Sumpe.. Cuma gara – gara ada mantan ceweknya aja dia ngerelain pindah ke Suroboyo.. Tengil banget tuh Bebek satu tuh! Padahal jelas – jelas nih ya Bek, gue puterin satu kali lagi apa aja faedahnya lu kuliah di Semarang :
C’ mon read it kalo masih tanya, apa seh enaknya di Unika :
1. Ada GUE.. jelas banget partner Anda 4 tahun ke depan udah terjamin.. GUE kan rajin, keren, beken, cakep, ngumpulin tugas tepat waktu, selalu dengerin Guru gitu lho, Bek.. ( suer gue yakin 100% kalo lu lagi baca blog gue yang ini so pasti udah muntah – muntah..^^)
2. Ada Bokap lu, Bapak Haryanto, S.H Lawyer terkemuka plus Dosen S2 di UNDIP and UNIKA yang setiap waktu setiap saat siap membanu dan mendampingi kapan aja dimana aja lu berada.. Gile..Kurang apa, Bek?
3. Di Unika ntar bakal ketemu Dhedhes, Nia, Elin, Tonk2, GUE!! Sobat lu sejak duduk di bangku SMP.. Kurang apa,Bek? (sumpeh kalo lu pindah Sby tuh TEGEL PISAN, euy..)
4. Kehidupan and jajanan Semarang terkenal MURAH!! Udah pasti!! Terbukti! Gak usah pake kos2an segala..
5. Bingung sama mantan lu? Duh Bek.. Hari gini pusing ama jatuh cintrong? Buka mata buka telinga, Bos..^^
Kurang apa sih Bek? Busyet dah..
Serius seneng banget gue kalo akhirnya lu bener – bener masuk Unika, Bek.. Fiuh, dunia terasa menyenangkan.. Hahaha..
Selesai uda satu perkara, eh datang lagi deh perkara yang lain.. Masak si Dhedhes Balerina kecil tuh mau pindah UnPad Bandung!! Gimana gak stress mikirin manusia satu tuh!! Huh.. Keki abis.. Jelas keki gitu orang dia udah pasti – pasti banget ngeyakinin gue mau di SMG eh taunya gak pake bilang – bilang gue lagi kalo mau pindah Bandung! Nyebelin gak seh! Padahal uda mikir sampe OSPEK and sewa kos sgala! Sumpah Dhes kalo lu baca blog gue, LU EMANG GILA!! Lu tau gue nulis ni blog sambil kremus2 makan usus goreng saking gemes nya gue ama lu! $)%*&!!
Sialnya gara – gara ngelamunin gimana caranya biar Dhedhes tetep di Semarang sampe pagi – pagi buta gue mandi.. Eh.. Kudunya rambut gue yang udah bersih wangi semerbak pake sampo kakak gue ( sorry ce, sampo lu gue abis2in!) hehe.. merknya kalo gak salah : Pantene Pro – V Hair Fall Control Shampoo ( bau nya asik, bo!) btw kok gue jadi iklan gini.. Suer baunya bikin seger gitu..Kapan – kapan cobain deh.. Seru wanginya! Duh gue udah persis banget jadi bintang iklan shampoo Pantene! Terus yah itu, sambil ngelamunin cari cara biar Dhedhes di SMG aja gue sampe bilang sama hati gue sendiri, “ Siapa aja yang bisa bikin Dhedhes tetep di SMG, gue bakal berterimakaih banget sama lu orang!!”
Jeleknya sambil mo’on – mo’on gak ada tujuannya gitu gue dengan santainya mengusapkan Lux Vibrant Citrus nya kakak gue ke rambut gue!! Sableng banget! Akhirnya gue sadar kalo sabun Lux wangi Orange feat Kiwi and Grapefruit itu udah berbusa tinggi di kepala gue.. Hebat khan…
Alhasil sampe gue kelar mandi rambut gue masih bau – bau jeruk gitu.. Hahah..
