Sabtu, Agustus 07, 2010

MENGENAL HUKUM KEPABEAN HINGGA REKONSTRUKSI SISTEMNYA

Judul Buku : Rekonstruksi Sistem Hukum Pabean Indonesia
Penerbit : Penerbit Erlangga
Penulis : Eddhie Sutarto
Tebal : xi + 122 halaman , 25 cm;17,5 cm
Cetakan : 2010



Membahas sistem hukum kepabean rupanya hal yang sangat jarang sekali dilakukan dengan pendekatan ilmu hukum. Jika mendengar kata kepabean, pasti tak jauh pikiran kita tentang kerumitan perpajakan dan percukaian pula. Buku ini berpengantar dengan pola dasar hukum sendiri dan sejarah perkembangan hukum kepabean di Indonesia. Bagaimana reformasi sistem kepabean bisa tercipta serta perbandingannya dengan masa-masa VOC hingga masa reformasi. Menarik apabila kita mendapati berbagai aturan mengenai kepabean karena yang mengatur tidak hanya ranah negara (nasional) namun juga ranah internasional. Ini jelas bisa menjadi ketentuan pembanding dengan sistem di luar negeri. Menarik pula karena di akhir buku ini ditambahkan dengan rumus penghitungan bea masuk, bea keluar, serta klasifikasi barang untuk menentukan bea barang (HS Convetion, hal 71).
Rekonstruksi dipahami dengan mengganti sebagian sistem, lain halnya dengan dekonstruksi, yang mengganti semuanya. Pergantian sebagian sistem ini didasarkan pada subsistem-subsistem yang tidak selaras dengan semangat kemerdekaan dan semangat reformasi sehingga kekurangan itu diganti dengan subsistem yang menunjang penyelenggaraan pemerintah menuju masyarakat adil dan makmur. Paling tidak mampu ‘meratifikasi’ produk hukum internasional yang telah disepakati. Itu salah satu harapan penulis terhadap rekonstruksi kepabean di Indonesia.
Asas self assesmest yang cukup terkenal bagi pemerhati hukum kepabean tertuang dalam buku ini, asas penetapan sendiri ini masih diterapkan dalam masyarakat kita karena patokan yang digunakan adalah “customs control have therefore been devised on the basic hypothesis that all people are dishonest”- hal ini tertuang dalam Colombus Declarations-. Cukup menunjang prinsip pengawasan bahwa semua barang yang masuk ke daerah kepabean harus diawasi oleh instansi kepabean.
Secara umum buku ini cukup baik menambah kekayaan pengetahuan mengenai kepabean, pajak, dan cukai bagi semua kalangan. Sangat disayangkan setelah penulis memperinci tentang hukum beracara, yaitu seperti tertuang di peraturan mengenai tata cara sita, tata cara pengajuan keberatan atau eksekusi putusan justru tidak memperinci ketentuan (peraturan) yang sedang berlaku saat ini. Jika mau berbicara acara pidana misalnya, proses penyidikan juga sedikit membingungkan pembaca karena adanya proses penangkapan dan penahanan langsung di dalam penyidikan. Beralih ke proses eksekusi, ternyata juga dirasa kurang begitu memuaskan karena perturan yang dipakai tidak tertera dalam paragraf ini (hal. 133). Juga mengenai upaya hukum yang dicapai jika subjek hukum hendak mengajukan. Kita tahu bahwa Penijauan Kembali (PK) merupakan upaya hukum terakhir yang diajukan, namun tidak demikian di dalam buku ini, Peninjauan Kembali hanya dijelaskan dalam bab Pengadilan Pajak, tidak dalam upaya hukum.
Ada baiknya jika hendak mengulas mengenai proses beracara ini dilakukan dalam buku tersendiri dan tentunya harus lebih jelas dengan hukum positiv saat ini. Sebagai buku referensi penunjang (teori), buku ini sudah cukup baik dan bisa dimiliki oleh semua kalangan khususnya pemerhati sistem kepabean di Indonesia. Selamat membaca!

IKLAN, HARUSKAH SELALU BEROBJEK PEREMPUAN?

Bukan tak mungkin berbicara mengenai perempuan sebagai objek komoditi pasar, karena memang seperti itulah keadaan yang terjadi pada perempuan kita. Media yang seharusnya berperan sebagai ruang penyalur citra justru menjadi wadah bagi para pengusaha dan persaingan pasar global yang menjadikan perempuan sebagai sumber penghasilan. Berangkat dari kenyataan sepertri iklan yang ditampilkan kepada masyarakat sebagai penikmat media, ditemui dan dapat dipastikan bahwa iklan tak jauh dari peran perempuan di dalamnya. Selalu ada sosok perempuan yang ditampilkan dalam sebuah iklan. Seolah-olah, jika tanpa perempuan, iklan dianggap tak menarik, ada sesuatu yang kurang dalam sebuah cerita iklan, seakan akan (atau lebih tepat, pada kenyataannya) tubuh perempuan dijadikan magnet besar dalam pasar.

Konstruksi masyarakat terhadap sesuatu jelas mempengaruhi media massa, di sini media yang dimaksud ialah iklan. Demikian halnya jika iklan dianggap sebagai alat yang sangat berpengaruh di media massa, maka pernyataan Agus Maladi Irianto (Suara Merdeka edisi Minggu 16 Mei 2010 Hal. 19 Bianglala, LATAR) yang menyatakan bahwa audience hanya menelan apa saja yang disajikan media bisa kita rekonstruksi. Iklan merupakan salah satu unsur pembentuk (konstruksi) masyarakat kita. Jika iklan dianggap seolah-olah muncul tanpa ada maksud dan tujuan, itu jelas kurang tepat. Justru kita sadari bahwa bisa munculnya iklan itu jelas karena ada ‘sesuatu’ di dalamnya. ‘Sesuatu’ ini berasal dari konstruksi yang hidup dalam masyarakat tersebut. Mempertegas alasan bahwa masyarakat kita tidak buta terhadap konstruksi yang ada di tengah-tengah mereka. Jadi, apabila ketidakpedulian audience kita terhadap apa saja yang disajikan media ini hanya akan terjadi pada sebagian masyarakat kita, tidak semuanya mayarakat itu buta terhadap apa yang disajikan media.

Kembali pada persoalan semula, jika perempuan dan iklan “yang tak mungkin tanpa maksud dan tujuan” tetap berlanjut pada era ini, maka anggapan masyarakat tentang perempuan akan semakin redup. Banyak sekali model iklan perempuan yang justru kurang mengangkat kodratnya, bahkan cenerung melecehkan dirinya sendiri karena hanya bermodalkan tubuh-tubuhnya tersebut. Perempuan dalam iklan selalu identik dengan cantik, molek, berkulit putih, berambut panjang dan hitam, bajunya indah, dan sebagainya. Iklan menjejalkan media yang kiranya merupakan angan-angan kita terhadap seuatu yang indah, bagus, menarik, sempurna! Namun kadang iklan lupa menampilkan sosok perempuan yang jelek, kotor, buruk, menyedihkan, hingga terpuruk. Iklan semakin menjadi media yang tidak peka terhadap situasi sosial dan riil dalam masyarakat kita. Masyarakat dibentuk oleh konstruksi tubuh indah tadi, sehingga anggapan terhadap –yang buruk- ini disingkirkan. Hal ini tak hanya bisa membutakan mata kita dengan lingkungan kita tapi juga membutakan mata hati kita terhadap pembodohan yang terjadi pada diri kita sendiri. Kita akan semakin tak menyadari bahwa kita ini sedang di bawa ke mana oleh media massa.

Iklan yang dibuat pasti memiliki tujuan dan maksud. Jangan hanya berobjekkan perempuan, karena perempuan yang tertera dalam media massa ini tak selalu dan tak selamanya “indah” seperti kelihatannya. Masih banyak persoalan perempuan di negeri ini yang bisa diangkat menjadi iklan atau menjadi bahan pembicaraan media massa. Tentu tujuannya terarah pada penyetaraan gender, misalnya. Iklan tidak hanya untuk mempromosikan pasar, tapi bisa dimanfaatkan untuk proses sosialisai, pencegahan, pengurangan, pengumuman, dan masih banyak lagi. Janganlah hanya sekedar menjadikan perempuan sebagai objek komoditi pasar.

SOBATKU

Sobat,
Maafkan aku, aku tidak menjadi sobatmu yang kuat.
Yang hebat, yang tegar seperti apa yang kau katakan pada semua orang mengenai aku.
Aku hanyalah manusia biasa yang punya banyak kekurangan.
Tak sempurna.
Tak bisa bangkit dari kerapuhan yang sementara ini.
Aku tahu ini hanya sementara, tapi luka ini tak akan bisa hilang meskipun aku berulang mencobanya.
Maafkan aku sobat, tak bisa menjadi contoh untuk dirimu. Membuatmu bingung dengan segala racu ku.
Bukan maksudku membuatku tak paham, tapi hal yang sedang kualami memang tak bisa kupahami.

Birokrasi yang tengah terjadi hampir menjadi taraf politik.
Begitu mengerikan. Aku sangat takut tehadap penyakit ini. Aku tak mau kau atau siapapun menjadi korban seperti aku. Jangan sampai karya tunas bangsa tersendat hanya karena birokrasi.
Sekarang, penyakit ini mewabah, bahkan menular ke setiap jengkal jalan kita ke mana kita melangkah.
Hati-hati sobat, kepentingan yang dipaksakan kadang menjadi politik yang buta.
Buta nurani, seperti yang kukatakan beberapa saat yang lalu. Institusi nurani kita telah jebol. Jebol entah kemana!