Pusing gue mikir temen ampe bener – bener blank..
Buat Be2k and Dhedhes.. Ini gara – gara lu pada, tauk??!
Huhuhuhu..
Dasar jangkriik lu pada.. Eh, ujung – ujungnya kelar mandi, HP gue bunyi tuh.. SMS nya Dhedhes, dy Cuma bilang kalo dia gak ketrima UnPad dia bakal tetep di Unika.. ( Demi Tuhan mungkin kalian pada ngira gue jaat banged, tapi kali ini gue mohon2 gitu sama Tuhan biar si Dhedhes gak ketrima di UnPad!) =< jelek ya gue?? Kikikikik..
Panik banget deh gue kemarin sampe SMS Elin ( motorik EG ) biasaaa laaa.. Elin gitu, sapa sheh yg gak luluh?! He2.. Elin juga SMS Dhedhes, intinya ya itu tadi.. Pokoknya Dhedhes kudu di Semarang. Titik. Gak pake koma!!
Fuh.. Lin.. Moga – moga Dhedhes nurut ama omongan lu…. Nangis darah deh kalo gak.. =(
Asal lu pada tau.. Gue bener – bener ngarepin kalian pada di Semarang ja.. Unika, Unika, bravo Unika! Hohoho…
Gara – gara nya mau kuliah aja sampe senewen.. Lah, apa hubungannya coba? Ada dunk.. Tiap masalah pasti ada sebab akibatnya.. Pengennya si satu Universitas gitu sama temen – temen semasa SMP.. Sukur – sukur juga bisa satu Fakultas.. Tapi kok hawanya Tuhan gak ngijinin ya.. Lha udah gimana.. Taun ini kayaknya dikit banget yang masuk FH Unika… Ada si Bebek tuh yang juga masuk FH.. Tp sedihnya ya itu.. Gak satu Univ.. Setelah dilakukan berbagai cara and menyogok sana – sini dengan segenep hati ( alah,,,) akhirnya mau juga tuh Bebek masuk Unika… Fiuh.. Thank’s bgt ya Bek, gue gak bisa ungkapin say thank’s gue ke lu kalo lu bener – bener mau ngorbanin UNDIP, ITS, and UBAYA lu ntuk menuhi janji lu buat nemenin gue di Unika.. Fuh.. thanks juga buat si Nona Balerina yang udah mau bantu gue ngebujukin Bebek buat masuk Unika.. Tapi dasar nasib tuh gak kemana, Pun..
Gini – gini, musti masih pada gak mudeng yah sama sapa gitu Nona Balerina tuh.. ya itu tadi, Nona Balerina teh temen dari SD gitu.. Trus critanya dia masuk Akuntansi.. Lah, sah2 aja kan kalo dia juga bantu Puni ngejakin Bebek masuk Unika.. Duh, demi Tuhan,,ngajak Bebek tu lebih sulit daripada ngerjain soal UN kemarin!! Sumpe.. Cuma gara – gara ada mantan ceweknya aja dia ngerelain pindah ke Suroboyo.. Tengil banget tuh Bebek satu tuh! Padahal jelas – jelas nih ya Bek, gue puterin satu kali lagi apa aja faedahnya lu kuliah di Semarang :
C’ mon read it kalo masih tanya, apa seh enaknya di Unika :
1. Ada GUE.. jelas banget partner Anda 4 tahun ke depan udah terjamin.. GUE kan rajin, keren, beken, cakep, ngumpulin tugas tepat waktu, selalu dengerin Guru gitu lho, Bek.. ( suer gue yakin 100% kalo lu lagi baca blog gue yang ini so pasti udah muntah – muntah..^^)
2. Ada Bokap lu, Bapak Haryanto, S.H Lawyer terkemuka plus Dosen S2 di UNDIP and UNIKA yang setiap waktu setiap saat siap membanu dan mendampingi kapan aja dimana aja lu berada.. Gile..Kurang apa, Bek?
3. Di Unika ntar bakal ketemu Dhedhes, Nia, Elin, Tonk2, GUE!! Sobat lu sejak duduk di bangku SMP.. Kurang apa,Bek? (sumpeh kalo lu pindah Sby tuh TEGEL PISAN, euy..)
4. Kehidupan and jajanan Semarang terkenal MURAH!! Udah pasti!! Terbukti! Gak usah pake kos2an segala..
5. Bingung sama mantan lu? Duh Bek.. Hari gini pusing ama jatuh cintrong? Buka mata buka telinga, Bos..^^
Kurang apa sih Bek? Busyet dah..
Serius seneng banget gue kalo akhirnya lu bener – bener masuk Unika, Bek.. Fiuh, dunia terasa menyenangkan.. Hahaha..
Selesai uda satu perkara, eh datang lagi deh perkara yang lain.. Masak si Dhedhes Balerina kecil tuh mau pindah UnPad Bandung!! Gimana gak stress mikirin manusia satu tuh!! Huh.. Keki abis.. Jelas keki gitu orang dia udah pasti – pasti banget ngeyakinin gue mau di SMG eh taunya gak pake bilang – bilang gue lagi kalo mau pindah Bandung! Nyebelin gak seh! Padahal uda mikir sampe OSPEK and sewa kos sgala! Sumpah Dhes kalo lu baca blog gue, LU EMANG GILA!! Lu tau gue nulis ni blog sambil kremus2 makan usus goreng saking gemes nya gue ama lu! $)%*&!!
Sialnya gara – gara ngelamunin gimana caranya biar Dhedhes tetep di Semarang sampe pagi – pagi buta gue mandi.. Eh.. Kudunya rambut gue yang udah bersih wangi semerbak pake sampo kakak gue ( sorry ce, sampo lu gue abis2in!) hehe.. merknya kalo gak salah : Pantene Pro – V Hair Fall Control Shampoo ( bau nya asik, bo!) btw kok gue jadi iklan gini.. Suer baunya bikin seger gitu..Kapan – kapan cobain deh.. Seru wanginya! Duh gue udah persis banget jadi bintang iklan shampoo Pantene! Terus yah itu, sambil ngelamunin cari cara biar Dhedhes di SMG aja gue sampe bilang sama hati gue sendiri, “ Siapa aja yang bisa bikin Dhedhes tetep di SMG, gue bakal berterimakaih banget sama lu orang!!”
Jeleknya sambil mo’on – mo’on gak ada tujuannya gitu gue dengan santainya mengusapkan Lux Vibrant Citrus nya kakak gue ke rambut gue!! Sableng banget! Akhirnya gue sadar kalo sabun Lux wangi Orange feat Kiwi and Grapefruit itu udah berbusa tinggi di kepala gue.. Hebat khan…
Alhasil sampe gue kelar mandi rambut gue masih bau – bau jeruk gitu.. Hahah..
Pusing gue mikir temen ampe bener – bener blank..
Buat Be2k and Dhedhes.. Ini gara – gara lu pada, tauk??!
Huhuhuhu..
Dasar jangkriik lu pada.. Eh, ujung – ujungnya kelar mandi, HP gue bunyi tuh.. SMS nya Dhedhes, dy Cuma bilang kalo dia gak ketrima UnPad dia bakal tetep di Unika.. ( Demi Tuhan mungkin kalian pada ngira gue jaat banged, tapi kali ini gue mohon2 gitu sama Tuhan biar si Dhedhes gak ketrima di UnPad!) =< jelek ya gue?? Kikikikik..
Panik banget deh gue kemarin sampe SMS Elin ( motorik EG ) biasaaa laaa.. Elin gitu, sapa sheh yg gak luluh?! He2.. Elin juga SMS Dhedhes, intinya ya itu tadi.. Pokoknya Dhedhes kudu di Semarang. Titik. Gak pake koma!!