Hal ini sungguh menyakitiku, aku merasa bahwa ternyata menunjukkan yang terbaik sama sekali tak berguna bagi siapapun. Tapi ingat, tunjukkan yang terbaik pada dirimu sendiri. Itu kata-kataku yang selalu aku selipkan dalam tiap tidurku. Ingat sobatku, jangan berhenti berkaya, karena nantinya kita akan mendobrak dan menginjak birokrasi macam ini. Jangan pernah takut untuk melawan karena kita memang benar. Tunjukkan sobat! Tunjukkan kalau kita mampu!

Kau selalu berkata, bukankah ketaksempurnaan adalah bagian dari persahabatan. Sobat, katakan padaku apa itu ketaksempurnaan. Bagaimana kita bisa menentukan dan menilai ketaksempurnaan? Bagaimana sempurna itu? O, bukan. Salah pertanyaanku. Harusnya aku bertanya padamu, bagaimana aku mencapai kesempurnaan di mata mereka para birokrat busuk ini?
Birokrat dengan uang yang ada di otaknya, tak ada ruang kosong selain uang dan ketenaran yang hendak dicari. Melupakan kewajibannya, yang seharusnya dan HARUS dijalankan karena ini amanah. Aku jadi ingat ternyata jika kita bicara kepedulian, rupanya hidup menjadi seperti ini karena tak ada kepedulian. Aku ingat sekarang. Kepedulian terhadap sesama, itulah kenapa Junghun muda itu crossboy. Ia menganggap tuhan itu alam. Alam dan sesama. Ketika ia mencintai alam dan sesamanya, berarti ia mencintai tuhan. Memang ini kejawen sekali. Tapi menurutku, hal yang dianutnya ini benar. Karena memang mempresentasikan keberadaan tuhan itu bisa melalui sesama kita. Alam, lingkungan sekitar kita.
Jika tanpa ada rasa peduli, mungkinkah seseorang bisa tersakiti?
Mungkin memang benar aku yang salah. Tak bisa memahami orang-orang yang tak peduli ini.
Maafkan aku sobat. Maafkan sobatmu ini.
Sobat yang tidak bisa memahami para birokrat di negeri kita.

Kamis, Maret 18, 2010

Perjuangan Pintar, Antara Kualitas dan Kuantitas

Buku adalah jendela dunia. Tanpa ada buku, kita tidak bisa mempelajari apapun. Begitu kata pepatah dari jaman dulu. Buku yang menjadi “jendela dunia” itu tentu berisi ilmu mengenai sesuatu hal penting untuk pembacanya. Ilmu pun bermacam jenisnya dilakoni sang penulis, hal ini dilakukan karena keinginannya untuk membagi ilmu yang dimilikinya. Munculnya aneka macam jenis buku dari yang tebal hingga yang tipis, dari yang bergambar hingga yang tak ada gambarnya, dari yang murah hingga yang mahal, dari yang bermutu hingga yang tak bermutu. Keberadaan buku sebagai penunjang pembelajaran akademik maupun non-akademik menemani para peminat buku dari yang tua sampai yang muda, dari yang pemula hingga yang sudah ahli, dari yang mampu hingga yang tidak mampu.
Menyangkut persoalan terakhir, bahwa kemampuan seseorang untuk memiliki (membeli) buku merupakan suatu polemik ironis di zaman ini, yang seharusnya orang-orang atau anak-anak yang kurang mampu dihadapkan pada persoalan mahalnya buku ajar yang harus mereka beli. Ada istilah, orang miskin dilarang pintar. Apakah hal ini akan mendasari masalah di atas tersebut?
Jurang kualitas dan kuantitas yang ada membuat pihak-pihak di dalamnya seperti pemerintah, penulis, dan penerbit menjadi semakin dalam. Dua hal yang sedang terjadi sekarang ialah banyak orang-orang atau anak-anak sebagai generasi penerus, khususnya yang kurang mampu masih tidak bisa memiliki buku karena mahalnya harga buku tersebut dan keberadaan penerbit sebagai ‘makelar’ buku best seller atau buku berkualitas dengan harga yang lebih tinggi. Buku yang dianggap best seller berkisar dengan harga Rp 80.000,00. Persoalannya, apakah upaya ini akan membuat kalangan menengah ke bawah juga mengenyam ilmu, mengingat buku yang berkualitas sangat tinggi harganya?
Kebijakan Pemerintah Kota Semarang beberapa waktu terakhir ini sunguh sangat perlu didukung oleh semua pihak, termasuk penulis dan penerbit, yaitu Festival Buku Murah yang sering diadakan di Gedung Wanita Semarang. Menurut saya, kegiatan semacam ini harus mendapat apresiasi tertinggi dari masyarakat dan perlu dikembangkan di kota-kota kecil sekalipun. Diskon atau pemotongan harga hingga 87% menjadi durian runtuh dari beberapa kalangan yang “kurang”. Kegiatan ini harus sering dilaksanakan mengingat banyak kalangan yang masih membutuhkan ilmu, yang tentu berasal dari buku. Jangan mementingkan kualitas buku bagus semata sehingga kalangan “kurang” tak mampu menimba ilmu. Kuantitas buku berkualitas juga masih bisa ditambah jika semua kalangan mau prihatin dan berjuang menyelesaikan masalah pendidikan negeri kita ini.

Senin, Februari 15, 2010

TAIKO, I MEET YOU at SEMAWIS!

Pembukaan KOPI SEMAWIS kali ini lain daripada yang lainnya. Itu tuh, pusat kulirer, budaya, seni yang ada di Semarang khususnya di daerah Pecinan, gang-gang an yang banyak sekali namanya itu. Biasa pada tahun sebelumnya, panggung utama ada di Gang Warung, tapi tahun ini panggung utama ada di Gang Lombok, tepatnya di replika kapal Cheng Hoo. Jadi di atas kapal ada panggung. Di atas kapal itulah aku mendapatkan pengalaman yang tak terlupakan. Aku semakin percaya kata-kata Oprah, “It’s very true that the way you think creates reality for yourself.”
Setelah Kiai Kanjeng Road To Campuss beberapa bulan yang lalu, aku selalu memikirkan dan MERINDUKAN TAIKO yang sangat indah itu. Keren menurutku. Perpaduan gamelan Jawa dengan bedug dari kendang yang disajikan dengan irama atau dentuman khas Jepang serta penampilan pemainnya memakai YUKATA. That’s very cool and very unique, I think.
Sejak saat itu aku selalu berpendapat dan memikirkan, kapan ya aku bisa lihat Taiko lagi... Aku kangen liat pertunjukan satu itu. Sumpah.
Sampai pada akhirnya Pak TR alias Tjahjono Rahardjo menawariku untuk memainkan dubbing dalam wayang itu namun dalam bahasa Mandarin. Wow... Tentu ini bukan hal mudah dan sepele. Aku tahu ini tanggung jawab besar, berat, dan menantang, tentu saja. Aku harus bekerjasama dengan orang-orang yang SAMA SEKALI BELUM PERNAH AKU JUMPAI. Tapi aku selalu berpikiran kok, mereka sama seperti aku, mereka PASTI BISA MENERIMA AKU.
Aku tak boleh mengecewakan mereka yang sudah memberi kepercayaan padaku.
Sampai pada hari H atau H-1, mereka selalu memberikan tangan yang terbuka untuk menerimaku yang bukan SASTRA untuk bergabung dengan mereka. Ada Koh Kedo, Risky yang juga co-trainer alias Mas Gondrong, Lia, Danty, Cik Rushcka, sama Koh Karel yang dari Psikologi, dan tak lupa dalang dari Teknologi Pangan, Mas Carwin, pacarnya Chindy, temenku. Jelaslah aku sebenarnya tahu beberapa dari mereka, cuma belum kenal. Karena saat ketemu mereka, wajah-wajah mereka tak asing buatku. Kami cepat beradaptasi dan tak membedakan, kami berusaha menemukan chemistry seperti yang Kak May ajarkan ke kami para co-trainer.
Saat hari H itu tadi, kami datang di tempat yang dituju pukul 17.00 tapi kami main pukul 20.30. Kehadiranku dan Risky memang didukung oleh Cik Michelle, yang sudah aku anggap cicikku sendiri, Eris si Upil, dan Ditha. Kehadiran mereka AMAT SANGAT membuat aku bersemangat dan tak mau mengecewakan mereka. Entahlah, rasa itu tak bisa dihilangkan begitu saja. Kami sudah seperti keluarga. Tak ada yang bisa membuat kami berpisah, itu yang sedang ingin aku teriakkan saat ini.
Waktu sudah menunjukkan detik-detik pertunjukan kami mulai, tapi hujan mulai mengguyur kami yang sedang berdandan memakai YUKATA bagiA yang memakai (TAIKO). Tak ada ampun lagi, saat Bu Marie Elka Pangestu, Menteri Perdagangan kita dan Pak Walikota maju untuk meresmikan pembukaan acara KOPI SEMAWIS ini, hujan sudah tak memandang siapa saja saat itu. Deras sekali. Melihat teman-teman yang sudah mati-matian cantik dan cakep tapi KLEBUS BASAH KUYUP apalagi pake YUKATA yang tebel kaya gitu. Aku gak bisa bayangkan betapa berat baju itu... T.T
Dan gak cuma pemain aja yang basah kuyup, tapi juga para dosen, kaya Pak TR, Pak Adhianggono, dan beberapa crew besar gamelan kami. Semuanya buasah kuyup... Betapa luar biasa keadaan waktu itu...Bisa dibayangkan???
SEGAWON FOR CH**MBR**’e tenan!!! Buat yang tau artinya, mohon dimaklumi ya. Situasi saat itu bener-bener di luar kontrol dan yah, ternyata aku juga baru tahu kalo bermain sambil hujan adalah pengalaman pertama buat para temen-temen TAIKO. Bayangkan aja, aku yang dulunya ngefans banget istilahnya ama Taiko, tiba-tiba aku ada di satu panggung buat bermain sama mereka dan NASIB kami pun sama. Sama-sama basah dan REKOSO!!
Lucunya lagi, ada banyak lucu waktu permainan dimulai, kami sama-sama tidak sadar kalo efek hujan atau air itu membuat kendang yang aseli terbuat dari kulit sapi menjadi empuk dan mempengaruhi kualitas suara saat dipukul. Dan tiba-tiba stik Karel, yang pemain paling hebat menurutku, jatuh karena terlalu licin. Dan gara-gara itu dia menyesal banget, dia gak nyangka akan ada insiden seperti itu. Tapi aku berusaha buat hibur dia kok, karena apa yang udah dia lakukan itu YANG TERBAIK.
Belum lagi 4 wayang alias PUNAKAWAN yaitu Semar, Gareng, Petruk, Bagong yang terbuat dari kulit sapi juga tak mau kalah klebusnya. Sampe Mas Carwin bilang ke Chindy “Duh, Dek, wayangku dadi RAMBAK..” Sumpah, nelangsa banget situasi saat itu.
Akhir kata aku cuman mau ngomong, buat semuanya, terimakasih udah kasi aku yang anak fakultas Hukum karena kesempatan buat main sama kalian dan mengenal kalian sebagai teman-temanku. Kalian semua hebat. I miss u all friend, long living Taiko all...
Kapan-kapan kita harus ketemu lagi!! ^^

Senin, Februari 01, 2010

What is JUSTICE?!

Tadi pagi jam 9 aku udah digugah emakku buat les Mandarin, yah emang gak salah sih, cuma 1 jam buat siap-siap. Itu aja yang setengah jam buat ngulet-ngulet di kasur. Jadi total bangun pukul 9.30. Hehehe...
Jadi hari ini aku udah ada planning alias list, mau ngapain aja. Mulai tahun 2008 aku senang banget buat list tiap hari, jadi ada aturan jam sekian ngapain aja, dan aku harapannya sih planning itu isa tapat waktu dan tepat guna. Jadi bukan buat hal yang kurang berguna.
Lha udah cepet-cepet mau berangkat masih disuru emak bantu bentar, terius dititipin uang buat beli minyak. Maklum, hari ini hari terakhir sale minyak goreng FILMA 2liter di Carrefour, DP Mall Semarang. Tapi emang heboh sih, harganya. Dari 24 ribu/2lt jadi 16rb/lt. Kan lumayan tuh kalo bisa dipasok dulu. Ehehe...
Kemaren udah beli 4 liter, pikire mau beli 4 liter lagi, buat PERSEDIAAN IMLEK. Hohoho...
Udah jam 10 kurang 10 aku baru berangkat les, sampe di sana, hadoh malah ternyata belum mulai. Tiwas cepet-cepet nek berangkat tadi. Eh, tapi kok SEPI ya?? Yang ada cuman kelas pagi, siangnya? Wadoh... Krik...Krik.. Ada apa ini? Lha benerrr.. ternyata dugaanku bener!! Les nya libur! Eh, kok nggak dibilangin sih? Lao shi nya gimana??
Minggu lalu katanya mau diliburin, tapi berhubung tanggal 14 Imlek, jadi tanggal 31 ada les. Coba SMS Cik Vera aja, temen les ku.

AKU : Cik, ada les ndak to hari ini?
CIK VERA : Ndak ada kok, kemarin kan dibilangi Lao Shi nya dr FB (facebook) katanya hari ini ndak jadi les.
AKU : WHAT??!! Kok gitu sih Cik?? Aku kan gak ada FB, kok dia ga ngabari aku? Huh, NDAK ADIILL... Aku thok ni yang dateng, lain’e ndak ada...
CIK VERA : Oya? Kok gitu tho, dah kamu SMS Lao Shi nya ae, dimarah2in, gr2 infonya ga sampe kamu. Ni nomernya +6285640602xxx.
AKU : Hahaha, ya udah lah Cik, gak papa, thanks ya Cik..

Di kejadian itu aku sempet mikir, hidup tu gak adil. Tapi emang sih, 2 hari ini aku selalu berpikiran keadiloan tu sebenarnya apa sih. Kok orang berkoar-koar ngomongin soal keadilan. Yang mereka maksud tentang keadilan itu apa? Apa yang mereka harapkan dari sebuah keadilan? Ya kenapa aku mikir ndak adil... Setelah aku tahu bahwa cerita yang sebenarnya adalah : Si Lao Shi ndak ngajar, pamitnya ke bagian Sekretariat, ngomongnya les kelasku ditiadakan karena BELIAU mau ada acara. Dan JANJINYA MAU SMS KE SEMUA MURID2NYA!!! HEBAT GAK THU?!
Masalahnya SMS nya gak nyampe ke aku ama Zhou Lao Shi (KepLes->Kepala Les2an) di situ. Jelas yang marah2 Zhou Lao Shi nya dong. Hahaha.
Aku jadi heran aja, apa ya kalo orang gak punya FACEBOOK terus gak bisa maju gitu? Jujur, aku sempet mikir hal itu gak adil banget. Mungkin buat aku, ya aku maklum lah, terus aku mikir aja gimana buat sodara-sodaraku yang AMPUN, komputer aja ndak punya apalagi FACEBOOK?!
Bukan aku benci FB, bukan aku anti FB, banyak orang yang menawari aku membuat FB, tapi aku ndak tertarik sedikitpun dengan hal satu ini. Seandainya aku tau jawabannya, kalian bakal aku kasi tau.

Dulu jaman Ibu Kartini juga ndak ada FB to, Jangankan FB dah, listrik aja mungkin masih nyolong sana-sini, tapi buktinya Ibu Kartini juga bisa punya temen dari LUAR NEGERI malah! Ndak kaya FB pada umunya yang sering aku denger di sana-sini, yang justru menimbulkan keributan, kehancuran hubungan seseorang dengan orang lain, jangan munafik deh, jujur aja di antara kalian yang berpacaran atau statusnya SEDANG BERPACARAN DENGAN SI ANU, ATAU SI INI, tiba2 ada comment atau apalah dari si ANU, tiba-tiba muncul comment yang isinya bla..bla..bla... Terus si terjalin mulai menanyakan si anu tuh siapa, dan seterusnya. Kasus kayak gini udah banyak banget kutemui, dan gak cuma satu dua biji, tapi ratusan... Bukan menampik kenapa-kenapa, cuma, isa nggak sih buatlah jaringan atau status atau koneksi, rival, atau apalah yang sedikit ‘intelektual’. Jadi ndak cuma pamer foto narsis sana sini, comment-comment foto, ejek mengejek hal yang SEBENERNYA GAK PERLU.
Yang kedua, jelas kalo udah ngurus hal yang satu itu, pasti pada lupa waktuuu. Itu udah jelas, pasti, dan ujung-ujungnya PERCUMA itu tadi. Menurutku lho...
Ya aku mikir aja, masih banyak anak-anak, orang-orang, yang hebet-hebat, pinter, smart, cerdas, bisa hidup tanpa facebook, bisa punya temen buanyaaaak tanpa hal satu itu... Dan yang paling penting BISA PUNYA MORAL DAN AKHLAK yang mereka dapet sendiri tanpa harus BERJAGA IMAGE lama-lama di depan komputer cuma untuk mengidolakan EKSISTENSI!!! Huah..... Mau eksis darimana kalo cuma ngandalin FB? Hahaha, lucu aja kalo nginget-nginget kejadian tentang FB yang sudah banyak orang cerita soal permasalahan mereka cuma gara-gara FB.
IBU KARTINI PASTI MENANGIS lihat generasi penerusnya cuma isa nongkrong di depan komputer buat FB-an!
Aku baca tulisan Pak Donny di JENTERA EDISI 13 TAHUN III JULI-SEPTEMBER 2006, beliau sempet nanyain sama kita, keadilan tu apa?
Yang pertama, keadilan adalah memperlakukan setiap individu tanpa memandang STATUS SOSIAL secara sama, atau
Yang kedua, keadilan adalah memperlakukan orang-orag yang berbeda secara berbeda.
Kalo di hukum PAJAK nya Bu Uli, ini biasa disebut keadilan HORIZONTAL dan KEADILAN VERTIKAL.
Tap bagi Pak Don, keadilan bukan persoalan memperlakukan 2 orang yang berkonflik secara sama/setara, melainkan MEMPERLAKUKAN SETIAP ORANG SESUAI DENGAN PERBEDAAN/KEBUTUHANnya.
Lha aku jadi mikir aja, mampukah orang (termasuk lao shi ku itu) memunculkan keadilan versi ketiga? Karena memang buat aku, sampe jaman kapanpun, keadilan itu gak akan bisa tercapai kok, sulit banget buat menggapai keadilan jaman sekarang tuh. Benerrr....