Fuh.. Lin.. Moga – moga Dhedhes nurut ama omongan lu…. Nangis darah deh kalo gak.. =(
Asal lu pada tau.. Gue bener – bener ngarepin kalian pada di Semarang ja.. Unika, Unika, bravo Unika! Hohoho…
Minggu, Juli 13, 2008
no title
Nantinya aku bakal melebur bersama debu – debu itu
Kau lihat aku?
Masih bercumbu aku dengan senyap dalam debu
Jangan pusingkan kesepianku!
Tidak lagi monoton dengan orang – orang berjas
dan berdasi lagi
Kau ingat saat aku menjadi seperti mereka?
Kau sepertinya sudah lupa seperti apa rupaku
Kau lihat aku?
Masih bercumbu aku dengan senyap dalam debu
Jangan pusingkan kesepianku!
Tidak lagi monoton dengan orang – orang berjas
dan berdasi lagi
Kau ingat saat aku menjadi seperti mereka?
Kau sepertinya sudah lupa seperti apa rupaku
Rabu, Juli 09, 2008
Habis
Saat termenung mencari kurung
Melukis sudut singgung
yang tak rampung – rampung
Suruh saja orang kampung
Mengganti relung menjadi gunung
Melukis sudut singgung
yang tak rampung – rampung
Suruh saja orang kampung
Mengganti relung menjadi gunung
Hujan (ku)
Kau pergi lagi
Kau mendekat lagi
Setelah itu pergi lagi
Jauh
Namun tak kembali lagi
Kau sapa hujan dalam aku
Yang tak mau reda
Hai, ini hujan justru deras lagi!
Kau pergi lagi
Kau datang lagi
Saat aku diam tertunggu
Kau justru pergi lagi
Mencari hujan yang menunggu
Menemui luka yang menganga
Lagi
Tidak lagi dalam aku
Kau mendekat lagi
Setelah itu pergi lagi
Jauh
Namun tak kembali lagi
Kau sapa hujan dalam aku
Yang tak mau reda
Hai, ini hujan justru deras lagi!
Kau pergi lagi
Kau datang lagi
Saat aku diam tertunggu
Kau justru pergi lagi
Mencari hujan yang menunggu
Menemui luka yang menganga
Lagi
Tidak lagi dalam aku
Sama - Sama Mati
Hari ini akan menjadi esok
Kau akan disebut besok, dulu, atau tahun lalu
Kau tidak melihatku pada hari ini
Apakah aku sudah mati?
Kali – kali aku yang buta melihat engkau
Apakah aku sudah mati?
Barangkali hatiku yang tak melihat engkau
Apakah kau sedang mati?
Malah kau guru yang mengajariku arti kematian
Mati hari ini sama saja mati esok
Toh hari ini akan menjadi esok
Mungkin buatmu esok dan hari ini sama saja
Sama – sama mati
Kau akan disebut besok, dulu, atau tahun lalu
Kau tidak melihatku pada hari ini
Apakah aku sudah mati?
Kali – kali aku yang buta melihat engkau
Apakah aku sudah mati?
Barangkali hatiku yang tak melihat engkau
Apakah kau sedang mati?