Dolan ke Rumah Ibu Kita KARTINI.....

Hari ini (27/1) kawan Mandela pergi ke Jeparaaa.... WOW.. Luar biasa....
Kami ikut International Seminar gitu di rumah Raden Ajeng Kartini. Di sana pembicaranya ada Mr. Coté dari Master of History Lecture, Faculty in Australia sama Bu Cicik, dosen Psikologi Unika Soegijapranata Semarang. Tadi sempet ngira ‘dikerjain’ sama Pak Don gara-gara suru kumpul di kampus jam 6.18 (aku masih bingung kenapa harus lewat 18 menit?!), tapi kita berangkat pukul 7 jadinya. Yah bukan kenapa sih, asal Pak Don nya juga ontime, anak-anak gak gitu ndongkol. Hehehe. Ada aku, Tyas, Jo, Dhimas, Tya (bukan Mandela), Dede, ama Natalia. Asik sih acaranya, eh ketemu Meneer Daniel juga, dosenku Nederlandsche Less di Akaba. Ada Bu Inge juga dari Akaba. Seru banget acara di sana, buat ndapetin kursi ke sana aja susahnya minta ampun. Bukan buat aku nya si tapi buat 6 temen yang lain. Aku dapet rekomendasi acara ini emang dari Pak Don, lha dia moderatornya sih. Terus aku ngerasa gak enak aja mosok ada acara hebat gini aku sendirian yang berangkat. Udah gitu Pak Don bilang bakal ada mahasiswa dari Ausie gitu yang ikut. Hadoh, jadi ndak enak ati, mengingat kemampuan Bahasa Inggris pas-pas an, malah cenderung KURANG. Yup, KURANG!!
Huhuhu...
Lha minta 6 kursi cuman dikasi 1, akhirnya dengan sedikit ‘pemaksaan’ ke Pak Don, akhirnya kudapat tiket samping Pak Kusir yang sedang bekerja. HALAH!
Ya masalahnya itu acara khusus buat MGMP Sejarah di Jepara sih. Jadi kalo ada mahasiswa yang ikut, mereka yang nggak mudeng bakal nggak ‘ngeh’ liat kehadiran kami yang tiba-tiba. Hehe..
Waktu sampe di rumah R.A Kartini, rombongan bus kami langsung disambut bak raja dan ratu (secara gitu pembicaranya satu bus sama kita!) Huahh, kehormatan yang tiada kira bisa bertemu dengan orang-orang ‘aneh’ (begitu Pak Don menyebut mereka). Yah, seminar ini banyak mengupas tuntas soal Kartini, dari surat-suratnya, pemikiran, perasaan, dan banyaaaaak lagi, yang yah intinya kembali pada periode BIAS GENDER sejak jaman mula, yang dulunya namanya DIPINGIT sekarang hal itu berkembang biak jadi yang namanya PERBEDAAN GENDER. Ini memang bukan hal mudah untuk digubah, apalagi diubah. Jujur, ini permasalahan tak kasat mata tapi tak bisa hilang. Istilahnya ya mendarah daging gitu. Tapi pemilihan bahasa yang dipakai dalam surat Kartini kepada sahabat-sahabatnya memang menggunakan bahasa filsuf yang mengena di hati bagi para pembacanya. Banyak sekali ‘misteri’ yang diungkap, dan ga mungkin aku ceritain semua di sini satu per satu. PUEGEELL...
Habis seminar kami lunch, habis itu kami dikasi kesempatan buat ‘mlaku-mlaku’ di semua, iya, SEMUA kamar R.A Kartini dari depan sampe belakang. Kamar tempat ia dipingit, tempat ia menulis surat, ruang keluarga, ruang tamu, sampai benda dan perkakasnya, lukisan, dsb semua masih ASELI tanpa sepuhan sedikitpun. Lantai nya, arsitektur, bangunan, plafon, dll, masih garapan manusia jaman dulu. Semua masih JADUL, JAMAN DULU bangett, tapi aseli KERENNN BANGET....!!
Habis itu kami otw ke MUSEUM KARTINI. Di sana terbagi 4 ruangan, isinya benda-benda, foto, hasil karya Kartini dan kakak adiknya. Yah kami sempet foto-foto banyak di situ, apapun yang buat kami menarik, kami foto itu. Kami semakin sadar, ternyata INDONESIA itu memang ada suatu value yang gimana ya, culture kali ya? Dan untuk kehilangan itu, KAMI GAK RELA!
Habis itu jam udah nunjukin pukul 3 atau 4, kami yang muda (ada provokator dari Widya Mitra + FH Untag, nyuru main ke Pantai Bandengan -> Mas Danang, Bahasa Belanda Hukum e ciamiiik rek!), katanya pantainya bagus.... Atas rekomendasi Mas Danang ini, so, satu bus diboyong ke sono. Padahal di bus kami banyak yang sepuh, banyak dosen dari beberapa univ. Tapi kami percaya kok, mereka juga menikmtainya. Buktinya Mr. Coté juga ikut nongkrong nunggu bahkan fotoin kami waktu main aer (baca:keceh!) sama makan rambutan yang dibeli Pak Don di warung deket pantai. Ehehe, pemandangan langka aja. Lucu kalo diinget.
Oya, waktu mau berangkat tadi Pak Don ngasi aku buku lagi, punya Ester Lianawati, juduknya KDRT. Ya beliau berharap banget aku bisa buat resensi buku itu, terus diterbitkan di surat kabar. Intinya ya beliau-beliau pingin mahasiswanya NULIS! MENULIS. YA, MENULIS!!
Kaya Kartini tho, alat perjuangan waktu itu cuma dengan MENULIS! Lha mungkin Pak Don juga berharap aku bisa seperti Kartini kali, ya?? AMIIINN...
Thank You buat Mr. Donny Danardono, buat segala yang sudah Mr. kasih ke aku, aku semakin semangat buat nulis lagi. Tunggu ya hasil karyaku!!! ^o^

MUBES ANTIK

Hariku ini luar biasa, kemarin malem (25/1) dapet SMS dari Kadiv Mandela, si Dhimas, katanya besok malem (26/1) alias hari ini akan ada MUBES GLORY. Tapi jam 18.30 alias setengah tujuh malem. Ya elah, malem-malem kok rapat? Ya aku sih maklum aja, mungkin bakal ada hal yang penting buat dirapatin. Tapi kok malem yah?
Aduh.....
Malem-malem ke kampus, sepinyua tiada tara, kucari teman yang bisa diajak bareng. Sapa yah... Coba SMS Ditha deh..
Aku : Ditt, besok bareng ya berangkatnya. Males deh kalo sendirian.
Ditha : Ok, Sil. Sipp...
Maklum, rumah Ditha kan di Sampangan tuh, sejalan kalo mau ke kampus. Ehehe...
Lumayan, ada temen ngobrol di jalan. Jadi gak sepi.
Besoknya alias hari ini...
Jam 17.45
Aku : Dit, siap ya, setengah jam lagi aku berangkat.
Ditha : .... (nda dibales)
Jam 17.46
Aku : Yas, ujan ndak rumahmu? Tempatku hujan.
Tyas : Ndak ik, tapi aku nda ikut Mubes, Sil. Ada urusan di gereja. Aku udah SMS Bagus ama Dhimas.
Aku : Yah... Ya udah deh, ga papa... Sip..
Jam 17.50
Aku : Kang Radith, berangkat ga??
Radith Cabul : Enggak Neng, abis ngumuminnya mendadak sih. Aku ada acara sama Tanteku. Jadi gak bisa dateng, deh. Kamu berangkat?
Aku : Iya nih mau berangkat, tapi kok ujan ya Kang?
Radith Cabul : Ya udah, hati2 ya say...
Jam 18.00
Ditha (telpon) : “Siill.. Omahku udan deres banget, lampune mati sisan...!!”
Aku (ngangkat telpon) : “Dah daritadi kali, Dit.. Kamu kemana aje..”
Ditha (masih telpon) : “Yah tadi aku lagi mandi, tau2 mak pett lampunya mati... Pie??”
Aku (masih jawab telpon) : “Ya udah, pie apane? Yo tetep mangkat laaa..”
Ditha (telpon) : “Aku ga ono jas ujan he...”
Aku (telpon) : “Aku ono, dah pake punyaku aja... Aku me berangkat ki...Siap2 yo..”
Ditha : “Okeee..”
Jam 18.15
Aku (SMS) : Dit, aku di depan rumahmu (ampun sepanjang jalan Pamularsih-Sampangan peteng, lampune matek kabeh)
Ditha (TERIAK) : Sekkk....
Ditha pun menghampiri aku yang di luar, seraya berkata “ Inilah tubuhku dan darahku...” HALAAAHHH...!!
Ditha : “Sil, masuk sek, motormu taruh rumahku aja, kita berangkat naek taxi aja. Nunggu taxi ne adikku meh pulang oq.”
Aku : “O, gitu, ya udah ga papa nih?”
Ditha : “ Yup..”
Akhirnya taxi yang dimaksud pun tiba, dan dalam perjalanan menuju kampus, yang artinya sepanjang SAMPANGAN-UNIKA memang PETENG NDEDHET alias GELAP GULITA. Ampun dah aku ndak bisa bayangin tu kalo aku naek motor, dalam suasana hujan deras gini... Brrrr....
Baru sampe depan gerbang kampus, aku ulangin ni ya biar jelas, DEPAN GERBANG KAMPUS!!
Bagus SMS Ditha, bunyinya
“TEMAN-TEMAN, MUBES HARI INI DIPENDING SAMPAI BESOK HARI RABU TANGGAL 27 JANUARI 2010 PUKUL 5 SORE BERTEMPAT DI THOMAS AQUINAS. HAL INI DILAKUKAN MENGINGAT KEADAAN DAN CUACA YANG TIDAK MEMUNGKINKAN HARI INI.”
Ammmmmppppppppuuuuuuuuuuuuuuunnnnnnnnnn!!!!!!!
Grrr....
Huahahaha......
Kruukk kruukkk...
Mak jannnnn... (ini kata-kata favourite Radith)
Aku dan Ditha berpandang-pandangan dalam taxi yang begitu gelap malam ini.
“Pie, Sil? Mulih po terus?”
“Nonton kapel sik wae ya, nek mati lampu dewe mulih wae.”
“OK.”
Begitu sampai di kapel, lha TENAN THO? Evaluasi ATGW Gelombang VI masih berlangsung, dan yang membuat suasana makin romantis. WHAT?? ROMANTIS? MISTIS kalee.... Itu kaya api unggun, jadi di lingkeran gitu (-.-a
Di tengahnya ada pencahayaan LILIN gitu. Jiahh......
Bisa dibayangkan? Hahaha.... Nda ada yang dateng anak GLORY selain kita...
Ada juga tu komen2 anak-anak waktu SMS yang ‘kecele’ di malam yang sunyi ini..
Yosia : ITU LEBIH BAIK
David : Arrghh... Aku daritadi sore di kampus, nunggu rapat ini, eh ndak jadi.... Kok baru bilang sekarang sih..
Aku : Hahahahaha... Besok kita Mandela mau ke Jepara.. Mungkin nggak bisa ikut MUBES dulu.. Ampuunnnnn......
Hadoh...
Malam ini begitu RUARR BIASAAA... Terlalu banyak perasaan di malam ini... Sulit diungkapkan dengan kata-kata. Cuma ya kalo belum nulis kok aneh gitu rasanya. Hari ini banyak kejadian aneh, lucu, konyol.... Huaaahhh... TIDUR DULU ahh...
^^ GOOD NIGHT ALL....