Malah kau guru yang mengajariku arti kematian
Mati hari ini sama saja mati esok
Toh hari ini akan menjadi esok
Mungkin buatmu esok dan hari ini sama saja
Sama – sama mati
Dear Guangzhou
Jika tantangan ialah kamu
Jika kesukaran adalah menemukamu
Jika jatuh bangun adalah menuliskan namamu
Maka sederhana menulis adalah pilihan ku
Meskipun puisi dan novel bertabur namamu
Aku hanya saja tidak berani menceritakan
Tentang kamu pada dunia
Hanya cukup aku dan selembar
Bahkan berlembar – lembar
Ketika itu aku akan lega
Bahwa aku sudah menaklukan tantangan
Bahwa aku dapat melewati kesukaran
dan aku bangun dengan menulismu
Dalam bambu kokoh di nafas mu
Jika kesukaran adalah menemukamu
Jika jatuh bangun adalah menuliskan namamu
Maka sederhana menulis adalah pilihan ku
Meskipun puisi dan novel bertabur namamu
Aku hanya saja tidak berani menceritakan
Tentang kamu pada dunia
Hanya cukup aku dan selembar
Bahkan berlembar – lembar
Ketika itu aku akan lega
Bahwa aku sudah menaklukan tantangan
Bahwa aku dapat melewati kesukaran
dan aku bangun dengan menulismu
Dalam bambu kokoh di nafas mu
Kamis, Juli 03, 2008
KOPI dan HIDUP
Apa persamaan hidup dan kopi? Hayo, ada yang tau? Ada yang bisa jawab?
Aku kadang berpikir hidup emang seperti kopi. Bagi yang membaca I hope kalian pada doyan kopi.. Yaa, minimal pernah nenggak kopi barang 1 gelas gitu..
Buat pertama yang minum kopi pertama kali ada juga beberapa perasaan yang berbeda – beda. Ditilik dari usia pengonsumsi juga sih.
Ada anak kecil yang tiru – tiru Ayahnya. Ia ingin sekali merasakan minuman berwarna hitam itu yang setiap pagi selalu menyita waktu Ayahnya barang 10 menit sebelum berangkat ke kantor. Setelah anak itu menenggak kopi, nyengir dia. Baru tahu rasa dia.
“ Yah, Ayah kok suka minuman kayak ginian? Udah pait, item, gak enak lagi!” begitu celoteh si Anak sambil neloyor pergi mencari minuman favoritnya, air putih.
Si Ayah hanya tersenyum mendengar itu.
Lain juga dengan Si Ibu. Si Ibu yang mendampingi Si Ayah yang cukup sekian lama itu setiap hari tidak lelahnya ia bercakap. “ Yah, kopi itu kan tidak baik untuk kesehatan. Ayah kan sudah mulai berumur, kurangi kopi dong.. Kebanyakan kopi tidak baik lho, Yah. Bisa berakibat buruk bagi jantungmu.” Tapi tetap saja setiap pagi ada secangkir kopi yang sudah tersiap di meja makan. Selalu begitu. Dengan cangkir bening plus tatakan cangkir, hangat, tanpa sendok, tanpa ampas, tanpa gula. Begitu seterusnya.
Bagi kalangan – kalangan tersendiri kopi sudah menjadi bagian dari hidup. Lho, kok bisa? Emangnya kenapa kok bisa begitu? Apa hubungannya dengan hidup? Kopi memang sudah menjadi candu hidup. Bahkan aku kadang merasa bahwa hidup seperti kopi, kopi seperti hidup.
Kopi yang kita minum biasanya manis di awal, di permukaannya, di aromanya, di seluruh warnanya, terlihat begitu menggoda, ingin segera cepat – cepat dihabiskannya Si Hitam itu.
Setelah di tenggorokan mulai ada perubahannya, rasa manis itu mulai sedikit asam dan menendang di tengah tenggorokan. Baru di kerongkongan kita merasa ditendang keras – keras oleh si empunya pahit itu sendiri.
Nah, sensasi inilah yang selalu dicari orang. Tak lekang oleh waktu. Rasa kopi itu – itu saja. Hanya pintar manusia saja yang mencari tambahan untuk mencampurkan kopi dengan banyak bahan lainnya. Ada yang dicampur gula, krimer, susu, rum, mocca, teh, ice cream, soda, dan masih banyak lagi.
Tapi rasanya tetap saja, pahit di tenggorokan. Justru pahit itulah yang menjadi kenikmatan Si Peminum.
Lebih tepatnya, manusia – manusia itu malah tidak ada yang berani menghilangkan rasa kopi yang khas tersebut! Hehe..
Semakin dia mengonsumsi, semakin jelas dia tidak bisa meninggalkan kopi tersebut.
Kopi memang candu, kopi memang menyesakkan lambung, kopi memang membawa petaka namun kopi mempunyai banyak manfaat di balik itu semua.
Hidup kadang seperti kopi. Kadang kenikmatan yang bukan nikmat justru menjadi sesuatu yang perlu kita renungi, layaknya meminum kopi saat merenung. Merenunglah tentang hidup melalui kopi. Bukan menjadikan kopi pelampiasan. Namun kopi membuat kita menjadi fokus. Sebuah penelitian di Amerika mengatakan bahwa baiknya minumlah kopi 15 – 30 menit sebelum kalian bekerja atau melakukan wawancara dengan atasan Anda. Sebab dengan meminum kopi rangsangan kafein yang diterima oleh saraf / impuls kita menjadikan peredaran darah kita ke otak menjadi semakin lancar. Begitulah.
Kadang hidup juga selalu dipesankan agar tidak selalu memaksakan kehendak. Lagi – lagi kita sangkutkan dengan kopi. Kopi yang rasanya seperti itu janganlah kita memasukkan banyak – banyak gula yang manis padanya. Kopi 1 bagian tetapi gula 3 bagian. Sungguh tidak imbang. Toh kopi tidak akan kehilangan rasanya. Selalu seperti itu.
Hm, bukannya kita memang mencari sensasi itu?
Kalau mau manis minum saja sirup atau limun, jangan kopi.
Terbukti dengan semakin banyaknya warung, kedai, sampai cafĂ© yang menjual minuman ini dengan berbagai jenisnya. Mulai dari kopi hangat dan kopi es. Kopi tubruk, kopi susu, kopi rum, kopi mocca, kopi jahe, kopi manis, kopi luwak dan segrendel nama – nama kopi itu.
Nah, hidup jadi seperti kopi bukan? Di saat kita sedang mengalami kepahitan hidup kadang kita tersenyum simpul saat menikmatinya, betul juga kalau kopi itu seperti hidup. Dicampur dengan apa saja kok tetap saja. Pahit.
Pahit nya itu punya sensasi. Ya kalo hidup biasa disebut HIKMAH. Di mana terakhirnya kita merasakan ada sesuatu yang unik dan menyenangkan di balik kepahitan itu.
Setuju?
Aku kadang berpikir hidup emang seperti kopi. Bagi yang membaca I hope kalian pada doyan kopi.. Yaa, minimal pernah nenggak kopi barang 1 gelas gitu..
Buat pertama yang minum kopi pertama kali ada juga beberapa perasaan yang berbeda – beda. Ditilik dari usia pengonsumsi juga sih.
Ada anak kecil yang tiru – tiru Ayahnya. Ia ingin sekali merasakan minuman berwarna hitam itu yang setiap pagi selalu menyita waktu Ayahnya barang 10 menit sebelum berangkat ke kantor. Setelah anak itu menenggak kopi, nyengir dia. Baru tahu rasa dia.
“ Yah, Ayah kok suka minuman kayak ginian? Udah pait, item, gak enak lagi!” begitu celoteh si Anak sambil neloyor pergi mencari minuman favoritnya, air putih.
Si Ayah hanya tersenyum mendengar itu.
Lain juga dengan Si Ibu. Si Ibu yang mendampingi Si Ayah yang cukup sekian lama itu setiap hari tidak lelahnya ia bercakap. “ Yah, kopi itu kan tidak baik untuk kesehatan. Ayah kan sudah mulai berumur, kurangi kopi dong.. Kebanyakan kopi tidak baik lho, Yah. Bisa berakibat buruk bagi jantungmu.” Tapi tetap saja setiap pagi ada secangkir kopi yang sudah tersiap di meja makan. Selalu begitu. Dengan cangkir bening plus tatakan cangkir, hangat, tanpa sendok, tanpa ampas, tanpa gula. Begitu seterusnya.