Jumat, Januari 15, 2010

ATGW Gelombang II

Beberapa saat yang lalu aku sempet nginget-nginget peristiwa waktu SD. Beberapa temen sekelas yang 6 tahun sudah menemani aku di SD PL Bernardus. Salah satunya aku sempet keinget samap Duo D. Donny dan Davin. 2 orang temanku ini tidak pernah terpisah dari pasangannya. Seolah-olah udah kaya soulmate gitu. Kemana ada Donny, di situ ada Davin. Dan begitu sebaliknya. Konon, selidik punya selidik, mereka itu bersaudara. Jadi ya begitulah. Hehehe. Meskipun kebanyakan serba beda, tapi ada yang menjadi keunggulan pasangan ini (lho, emang pacaran?). Ya, mereka sama-sama rajin dan tergolong anak yang pinter. Jadi ya, lumayan bisa diandalkan lah kalau dulu ada masalah tanya PR sama ulangan. Lagian papa Davin yang juga Oom nya Donny itu kenal sama papi mamiku. Lha...
Semenjak kelulusan SD, kami pun banyak yang berpisah karena harus melanjutkan studi ke SMP (wuejiaan...). Jadi aku ke Maria Mediatrix, mereka (berhubung pintar dan rajin) ya ke Dominico Savio. Begitu...
Sejak saat itu, kami tidak pernah bertemu lagi.
Lha kenapa aku sampai mengingat Donny dan Davin itu, karena beberapa waktu yang lalu aku mengikuti ToT (Trainning of Trainee) ATGW (Awaken The Giant Within), itu lho, pelatihan pengemabangan kepribadian mahasiswa UNIKA Soegijapranata, yang hukumnya wajib buiat tiap mahasiswa baru, ada temen yang sama-sama ikut acara itu, tapi aku ndak gitu kenal. Namanya Donny juga. Lha, sempet aku mikir juga kok aku kayak’e ndak asing sama wajah orang ini. Ya ndak ada ciri-ciri lain orang ini sih selain pake kacamata dan agak gemuk.
Aku jadi teringat wajah Donny waktu SD gitu, ya pake kacamata, tapi kurus.
Hari Senin kemarin ndilalah aku dapet jatah sekre gelombang 2 sama dia, tapi dia ne play, jadi co-trainer e. Tapi waktu itu ndak ada feel opo-opo sih soal dia. Baru waktu besok sore ne mau pulang tiba-tiba mak nyut aku keinget dia. Terus waktu sampe di rumah aku langsung SMS dia, “Lho, Don, SMP mu Domsav?”, eh dia jawab e “Lho, iyo, kan dewe 1 kelas waktu SD, Sil.... Hehehehe...”
YIAHHHHHHHHH..................!!!!!!!!!!!!! Nadjubilah, malu bukan kepalang aku ternyata orang yang tak duga selama ini emang bener, sumpret aku pangling sama ni anak, habis bentuk’e dah beda banget, ya ciri-ciri kacamata ne yang aku ndak lupa. HADOH...... Jadi ndak enak ati sama de’en.... Kruuuukkk.... (-.-!)
Owalah Doonn... Hik2, maap bangetttt.... Aku bener-bener pangling, kok kamu inget yo? Opo jangan-jangan wajahku yang cantik ini? Atau o, paling dia sadar kalo nama Silvani itu di Semarang cuman satu kali, ya? Ehehehe.. Ternyataaaa..........
Besok gelombang 6 kami ketemu lagi, tapi kayanya beda kelas. Aku C, dia ndak tau tu kelas apa. Yang jelas jadi sekre kemarin bener-bener cuapppeeeekkkk.... Aku cuman tidur 15menit, gara-gara bikin movie maker... Dah gitu ndak selesai pula.. Ini gara-gara program e terlalu canggih kali, ya? Aku bikin semaleman ndak selesai, njuk dibantu sama Dhina, Ko AW, Cik Vanny, Gideon, dan sebagian besar temen yang bisa. Sampe manggil Radith ‘Cabul’ buat ngasi program susulan yakni Picasa, konon, program ini paling guampang kalo udah gak bisa pake movie maker.. Hik..Hik... Tapi ya itu lah, cerita atau pengalaman heroik ku di awal tahun... Gilaaaaa.......! Hehehe...
Makasi ya semuanya udah bantuin aku bikin movie maker.... Oya, ada satu cerita lagi adik trainee nya Donny sing nuakal e hadooh, aku dijiwit jal mbuh tu gemes kali liat aku. Hihihi, yang pasti Gelombang 2 FANTASTIC abiss....!!! Aye.. Aye.. Aye...!

Aku, Movie Maker, dan Mamiku

Aku, Movie Maker, dan Mamiku

Ceritanya 'nih lagi bingung mau nyari ilmu bikin video dari foto-foto gitu. Kaya bikinan Koh AW, waktu ToT (Trainning of Trainee) kemarin. Lah, mulai deh nyari list di phone book, kira-kira sapa yah yang bisa menguasai ilmu tersebut. Jelas dong nomer satu yang aku tanya ya yang bersangkutan, Koh AW. Namun beliau justru ngakak and say, “Weh, itu aku juga lagi blajar kok, Sil.. Kamu belajar sama yang udah hebat aja, jangan sama aku, nanti kalo udah bisa, aku ajari ya!” Jiahh... Ni orang....
Duh.... Gimana ya....Mulai deh dari ingatanku sapa aja yang bisa ngutak-atik komputer beserta perangkatnya. List di phone book HP dari A-Z kutelusuri di samping Pak Kusir yang sedang bekerja... Haiyaahh..
For the first, Koh Hendra, spesialis komputer lengganan (baca:langganan), meskipun Beliau susahhhhh sekali dihubungi, namun kepastian kadang tak didapat. Lho... Hahahaha. “Koh, bikin video dari foto gimana ya?”
Aduh yang udah tau cara bikin video dari foto, sapa aja dehh... Kontak saya ya..... Jangan ngetawain dong.... Sini emang bener-bener gak bisa, jangan dikatain gaptek dong !! Hiks...Hiks... T.T
“O, itu biasa pake Movie Maker ato ULEAD, Van..” (aku bacanya ulet.. Ulet keket..)
“HADOH aku ndak tau wis koh pake program apa namane, yang penting isa bikin video dari foto! Grr....”
“Iya pake itu, tapi kudu ada master’e, aku ndak nduwe..”
Mulai lagi nyari anak-anak IKOM yah ato seenggaknya yang bisa bau-bau komputer lah... Si Ary nih, temen SMA, yang sangat bisa saya andalkan... “Hahaha Pun, itu pake Movie Maker, itu kan bawaan dari Windows..”
Lha kok di tempatku ga ada ya? Jiah... Daku baru ingat notebook saya memakai Windows Seven.. Nadjubillah.... GA ADAA....
SMS Radith si Tukang Panci aje, dia kan hobi tuh ngadepin komputer ampe matanya jadi 4... Mestinya mampu dong ama hal-hal kaya gini... Eh taunya dia ga spesialisnya, katanya kudu kontak Yossia, tapi yah, ga enak dong nggangguin orang yang masih berduka...
SMS Pam2 ama Ivan aja.. Mereka kan juga anak IKOM... Tapi yang kudapat ternyata jawabannya sama, huhu... Mereka bisa tapi ga ada masternya...Hadohhhh.... Adakah sebuah kepastian kali ini???
Tuk tik tak tik tuk tik tak tik tuk... Berpikir Sill....Berpikirrr... Ayo...ayo...
Hm, Mba Ay kali bisa ya, dia kan pinter tu komputer2 gitu...
Tapi uli, tapi eh tapi jawabannya juga kurang memuaskan.. Hik T.T
Katanya aku suru belajar sama adeknya Mas Yoji... PIUS??? Hahaha, orak mungkin banget wong kui ngerti komputer... (Nek ditanya soal politik dan Quo Vadis Pancasila de’en malah ngerti..!)
O, ternyata yang dimaksud Mba Ay tuh adeknya Mas Pius lagi... Yang cewek.. Tapi aku kan ga kenal... Mosok tiba2 tak culik terus tak suru ngajari pake Movie Maker. Lah, iso dibrakot Mas’e aku rek...
Kruk...Kruk... (suara aku berpikir keras..), hm...
Sementara jam sudah menunjukkan pukul 12 malam dan aku masih belum tidur sambil minum es sirup, nonton Quickly Express (itu lho film’e Tora ama Aming yang jadi gigolo) hehehe, tiba-tiba aku dikejutkan oleh suara mami yang memanggil namaku berulang-ulang.. Waduhh... Napa ini...
Beliau kutemui di kasur dalam keadaan pucat pasi, keringat dingin, dan aduh aku ga tau istilahnya, tapi beliau merasakan badannya sangat ringan dan kesemutan (basa jawa:gringgingen) yang penyebabnya aku juga ga tau! Duerrrrr.... Lha bingung aku wadoh nopo iki....
Beliau minta diambilkan air panas, yang untungnya ada termos listrik (yang disetrum itu lho, mirip dispenser tapi khusus air panas) untuk merendam tangan dan kakinya yang mulai kesemutan itu. Waduh... Sumpah inilah kepanikanku di pagi buta pertama kali. Aku menilai itu gejala pingsan, karena aku sudah pengalaman nonton orang mau pingsan, ya gitu itu. Rasa kesemutan mulai dari dagu menuju telinga juga, setelah itu pandangan jadi kabur, dan tiba-tiba.. Bruukk...!
Ini mamiku kenapa coba? Pingsan juga enggak, tapi ngeliatnya aku juga udah panik. Langsung deh aku ambil HP telpon Oom ku yang (untungnya) belum tidur...
Sementara nunggu my uncle dateng, aku buatin teh anget manis gitu, biar ada anget-anget yang masuk di badan mami gitu... Dan untungnya lagi, rumah oom ku ndak jauh dari rumah ini, langsung deh kita ber-5 (oom, tante, anaknya, mamiku, dan anaknya, aku) menuju ke RS Elisabeth yang untungnya lagi, gak jauh dari rumah.. Fiuhh.. UGD menyambut dengan pintu terbuka, suster juga langsung siap. Siap ini tentu siap mengarahkan kami-yang tidak penderita ke bagian administrasi. Yah, biasalah.. Birokrasi Indonesia.
Cukup lama mami di UGD dan kami berempat menunggu di luar, karena kami yang tidak boleh masuk ini tentu tidak muat masuk di dalam tempat pemeriksaan itu. Apalagi adikku, Olin juga masih kecil. Kasian kalo ada virus-virus nakal yang nempel di tubuh gadis kecil itu.. Hiahh..
Kami bertiga (aku, Olin, dan maminya) duduk di tempat tunggu, belakang UGD, yang ada beberapa baris kursi dan sebuah TV berukuran 14”. Kami duduk di situ, sementara Papi Olin alias oomku mengurus admin di luar. Suasanan RS Elisabeth sangat sepi, tak ada orang selain kami, tak ada orang lewat satupun. Suasana senyap itu ditambah sedikit cekaman dari pemandangan kursi dorong dan kasur-kasur yang bergeletak di sepanjang lorong dekat UGD. TV yang kami tonton sedang memutar acara Bioskop TransTV yang aku ga tau judulnya apa, yang jelas ceritanya anak autis yang diburu karena bisa memecahkan kode FBI.
Tiba-tiba “Pettt....”
TV nya matek. Mati. Wafat. Meninggal dunia.
Aku berpandang-pandangan dengan tanteku, “Van, TV ne kok mati, mbo matiin?”
“Heh? Endak, mana aku bawa remote? Orang TV nya di atas.”

Zzzzzzzzzzzz.... langsung merinding bulu kudukku... Jiahh... Pie iki....
Hadoh,, jangan-jangan...!! Aku langsung melihat ke belakang, samping, depan atau semua sudut lah, tak ada siapa-siapa.
Wuaaaa............. Kami bertiga tersenyum aneh melihat suasana ini.
Tiba-tiba dari lorong muncul Pak Satpam yang waktu kutanyai, beliau juga tidak tahu. Heh?!
Kok aneh..
Ya kami pun menghibur diri dengan mencairkan suasana, kalo outbond ya namanya ice breaking. “O, timernya habis, jadi TV nya mati. Gitu..”
Waktu Pak Satpam itu kembali ia pun menjelaskan, “Iya Dek, ada timer nya kok, hehe. Hidupnya besok pagi.”
Woooo lhadalah.... Tiwas e deg-deg an tak kira......... Pikiranku udah semrawut waktu itu. Duh buyung...
Setelah insiden TV itu selesai, ternyata pemeriksanaan mami juga udah selesai. Katanya dokter, jantung mami kurang aliran oksigen... Hm, habis mami kalo tidur sering telungkup sih, kudunya agak terlentang kali ya?? Hehehe, tapi sudah agak mendingan lah. Cepet sembuh ya Mam..... ^^

Dan sepulangnya dari RS aku masih saja memikirkan movie maker itu, dan akhirnya esok paginya (setelah aku tidur dan membolos les mandarinku) hehehe, aku inget satu nama yang tiba-tiba muncul di otakku. Oya, Agung. Dia kan jenius tuh, hehehe. Untungnya lagi, aduh betapa beruntungnya aku kenal sama Agung.. Beliau bersedia mengajari aku n ngasi aku program-program sejenis.. Huahh... Akhirnya..
Semoga besok pagi aku bisa ya, soalnya waktunya mepet, ini belajar movie maker juga buat ATGW kok, amit-amit jadi sekre tapi ga bisa megang T.I... Hik hik...
Thank you ya Gung..!! Semoga besok berjalan lancer lancerrr... Sore juga ada rapat GLORY..

Minggu, November 15, 2009

Aku Bukan Atheis

Surat Seorang 'Atheis' :

Aku bukan atheis seperti yang kau pikir. Aku bukan atheis seperti yang kau kira.
Aku selalu menanyakan kebenaran agama yang bagiku semua memang sudah benar. Aku hanya butuh waktu untuk menemukan kembali Tuhanku. Dan kamulah orang yang paling tepat. Meskipun kamu enggan kenal dengan aku. Aku yang atheis seperti yang kau kira. Saat kamu menangis sejak mengenal aku, ketahuilah bahwa aku sudah menangis sebelum aku mengenalmu. Saat aku mencintai Tuhanku, aku begitu katarsis, mengagung-agungkan nama-Nya, sehingga aku lupa bahwa aku sebenarnya hanyalah mahkluk tak kasat mata yang bersuara. Tapi tak ‘ada’ bersama saat Ia membutuhkan aku. Saat aku kecewa, aku baru sadar bahwa betapa Ia sangat membenci aku. Dan aku sempat berpikir untuk lebih membenci-Nya lebih-lebih daripada Ia membenci aku. Tapi aku tak bisa. Ini karena aku terlalu mencintai Ia berlebih. Begitu aku tergila-gila pada-Nya. Tapi aku tetap tak bisa. Dan selalu tak bisa. Aku terlalu takut dengan Ia, aku terlalu mencintai Ia, sehingga Ia merupakan sesuatu yang memang tak bisa aku batasi hanya dengan sekedar kata. Aku bukan siapa-siapa! Aku selalu ingat itu. Dan aku temukan betapa kamu menghinaku seolah-olah aku atheis penyembah berhala sejati. Dan betapa penghakimanmu sangat-sangat membuat aku sakit. Sakit pikiran mengenai konsep ketuhanan itu. Langsung kutemukan bahwa aku selama ini semakin salah dan tak berguna. Untuk menyebut-Nya pun kau sudah tak perkenankan lagi. Betapa itu sangat lucu dan mengagumkan! Fantastik!
Siapa aku, siapa kamu. Itu yang seringkali kau katakan padaku. Dan hitung berapa kali aku mendapat penolakan darimu. Sedangkan aku lebih suka berdiam diri dan simpul senyumku tak pernah hilang. Kamu tak pernah tahu betapa proses itu sangat sangat sangat melelahkan. Tapi aku merasa untung jika kau membuatku seperti ini. Karena aku selalu lebih gampang menulis. Dan orang terdekatku selalu meminta aku selalu sedih dan yang menurutnya itu menguntungkan dia. Ada-ada saja.