Bagi kalangan – kalangan tersendiri kopi sudah menjadi bagian dari hidup. Lho, kok bisa? Emangnya kenapa kok bisa begitu? Apa hubungannya dengan hidup? Kopi memang sudah menjadi candu hidup. Bahkan aku kadang merasa bahwa hidup seperti kopi, kopi seperti hidup.
Kopi yang kita minum biasanya manis di awal, di permukaannya, di aromanya, di seluruh warnanya, terlihat begitu menggoda, ingin segera cepat – cepat dihabiskannya Si Hitam itu.
Setelah di tenggorokan mulai ada perubahannya, rasa manis itu mulai sedikit asam dan menendang di tengah tenggorokan. Baru di kerongkongan kita merasa ditendang keras – keras oleh si empunya pahit itu sendiri.
Nah, sensasi inilah yang selalu dicari orang. Tak lekang oleh waktu. Rasa kopi itu – itu saja. Hanya pintar manusia saja yang mencari tambahan untuk mencampurkan kopi dengan banyak bahan lainnya. Ada yang dicampur gula, krimer, susu, rum, mocca, teh, ice cream, soda, dan masih banyak lagi.
Tapi rasanya tetap saja, pahit di tenggorokan. Justru pahit itulah yang menjadi kenikmatan Si Peminum.
Lebih tepatnya, manusia – manusia itu malah tidak ada yang berani menghilangkan rasa kopi yang khas tersebut! Hehe..
Semakin dia mengonsumsi, semakin jelas dia tidak bisa meninggalkan kopi tersebut.
Kopi memang candu, kopi memang menyesakkan lambung, kopi memang membawa petaka namun kopi mempunyai banyak manfaat di balik itu semua.
Hidup kadang seperti kopi. Kadang kenikmatan yang bukan nikmat justru menjadi sesuatu yang perlu kita renungi, layaknya meminum kopi saat merenung. Merenunglah tentang hidup melalui kopi. Bukan menjadikan kopi pelampiasan. Namun kopi membuat kita menjadi fokus. Sebuah penelitian di Amerika mengatakan bahwa baiknya minumlah kopi 15 – 30 menit sebelum kalian bekerja atau melakukan wawancara dengan atasan Anda. Sebab dengan meminum kopi rangsangan kafein yang diterima oleh saraf / impuls kita menjadikan peredaran darah kita ke otak menjadi semakin lancar. Begitulah.
Kadang hidup juga selalu dipesankan agar tidak selalu memaksakan kehendak. Lagi – lagi kita sangkutkan dengan kopi. Kopi yang rasanya seperti itu janganlah kita memasukkan banyak – banyak gula yang manis padanya. Kopi 1 bagian tetapi gula 3 bagian. Sungguh tidak imbang. Toh kopi tidak akan kehilangan rasanya. Selalu seperti itu.
Hm, bukannya kita memang mencari sensasi itu?
Kalau mau manis minum saja sirup atau limun, jangan kopi.
Terbukti dengan semakin banyaknya warung, kedai, sampai cafĂ© yang menjual minuman ini dengan berbagai jenisnya. Mulai dari kopi hangat dan kopi es. Kopi tubruk, kopi susu, kopi rum, kopi mocca, kopi jahe, kopi manis, kopi luwak dan segrendel nama – nama kopi itu.
Nah, hidup jadi seperti kopi bukan? Di saat kita sedang mengalami kepahitan hidup kadang kita tersenyum simpul saat menikmatinya, betul juga kalau kopi itu seperti hidup. Dicampur dengan apa saja kok tetap saja. Pahit.
Pahit nya itu punya sensasi. Ya kalo hidup biasa disebut HIKMAH. Di mana terakhirnya kita merasakan ada sesuatu yang unik dan menyenangkan di balik kepahitan itu.
Setuju?
Langganan:
Postingan (Atom)