Sabtu, Oktober 31, 2009

Tanyakan Pada Aku

Aku tak pernah tau apa yang ada di otakmu
Apa yang kau pikir dan rasakan
Akankah manusia dapat hidup bahagia
Jika hidup di dunia seperti ini?
Saat orang berlomba untuk mempertahankan hidup
Seberapa kuatkah orang itu untuk menjadi ‘orang’
Hanya yang aku risaukan, kau memang tak paham
Tak mengerti dengan pola berpikir umumnya
Yang mengalah hanya segelintir kenyataan
Dan tentu kepercayaan
Yang pudar dan munafik dengan diri sendiri

Masih Tentang Itu

Di sudut hitam masih kurasa sendiri
Ada sesuatu yang lepas, hilang, bahkan mampus
Jaman sudah berubah
Di mana teori gagal dalam kampanyenya
Berkutat pada paradigma kebobolan
Yang mengagungkan sebuah andai
Padahal justru andai yang merogoh kesimpulan

Tapi tak begitu!
Jika hidup menjadi masalah
Apakah salah jika kita bermimpi
Mencari yang lepas
Mengembalikan yang hilang
Dan menghidupkan yang mampus?

Rabu, September 30, 2009

Revisi Antara Nalar, Berbicara, dan Berbuat by Donny Danardono

Antara berbicara dan berbuat, tentu orang lebih suka berbuat.
Karena dengan berbuat, dapat ditunjuk langsung kemampuannya.
Ketua BEM saya pernah berkata: “sedikitlah berbicara, banyaklah berbuat”.
Orang sering dianggap tidak mampu berbuat apa-apa, jika hanya bicara.

Tapi kukira ada satu hal yang kita lewatkan dari 2 hal tersebut.
Kukira, menalar yang paling penting. Sebab, kita tahu, sebelum bicara, tentu berpikir dulu.

Berpikir adalah utama.
Tanpa berpikir, orang tidak dapat berbicara dan berbuat dengan baik.
Dengan berpikir, menggunakan nalar tentunya, orang dapat menggunakan hatinya dengan baik. Hati. Bukan perasaan. Hati berbeda dari perasaan.

Ketika menggunakan nalarnya, seseorang menggunakan otak logika, di mana semua kembali pada apa, mengapa, siapa, bagaimana. Keempatnya erat terkait. Tidak pernah lepas dari sangkarnya. Menggunakan otak, menggunakan hati, menggunakan pikiran, menggunakan ilmu; sehingga orang mampu berbicara dan berbuat.

Tapi jangan sekali-kali menggunakan teori orang lain untuk menalar. Pakai saja kemampuan otak sendiri untuk membuat sebuah teori. Karena melalui teori yang berasal dari diri, orang akan tertuntun mengenali prinsip hidup dan kepribadiannya.

Dari sebuah teori orang dapat mengerti kita tanpa kita berbicara atau bahkan berbuat terlalu banyak...

Pertanyaan terakhir, mampukah seseorang bepikir - menggunakan nalarnya - tanpa menggunakan kata? –donnydanardono-




Kepada Saya
Anda boleh menulis puisi
Untuk atau kepada siapa saja
Asal jangan sampai lupa
Menulis untuk atau kepada saya
Siapakah saya? Saya adalah kata
Joko pinurbo2006

Revisi Dewasa by Donny Danardono

Dewasa?
Apa batas seseorang dikatakan dewasa?
Kukira, kedewasaan tak hanya bersegi fisik.
Ku akui kalau diriku belum dewasa.
Mungkin secara raga iya, tapi secara mental, belum.

Dewasa itu apa definisinya?
Kukira ia kadar kestabilan diri.

Udah,
kapan sebagai orang, sebagai manusia, kita stabil dalam setiap sesi hidup.
Setiap masalah yang dihadapi, setiap peluang yang ada. Tidak kemrungsung.

Di dunia ini, yang paling sulit ditaklukan ialah diri.
Ya.
Jika, secara psikologis, seseorang tidak sehat, seluruh kehidupannya tak menarik dikunjungi.

Kadang aku bingung,
kenapa selalu berpikir negatif?
Kenapa tidak memandang permasalahan dari banyak sisi?

Aku benci jika otakku tidak bekerja.
Mati grek.
Aku tahu hal itu tak membantuku tumbuh menjadi manusia.

Aku benci menganggur.
Karena pengangguran memuakkan,
tidak berguna untuk siapa-siapa.
Ia parasit kehidupan!

Hoi, dunia tu luas!
Gak selebar daun kelor!

Yo ngerti, tapi dunia tu belum tak taklukin!
Aku masih pengeenn ngerti yang aku gak ngerti!
Aku dibunuh perlahan-lahan sama rasa penasaran kaya gini.
Semakin nganggur, semakin bosan,
ujung-ujungnya mikir jelek.
Negative thinking!
AAARRRGHHHH!!

Aku ndak mau digerogoti penyakit ini,
aku harus ubah pikiran-pikiran jelekku.
Tapi dari mana?

Ya dari mulai berpikir positif tho yo….. (yang ini kata temen SMP ku)



Kedewasaan tu sebenernya hanya cara pandang,
coz ga sepenuhnya orang dewasa bisa 100% dewasa …
(yang ini kata temen kuliahku)

Tesis : Negative thinking datang waktu kita sendiri. Tapi belum tentu waktu ada masalah. Bisa iya, bisa tidak.

Anti tesis : Negative thinking datang pas kita tidak sendiri. Biasanya kalo ada masalah kita langsung kemrungsung, bingung dulu.

Aku takut menjadi filosofis, filsafati.
Terlalu mengajukan apa, kenapa, mengapa begitu, mengapa begini?
Aku suka mengejar apa yang seharusnya menjadi hak-ku!
Jawabanku! Aku tak gampang menyerahkan hidupku pada takdir.
Memang takdir tidak bisa diubah, tapi nasib bisa diubah! [apa beda ‘takdir’ dari ‘nasib’? dd]

Hidup selalu memilih,
dilema yang sarkastis!
Menghadapi polemik-polemik membosankan sekaligus menantang!

Sedangkan kehidupan itu kejam.
Tertawalah.
Sebab seluruh dunia akan tertawa denganmu.
Jangan menangis.
Sebab kamu akan menangis sendirian.

Dunia diatur oleh hukum. Namanya hukum alam. Hukum rimba. Yang luar biasa kejam dan licik. Homo homini lupus. Seseorang adalah serigala bagi lainnya. Bener? Betul? Ya! Kalau semua orang tidak berpikir seperti itu, sepertinya tukang parkir dan tulisan HARAP KUNCI SEPEDA MOTOR tidak dibutuhkan lagi! Hehehe…
Dari situ bisa dilihat, sebenarnya manusia selalu berpikir negatif dulu.
Aku bilang: “BISA DILIHAT”. Aku tidak buru-buru menyimpulkan.
Pertanyaanya: Bisakah ini ku sebut dewasa?


Apa iya kita belum menaklukan yang kita pengeni?
Kata temenku lagi, kita belum tau, karena kita belum mencapai itu.
Kita jadi seperti ini, karena dibentuk lingkungan.
Kenapa kita tidak berani bermimpi dan…
yah, katakanlah itu suatu mimpi, keinginan, niat, cita-cita, bualan kalau perlu!

Ikhlas 2

Teruntuk yang tidak pernah terlihat, tidak pernah kujumpai, tidak terwujud, seorang penting, untuk yang menyakitiku, untuk yang mengubahku menjadi lebih kuat, tegar, untuk setiap halangan, rintangan, dan masalah yang terus menemaniku -karena hidup adalah masalah-, dan untuk yang membuat diriku menjadi seperti ini, termasuk waktu, tempat, dan proses.
Tidak jauh mengenai ikhlas. Sebuah tulisan kecil dari pemikiran dan pengalaman yang terjadi. Nyata, tanpa tedeng aling-aling. Yang mengajariku membuat kata-kata bualan, munafik, gersang hingga subur, nyata, hemat bermanfaat.
Untuk menjadi seseorang yang cantik, untuk menyebut bahwa I’m Beautiful dan disebut You’re Beautiful... Tidak segampang pada konsep Blackberry, rebonding, make up minimalis, high heels, mani-paddicure, spa, etc.

James Blunt at You’re Beautiful :
But I won't lose no sleep on that,
'Cause I've got a plan
You're beautiful. You're beautiful.
You're beautiful, it's true.
'Cause I'll never be with you.



Membuat diri menjadi cantik yang sebenarnya memang tidak cantik, bukankah itu ironi munafik seseorang yang tidak mampu menerima keadaan? Menerima. Selalu pada teori menerima! Itu sudah definisi dari ikhlas. Untuk mempercayai apa yang ada, meskipun hal itu seperti ditikam belakang oleh mata pisau.
Teruntuk yang kusebut,
Diriku berterimakasih terhadap semuanya,
Pada yang tak terlihat tapi ada.
Pada yang tak bisa dipercaya tapi nyata ditemui.
Pada yang menyakitiku -terimakasih- untuk kesakitan yang membuatku menjadi lebih kuat.
Pada penyakitku tentu saja -yang selalu menggerogoti tidurku tiap malam- saat aku tertidur lelap.
Pada yang telah meninggalkanku, aku tidak tahu harus berkata apa. Dari dirimulah aku dapat membenci Tuhan, kecewa terhadap-Nya, namun di sisi lain dengan perginya dirimu ke -negeri entah berantah- itu aku justru melek dengan arti-arti sekitarku.
Tahu arti ikhlas -yang meskipun detik ini aku tidak mampu mengikhlaskannmu-, ini dari hati yang terdalam.
Kalau dari mulut, jelas aku mampu tegar- meskipun aku melakukan teater luar biasa di situ untuk meyakinkan -aku baik tanpamu-.
Tapi kau memang tak pernah kembali, bukan karena kau tak mau, atau apa, entahlah. Aku yakin, kau tentunya juga tidak ikhlas. Aku yakin kau tak ikhlas.
Pada hal-hal ramai yang menemaniku, termasuk hujan, yang tergila-gila menemaniku saat duka. Tidak tahu kenapa ia tidak pernah membolos saat mata kuliah sedihku ini.
Mencoba mengikhlaskan kalian dengan senyuman yang -jika agenmu adalah aku- tentu harganya sangat mahal. Jadi aku tidak menjual banyak-banyak padamu.
Oya, terhadap 3 sobat kentalku, bunga tidur -media pertemuanku dengan ‘yang tidak mungkin terulang’- , angan, dan kenangan.
Tidak lupa tetangga terbaikku yang selalu menyapa, kegagalan dan sepupunya, si putus asa.
Yah, beruntungnya aku tidak mengenal penyesalan. Jadi hidupku sekarang cukup puas dan mapan meskipun banyak rasa kecut dan pait -seperti aku mendefinisikan kopi-. Tapi aku tidak mau berhenti untuk mempelajari keindahan di setiap rasa itu.
Menjadi cantik konsep Blackberry mungkin bukan jalanku, -aku juga tidak tahu kenapa- , kadang ada hal yang sulit aku menjelaskannya. Padahal rumusan menghitung luas khatulistiwa dapat dijelaskan, ya?
Dari kalian aku mampu mengucapkan maaf, tolong, dan terimakasih. Dari jatuh aku mampu menghargai sesutu. Dan dari ikhlas aku (mampu) menerima kalian. Alam, aku milikmu, sepenuhnya aku milikmu, dan aku tidak akan menentangmu.
Karena aku dan kamu, dia, juga ruh yang tidak mungkin menentang alam.
Bagiku ’cause I’ll never be with you’ adalah cara aku menjadi cantik, karena ikhlas.

Sabtu, September 19, 2009

Aku Tahu

Karena aku tahu apa yang kamu pikirkan mengenai keputusanku
Karena aku tahu kau begitu mengasihiku
menyayangku
mencitaku
Karena aku tahu betapa kau enggan aku menjadi seperti itu
Tapi aku tidak memungkiri apa yang menjadi keputusanku bisa jadi salah
Kamu terlalu khawatir,
bimbang,
ragu,
dan makin tidak percaya padaku
Tapi setidaknya kau mau mendengarkan pendapatku
pikiranku
dan perasaanku
Yang kadang aku masih ragu dan tidak mengerti realiti,
mengapa begini, mengapa begitu
Bahasa masih menjadi monsternya
Ketika sebuah arti mengenai bahasa belum diketahui
Mengapa setan tidak dibaca tuhan?
Siapakah yang mengartikan huruf?
Dan bagaimana huruf mampu menjadi sebuah kata
lalu menjadi kalimat
lalu menjadi paragraf
setelah itu
alinea?

Apakah bahasa menjadi kacau sejak allah murka
mengguncang menara Babilonia?

Baudrillard mengatakan : kita tak bisa mencintai yang "sama" habis-habisan,
tapi
kita juga tak bisa memeranginya habis-habisan

Girrard mengatakan : ...bahwa sesuatu pun dijadikan korban,
agar bencana tak terjadi.
Korban itu adalah selembar kaus. Di akhir pertandingan, Ronaldo atau Klose akan mencopotnya
dan memberikannya kepada pemain lawan. Benda ini identitasku, ia bagian dari narsisme dalam diriku,
ia berbau keringatku dan kena sedikit panu di kulitku, tapi ia kulepas,
kuberikan padamu.

Pramoedya Ananta Toer mengatakan : "...ah ya, apa pula salahnya mati?"

Bahasa adalah sejarah yang penuh dengan cerita sesat, makna yang berkelok, dan ambigu, rambu-rambu palsu.

Belum lagi mengenai L'homme revolte : "Aku berontak, maka kita ada."

karena-karena itu muncul membelah diri seperti amuba
yang sebenarnya,
--tak sadarkah kau--
bahwa kita sekarang sedang dipermainkan oleh bahasa?

Aku bilang pemikiran yang selalu salah, tapi kau bayangkan betapa hal ini bahasa lebih luar biasa
berdosa
daripada pemikiranku?

Ah ya, satu lagi.
Apakah menurutmu, pemikiranku selalu berdosa?

Aku tahu kau begitu
Karena aku tahu apa yang kamu pikirkan mengenai keputusanku
Karena aku tahu kau begitu mengasihiku
menyayangku
mencitaku
Karena aku tahu betapa kau enggan aku menjadi seperti itu
Tapi aku tidak memungkiri apa yang menjadi keputusanku bisa jadi salah
Kamu terlalu khawatir,
bimbang,
ragu,
dan
aku semakin tahu kau sulit mempercayai keputusanku
untuk mengejar mimpiku
cita-citaku
keinginanku

dan prinsip hidupku
Selamat buat temanku...
Selamat atas kelahiran putramu sehari yang lalu...
Selamat menempuh hidup baru...
Selamat atas kedewasaan otakmu...
Selamat atas pertarunganmu dengan-Nya, yang ternyata kau memenangkan pertandingan ini...
Selamat atas semuanya...
Betapa aku bangga terhadapmu...
Terhadap kekuatanmu,
pemikiranmu,
yang sangat sangat luar biasa...

Kau inspirasiku,
kau yang mengajariku arti hidup
arti kematian
dan arti kehilangan...

Selamat teman atas hal itu...
Aku di sini tulus mengucapkan rasa-rasa tersebut...
dan mendoakan supaya hidupmu-yang masih jauh- itu terus berlangsung,
terus indah,
terus menghidupi aku yang tak hidup ini...

Loyalitas Kerja

Sebagaimana dalam sebuah komitmen, sebuah perjanjian kerja yang ditandai dengan kontrak, pasti tidak jauh dari kesepakatan bersama untuk memperoleh hasil yang maksimal dalam bekerja. Kualitas dalam kerja berlomba-lomba untuk menunjukkan bahwa loyalitas bekerja merea yang paling ideal.
Loyalitas merupakan komitmen utama yang harus ditangkap konsumen sehingga dalam kaitannya, pengembangan Sumber Daya Manusia juga terus ditingkatkan. Merupakan suatu keberadaaan yang sungguh-sungguh dan konsisten sehingga tujuan perusahaan -yang mencari keuntungan- memang menguntungkan perusahaan tersebut.
Untuk mencapai kadar loyalitas tinggi tentu saja hal pelatihan pengembangan diri tidak boleh hanya ditanamkan pada satu pihak “buruh” atau “majikan”. Pekerja atau pengusaha. Demi mempertahankan dan meningkatkan kualitasnya, kedua unsur perusahaan ini dapat mengembangkan dirinya untuk menjadi seorang pemimpin sejati dalam perusahaannya.
Apabila hal pemahaman “pemimpin” masih belum seimbang, maka kredibilitas, integritas, dan kematangan pribadi pimpinan di mata seorang pekerja masih nol besar. Jadi kesimpulannya loyalitas dalam bekerja dilihat dari apa dan siapa. Contohnya loyalitasjuga tidak jauh dapat dipengaruhi oleh semangat. Dan semangat mendapatkan benefit. Kejelasan hak dan tanggung jawab yang diterima sangat mempengaruhi loyalitas dalam bekerja.

Selasa, September 15, 2009

IKHLAS

Bagaimana sebuah ikhlas dipertanyakan?
Ilmu keikhlasan sering saya jumpai. Boleh dibilang ini ilmuyang paling susah setelah ilmu bahasa. Mendefinisikan sebuah ikhlas tentu tidak jauh dari peran serta jiwa besar di dalamnya. Mengikhlaskan sesuatu, dalam ajaran Islam, sangat-sangat berat dan memerlukan suatu daya “nrimo” yang lapang, luas, dan tanpa pamrih. Mengajak hal-hal yang bertentangan dengan pikiran, hati, dan emosi untuk memberi kesempatan terhadap jiwa untuk memberikan suaranya.
Ikhlas berarti mempercayai bahwa Tuhan akan memberi kita sesuatu yang lebih baik, lebih banyak, dan lebih berharga dari yang sebelumnya. Padahal ada jiwa yang kadang begitu sulit untuk ikhlas/mengikhlaskan sesuatu, sehingga ada suatu dilema yang ujung paling mengerikan adalah tidak percaya lagi pada Tuhan.
Tentu hal barusan bukan ikhlas namanya.
Ikhlas itu tulus, tak terperi, mampu mengatakan “Yo wes, meh piye neh???” (“Ya sudah, mau apa lagi?”
Seakan-akan hal itu adalah pilihan hidup dan mati yang hanya terjadi 1x di dunia!
Seakan-akan pemberi kuasa tidak mengijinkan kita untuk menghirup udara kedua dan ketiga setelah hal tersebut terjadi! Sesungguhnya, siapakah itu yang ironis dan licik?
Ikhlas bukan membutuhkan mata, apalagi hati.
Ikhlas adalah mempercayai bahwa dengan merelakan sesuatu, kita akan lebih bahagia, lebih indah. Secara teoritik yang munafik.
Apa mampu kita bahagia dengan luka menganga, hati hancur berkeping-keping, dan jalan terseok-seok?
Tentu sulit.
Tapi dengan sebuah ikhlas, itulah hal yang membuat penderitaan tersebut justru menjadi lebih indah. Sangat indah. Dan di sini peran Tuhan akan menjadi anugerah, bukan sekedar pencabut kebahagiaan.